Menu

Mode Gelap
DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Bolmut · 8 Jul 2025 10:21 WITA ·

Inspirasi Prabowo Subianto Tentang Keberanian Sejati Nelson Mandela : Perlawanan Tanpa Dendam


Inspirasi Prabowo Subianto Tentang Keberanian Sejati Nelson Mandela : Perlawanan Tanpa Dendam Perbesar

Foto : Presiden RI Prabowo Subianto di acara St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di St Petersburg, Rusia.

Bolmong Utara, Sulutnews.com – Presiden Prabowo Subianto saat menjawab singkat pertanyaan wartawan seusai menghadiri St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di St Petersburg, Rusia, Jumat (20/6/2025) sore waktu setempat.

Sosok Nelson Mandela, menurut Prabowo, adalah inspirasi utama dalam pendekatannya terhadap lawan politik ataupun konflik masa lalu. Selain menginspirasi, Mandela disebut sebagai salah satu tokoh panutan terbesar dan pahlawan terbesar.

”Kebesaran Nelson Mandela adalah bahwa ketika ia keluar dari penjara, ia bekerja untuk rekonsiliasi dengan musuh-musuh lamanya. Inilah keagungan Nelson Mandela. Dan, itu pula yang saya coba terapkan dalam politik dalam negeri saya,” tutur Prabowo menjawab pertanyaan moderator.

Foto : Presiden Afrika Selatan 1994-1999.
Nelson Mandela

Kita ketahui bersama, ketika Nelson Mandela melangkah keluar dari Penjara Victor Verster pada 11 Februari 1990, dunia menyaksikan momen bersejarah yang lebih dari sekadar pembebasan seorang tahanan politik.

Itu adalah kemenangan moral seorang pejuang keadilan yang, alih-alih menyulut kebencian dan balas dendam, memilih jalan rekonsiliasi.

Mandela bisa saja menggunakan kekuatannya untuk membalas rezim apartheid yang telah merampas kebebasannya selama 27 tahun, tetapi ia justru mengambil langkah yang jauh lebih sulit, memaafkan dan membangun kembali negerinya.

Mandela menyadari bahwa dendam hanya akan menciptakan siklus kekerasan yang tak berujung. Dalam pidatonya setelah dibebaskan, ia menegaskan:

“Saat saya berjalan keluar menuju gerbang penjara, saya tahu bahwa jika saya tidak meninggalkan kepahitan dan kebencian saya di belakang, maka saya masih tetap terpenjara.”

Sikap ini tidak hanya mencerminkan kebesaran jiwanya tetapi juga strategi politik yang cerdas.

Afrika Selatan, yang selama puluhan tahun berada dalam sistem segregasi brutal, sangat rentan terhadap perang saudara antara mayoritas kulit hitam dan minoritas kulit putih yang selama ini memegang kekuasaan.

Foto : Nelson Mandela bersama isteri

Jika Mandela memilih jalur konfrontasi, negara itu bisa jatuh dalam kekacauan seperti yang terjadi di beberapa negara lain pasca-rezim otoriter.

Paus Yohanes Paulus II pernah mengomentari pendekatan Mandela ini dengan mengatakan:

“Pengampunan bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi keberanian dan kekuatan sejati.”

Mandela memahami bahwa perdamaian hanya bisa dicapai dengan mengatasi kebencian, bukan memperpanjangnya.

Salah satu langkah konkret Mandela untuk mencegah perpecahan adalah mendirikan Truth and Reconciliation Commission (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) pada 1995.

Alih-alih memburu dan menghukum semua pejabat rezim apartheid, Mandela mendukung gagasan Desmond Tutu untuk memberikan kesempatan kepada pelaku kejahatan apartheid mengakui kesalahannya di hadapan publik dan meminta pengampunan.

Dalam sesi-sesi pengakuan ini, banyak korban apartheid yang berhadapan langsung dengan orang-orang yang dulu menyiksa mereka.

Proses ini sulit dan menyakitkan, tetapi menjadi fondasi bagi rekonsiliasi nasional. Desmond Tutu, yang memimpin komisi ini, berkata:

“Tidak ada masa depan tanpa pengampunan.”

Pendekatan ini mendapat pujian luas dari berbagai pemimpin dunia, termasuk mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, yang menyebutnya sebagai “salah satu eksperimen paling berani dalam keadilan transisi.” *** GG

Artikel ini telah dibaca 1,555 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penutupan Pendidikan & Pelatihan BCKS Telah Berakhir Siap Menjadi Calon Kepala Sekolah Berkompeten

17 April 2026 - 17:00 WITA

Ketua Partai Gerindra Bolmong Utara Reba Ponto Berduka, Isterinya Meninggal Dunia

16 April 2026 - 20:19 WITA

Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Tahun 2026

15 April 2026 - 23:22 WITA

Legislator Dewi Sandra Astuti Melaksanakan Doa Syukur Menempati Rumah Baru

10 April 2026 - 20:48 WITA

Mengapa RUU Masyarakat Adat Ditunda Terus Menerus ?

10 April 2026 - 10:07 WITA

Sakralnya Ijab Kabul Dalam Pernikahan Disaksikan Allah & RasulNya Serta Malaikat

9 April 2026 - 15:13 WITA

Trending di Bolmut