
Foto : Presiden RI Prabowo Subianto di acara St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di St Petersburg, Rusia.
Bolmong Utara, Sulutnews.com – Presiden Prabowo Subianto saat menjawab singkat pertanyaan wartawan seusai menghadiri St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di St Petersburg, Rusia, Jumat (20/6/2025) sore waktu setempat.
Sosok Nelson Mandela, menurut Prabowo, adalah inspirasi utama dalam pendekatannya terhadap lawan politik ataupun konflik masa lalu. Selain menginspirasi, Mandela disebut sebagai salah satu tokoh panutan terbesar dan pahlawan terbesar.
”Kebesaran Nelson Mandela adalah bahwa ketika ia keluar dari penjara, ia bekerja untuk rekonsiliasi dengan musuh-musuh lamanya. Inilah keagungan Nelson Mandela. Dan, itu pula yang saya coba terapkan dalam politik dalam negeri saya,” tutur Prabowo menjawab pertanyaan moderator.
Kita ketahui bersama, ketika Nelson Mandela melangkah keluar dari Penjara Victor Verster pada 11 Februari 1990, dunia menyaksikan momen bersejarah yang lebih dari sekadar pembebasan seorang tahanan politik.
Itu adalah kemenangan moral seorang pejuang keadilan yang, alih-alih menyulut kebencian dan balas dendam, memilih jalan rekonsiliasi.
Mandela bisa saja menggunakan kekuatannya untuk membalas rezim apartheid yang telah merampas kebebasannya selama 27 tahun, tetapi ia justru mengambil langkah yang jauh lebih sulit, memaafkan dan membangun kembali negerinya.
Mandela menyadari bahwa dendam hanya akan menciptakan siklus kekerasan yang tak berujung. Dalam pidatonya setelah dibebaskan, ia menegaskan:
“Saat saya berjalan keluar menuju gerbang penjara, saya tahu bahwa jika saya tidak meninggalkan kepahitan dan kebencian saya di belakang, maka saya masih tetap terpenjara.”
Sikap ini tidak hanya mencerminkan kebesaran jiwanya tetapi juga strategi politik yang cerdas.
Afrika Selatan, yang selama puluhan tahun berada dalam sistem segregasi brutal, sangat rentan terhadap perang saudara antara mayoritas kulit hitam dan minoritas kulit putih yang selama ini memegang kekuasaan.
Jika Mandela memilih jalur konfrontasi, negara itu bisa jatuh dalam kekacauan seperti yang terjadi di beberapa negara lain pasca-rezim otoriter.
Paus Yohanes Paulus II pernah mengomentari pendekatan Mandela ini dengan mengatakan:
“Pengampunan bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi keberanian dan kekuatan sejati.”
Mandela memahami bahwa perdamaian hanya bisa dicapai dengan mengatasi kebencian, bukan memperpanjangnya.
Salah satu langkah konkret Mandela untuk mencegah perpecahan adalah mendirikan Truth and Reconciliation Commission (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) pada 1995.
Alih-alih memburu dan menghukum semua pejabat rezim apartheid, Mandela mendukung gagasan Desmond Tutu untuk memberikan kesempatan kepada pelaku kejahatan apartheid mengakui kesalahannya di hadapan publik dan meminta pengampunan.
Dalam sesi-sesi pengakuan ini, banyak korban apartheid yang berhadapan langsung dengan orang-orang yang dulu menyiksa mereka.
Proses ini sulit dan menyakitkan, tetapi menjadi fondasi bagi rekonsiliasi nasional. Desmond Tutu, yang memimpin komisi ini, berkata:
“Tidak ada masa depan tanpa pengampunan.”
Pendekatan ini mendapat pujian luas dari berbagai pemimpin dunia, termasuk mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, yang menyebutnya sebagai “salah satu eksperimen paling berani dalam keadilan transisi.” *** GG









