Tahuna, Sulutnews.com – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di wilayah kepulauan Kabupaten Sangihe. Di Kecamatan Tatoareng, sedikitnya empat kampung dilaporkan mengalami krisis air bersih yang kian hari semakin memprihatinkan.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas harian warga, tetapi juga mulai mengancam kesehatan dan ketahanan hidup masyarakat setempat.

Empat kampung yang terdampak masing-masing Kampung Kahakitang, Kampung Dalako Bembanehe, Kampung Kalama Lindongan III, serta Kampung Para I di Pulau Salingekere.
Di Kampung Kahakitang, warga mulai mengalami kekurangan air untuk kebutuhan konsumsi. Selama ini mereka mengandalkan air hujan yang ditampung di bak-bak penampungan. Namun, hampir sebulan tanpa hujan membuat cadangan air semakin menipis dan menimbulkan kekhawatiran serius di tengah masyarakat.

Sementara itu di Kampung Dalako Bembanehe, warga harus berupaya keras memenuhi kebutuhan air bersih. Sebagian masih memanfaatkan bak penampungan yang memiliki sumber air, namun di sejumlah titik sumber tersebut mulai mengering. Alternatifnya, warga terpaksa mengambil air dari mata air di wilayah Makurese dengan medan yang cukup sulit karena berada di area menurun dekat pantai.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Kampung Kalama Lindongan III. Kapitalaung Kalama, Eksplandriks Kahimpong, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki sumber mata air sama sekali.
“Khusus di Lindongan III, warga sangat membutuhkan suplai air bersih. Di sana tidak ada mata air, jadi masyarakat benar-benar bergantung pada bantuan dari luar. Kalau tidak segera ditangani, ini bisa menjadi krisis yang lebih besar,” ujarnya.
Situasi serupa juga dirasakan warga Kampung Para I Pulau Salingekere yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan dasar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sangihe, Wandu Labesi, mengatakan pihaknya siap untuk menyalurkan bantuan air bersih, namun masih menunggu laporan resmi dari pemerintah kecamatan maupun kampung terdampak.
“Kami siap menyuplai kebutuhan air bersih ke wilayah kepulauan Tatoareng. Namun saat ini kami masih menunggu data dan permohonan resmi dari pemerintah setempat. Jika data sudah masuk, kami akan segera bergerak, termasuk mempertimbangkan penetapan status bencana daerah,” jelas Labesi.

Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Tatoareng melalui Sekretaris Kecamatan, Redtnus Makamea, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pendataan terhadap kampung-kampung yang mengalami krisis air bersih sekaligus mempersiapkan pengajuan permohonan bantuan ke pemerintah kabupaten melalui BPBD.
“Saat ini kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kampung untuk memastikan data yang akurat terkait wilayah terdampak. Kami juga sedang menyiapkan permohonan resmi bantuan air bersih ke pemerintah kabupaten melalui BPBD agar penanganan bisa segera dilakukan. Harapan kami, bantuan dapat segera disalurkan mengingat kondisi masyarakat sudah mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ungkap Makamea.
Krisis air bersih yang melanda Kecamatan Tatoareng membawa dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Selain mengganggu kebutuhan dasar seperti minum, memasak, dan mandi, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan akibat keterbatasan sanitasi.
Warga mulai menghemat penggunaan air secara ketat, bahkan ada yang mengurangi frekuensi mandi dan mencuci. Aktivitas ekonomi seperti pertanian skala kecil dan peternakan rumah tangga turut terdampak karena keterbatasan air.
Di sektor pendidikan, anak-anak harus membantu orang tua mencari air sebelum berangkat sekolah, yang berpotensi mengganggu proses belajar mereka. Sementara bagi lansia dan kelompok rentan, kondisi ini semakin memperberat beban hidup sehari-hari.
Jika kemarau berlangsung lebih lama tanpa penanganan cepat, krisis air ini dikhawatirkan akan berkembang menjadi bencana kemanusiaan skala lokal.
Masyarakat di wilayah kepulauan Tatoareng kini berharap adanya respon cepat dari pemerintah daerah. Bantuan distribusi air bersih dinilai menjadi solusi paling mendesak untuk meringankan beban warga.
“Kami sangat berharap pemerintah segera membantu. Air ini kebutuhan utama, tanpa air kami tidak bisa berbuat banyak,” ungkap Hitler Kaunsui Warga Dalako Bembanehe.
Dengan kondisi geografis kepulauan yang cukup menantang, penanganan krisis air di Tatoareng membutuhkan koordinasi cepat dan langkah konkret agar dampak kemarau tidak semakin meluas. (Andy Gansalangi)








