Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

NTT · 1 Feb 2025 22:28 WITA ·

Gajah Mati Tinggalkan Gading Harimau Mati Tinggalkan Belang, Masa Jabatan Pj Bupati Rote Ndao Berakhir Meninggalkan Luka Mendalam


Gajah Mati Tinggalkan Gading Harimau Mati Tinggalkan Belang, Masa Jabatan Pj Bupati Rote Ndao Berakhir Meninggalkan Luka Mendalam Perbesar

Rote Ndao,Sulutnews.com — Masa jabatan Penjabat Bupati Rote Ndao, Oder Max Sombu, yang akan berakhir pada tanggal 16 Februari 2025, kian dihitung-hitung oleh masyarakat setempat.

Ada Kata Bijak : Gaja Mati Meninggalkan  Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, namun di masa kepemimpinan Penjabat Bupati Rote Ndao kali ini tidak meninggalkan kesan membahagiakan, melainkan luka mendalam akibat dugaan penyalahgunaan wewenang oleh dua oknum staff ahli pembantu Penjabat Bupati Rote Ndao

Menurut berbagai laporan, kelompok nelayan yang seharusnya mendapat bantuan berupa sampan untuk menunjang aktivitas mereka, merasa sangat dikecewakan. Proposal bantuan yang telah disiapkan dengan susah payah oleh para nelayan—mulai dari pembuatan, pencetakan, hingga pengantaran—diduga sengaja dicoret dan diabaikan oleh dua staff ahli, yakni Jhony dan Marthen Mullik.

“Kami kelompok nelayan sangat kecewa dengan kinerja staff ahli Bapa Penjabat Bupati Oder Max Sombu. Kami buat sendiri proposal, print sendiri, beli materai sendiri, dan kami antar sendiri. Bukan seperti orang-orang yang mendapat sampan-sampan hari ini,” ungkap salah satu perwakilan kelompok nelayan dengan meneteskan air mata.

Dalam keterangan kepada media, Jhony, salah satu staff ahli Penjabat Bupati Rote Ndao, menjelaskan bahwa penolakan proposal bukan semata-mata soal proses administratif, melainkan disebabkan oleh keterbatasan bantuan yang tersedia. “Kalau bantuan sampan-nya hanya 10, sedangkan proposal yang masuk ada 100, tidak mungkin semua bisa dicukupi.Jadi bagi saudara-saudara yang belum kebagian, tolong bersabar dan menunggu saja,” jelasnya.

Jhony menambahkan, “Seperti tadi saya bilang, kalau proposal 100 sedangkan bantuan sampan hanya 10, kita mau bagi seperti apa?” Pernyataan ini menimbulkan kekecewaan mendalam dari kelompok nelayan, yang merasa bantuan seharusnya didistribusikan secara adil tanpa diskriminasi.

Masyarakat setempat kini berharap agar permasalahan ini dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyerahan tugas mendatang. Banyak pihak yang mengharapkan adanya transparansi dan keadilan dalam pengalokasian bantuan, terutama di masa transisi kepemimpinan yang begitu krusial.

Masa jabatan Oder Max Sombu yang sebentar lagi akan berakhir menyisakan pertanyaan besar mengenai integritas dan kinerja jajaran staf pendamping. Harapan pun kini tertuju pada pemerintahan berikutnya agar lebih mampu menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti nelayan yang sangat bergantung pada dukungan pemerintah untuk kesejahteraan hidup mereka.

Reporter: Dance Henuk

Artikel ini telah dibaca 1,447 kali

Baca Lainnya

Di Rumah Jabatan Bupati Rote Ndao Segera Diadakan Festival Keluarga Malole: Wujudkan Pengasuhan Penuh Kasih dan Disiplin Positif

22 Mei 2026 - 17:25 WITA

Anggaran Rp927 Juta untuk Tenaga Outsourcing Rumah Jabatan

21 Mei 2026 - 00:15 WITA

Melayani Profesional Terpercaya Azis Barawasi Berikan Kepastian Hukum Hak Tanah Masyarakat

20 Mei 2026 - 17:19 WITA

Proses Penerbitan Sertipikat Tanah di Kantor Pertanahan Rote Ndao

20 Mei 2026 - 16:41 WITA

Merasa Kebal Hukum Tarik Motor yang Hampir Lunas, Konsumen Diarahkan Kredit Baru Pakai Nama Orang Lain

20 Mei 2026 - 16:04 WITA

Dua Perwira Tidak Suka Dipuji Langkah Sederhana Penuh Ketulusan

20 Mei 2026 - 11:52 WITA

Trending di Kepolisian