Menu

Mode Gelap
DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Bolmut · 26 Jul 2025 12:37 WITA ·

Penyebab Peradilan Sesat Di Indonesia


Foto : ilustrasi peradilan sesat (sumber: hukumonline) Perbesar

Foto : ilustrasi peradilan sesat (sumber: hukumonline)

Bolmong Utara, Sulutnews.com – Peradilan sesat dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kesalahan dalam identifikasi saksi, penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak berwenang, kekurangan bukti atau bukti palsu, dan bias dalam sistem peradilan. Sabtu (26/07/2025).

Selain itu, faktor lain seperti kurangnya pengawasan dalam sistem peradilan pidana, kualitas penegak hukum yang rendah, dan manajemen waktu yang buruk di pengadilan juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya peradilan sesat. 

Tuntutan jaksa dan keputusan pengadilan sesat, seperti meyakinkan publik bahwa rasa gula itu tidak manis, garam itu tidak asin.

Berikut adalah beberapa penyebab peradilan sesat yang lebih rinci dilansir dari berbagai sumber media publik.

1. Kesalahan dalam Fakta Hukum:

  • Kesalahan identifikasi saksi:
    Kesaksian saksi mata yang salah atau tidak akurat, yang mungkin disebabkan oleh tekanan psikologis, prasangka, atau ingatan yang buruk, dapat mengarah pada kesalahan hukuman.
  • Bukti yang tidak lengkap atau palsu:
    Penggunaan bukti yang tidak cukup atau dipalsukan, baik sengaja maupun tidak, dapat menyesatkan hakim dan juri.
  • Fakta yang tidak lengkap atau keliru:
    Fakta-fakta yang disampaikan ke pengadilan mungkin tidak lengkap atau bahkan salah, yang dapat menyebabkan putusan yang tidak adil.
     

2. Penyalahgunaan Kekuasaan dan Kewenangan:

  • Penyalahgunaan wewenang oleh aparat penegak hukum:
    Penyiksaan, pemaksaan, atau penggunaan bukti yang diperoleh secara tidak sah oleh polisi atau jaksa dapat menyebabkan peradilan sesat.
    Istilah peradilan sesat berasal dari kalimat dalam bahasa Belanda,

    Rechterlijke Dwalingyang berarti “kesesatan hakim” dalam Bahasa Indonesia.

  • Penggunaan kata “hakim” sebagai padanan kata rechterlijke digunakan mengingat pentingnya kedudukan hakim dalam sebuah peradilan. Sebagai pengendali dari sebuah proses peradilan, hakim bertanggung jawab sepenuhnya jika terjadi kesalahan pemeriksaan perkara di pengadilan, di mana berdampak pada keputusan yang keliru, yang merugikan orang yang tidak bersalah atau menghasilkan keputusan sesat. RRI.co.id – Peradilan Sesat: Sejarah dan Definisinya
  • Minimnya pengawasan:
    Kurangnya pengawasan terhadap tindakan aparat penegak hukum, seperti penyidik dan penuntut umum, dapat menyebabkan penyalahgunaan wewenang.

3. Bias dalam Sistem Peradilan:

  • Bias rasial, etnis, agama, atau sosial: Prasangka atau bias berdasarkan faktor-faktor ini dapat memengaruhi keputusan hakim dan juri.
  • Diskriminasi: Perlakuan yang tidak adil terhadap terdakwa karena faktor-faktor tertentu.

4. Faktor Lain:

  • Kualitas penegak hukum yang rendah:
    Kurangnya profesionalisme dan moralitas aparat penegak hukum dapat menyebabkan kesalahan dalam penegakan hukum.
  • Manajemen waktu yang buruk di pengadilan:
    Keterlambatan dan pemborosan waktu dalam persidangan dapat mengurangi kualitas pemeriksaan perkara dan memicu praktik mafia hukum.

https://www.antikorupsi.org/id/article/kondisi-pengadilan-pemborosan-waktu-jadi-penyakit-di-pengadilan

  • Kurangnya pemahaman tentang hak-hak terdakwa:
    Terdakwa mungkin tidak menyadari hak-hak mereka, terutama dalam kasus prodeo (bantuan hukum gratis), yang dapat menyebabkan mereka tidak mendapatkan pendampingan hukum yang seharusnya.
    Pengadilan Sesat, Revisi KUHAP Menjawab
  • Sistem peradilan yang rumit:
    Sistem peradilan yang kompleks dan sulit dipahami oleh masyarakat awam dapat menyebabkan ketidakpercayaan terhadap sistem. 

Peradilan sesat adalah masalah serius yang dapat merugikan individu dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan.

Oleh karena itu, penting untuk terus berupaya memperbaiki sistem peradilan dan memastikan penegakan hukum yang adil dan transparan. 

https://icjr.or.id/potensi-peradilan-sesat-masih-tinggi-pengaturan-peninjauan-kembali-perlu-dibenahi/

Dampak dari peradilan sesat sangat luas. Dalam aspek materiil, pihak yang dirugikan bisa mengalami kehilangan hak atas harta, tanah, atau aset yang seharusnya menjadi miliknya.

Dalam aspek non-materiil, mereka bisa mengalami tekanan psikologis, kehilangan reputasi, hingga trauma sosial.

Paling berbahaya, kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum bisa terkikis. Ketika hukum tidak lagi dipercaya, maka supremasi hukum yang menjadi fondasi negara demokrasi akan rapuh.

Untuk itu, reformasi sistem peradilan harus terus diperkuat. Pengawasan terhadap hakim, jaksa, dan penyidik perlu ditingkatkan, baik secara internal maupun eksternal.

Etika profesi harus ditegakkan, dan sanksi terhadap pelanggaran hukum harus diberlakukan secara tegas.

Jika kita kaji kembali tuduhan terhadap Tom Lembong menjadi dalang tunggal korupsi impor gula, awal penangkapan dan penahanan, mengabaikan fakta persidangan.

Screenshot

Publik telah menilai proses persidangan sesat tipikor terhadap Tom Lembong menjadi polemik dalam sejarah juriprudensi peradilan Indonesia.

Podium Media Indonesia: Tom Lembong

Jika dianalogikan tuntutan Jaksa ada unsur korupsi impor gula itu rasanya gula itu pahit bagi Tom Lembong,  serta sia sekata dengan keputusan majelis hakim telah memutuskan perkara korupsi impor gula itu rasanya gula itu tidak manis, salah kapra. *** GG

Artikel ini telah dibaca 1,598 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penutupan Pendidikan & Pelatihan BCKS Telah Berakhir Siap Menjadi Calon Kepala Sekolah Berkompeten

17 April 2026 - 17:00 WITA

Ketua Partai Gerindra Bolmong Utara Reba Ponto Berduka, Isterinya Meninggal Dunia

16 April 2026 - 20:19 WITA

Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Tahun 2026

15 April 2026 - 23:22 WITA

Legislator Dewi Sandra Astuti Melaksanakan Doa Syukur Menempati Rumah Baru

10 April 2026 - 20:48 WITA

Mengapa RUU Masyarakat Adat Ditunda Terus Menerus ?

10 April 2026 - 10:07 WITA

Sakralnya Ijab Kabul Dalam Pernikahan Disaksikan Allah & RasulNya Serta Malaikat

9 April 2026 - 15:13 WITA

Trending di Bolmut