Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News : Polnustar Kembali Mewisuda 136 Mahasiswa Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau

Sangihe · 25 Sep 2026 23:44 WITA ·

RADS 2026 Sukses Digelar, Gaungkan Jaga dan Lestarikan Alam Sangihe


RADS 2026 Sukses Digelar, Gaungkan Jaga dan Lestarikan Alam Sangihe Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Ritual Adat Dalumatehu Sembanua (RADS) 2026 sukses digelar di Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jumat (25/9/2026). Kegiatan yang sarat nilai budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal tersebut berlangsung khidmat dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen yang peduli terhadap pelestarian budaya dan lingkungan di Kepulauan Sangihe.

Rangkaian kegiatan berlangsung meriah melalui berbagai pertunjukan seni tradisional khas Sangihe, seperti musik oli, tagonggong, sasambo, gunde, masamper, hingga ampa wayer. Penampilan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Sangihe yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu penggagas RADS sekaligus Ketua Save Sangihe Island (SSI), Jull Takaliuang, menegaskan bahwa ritual adat tersebut bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam sebagaimana diwariskan oleh para leluhur.

“RADS bukan hanya acara seremonial. Ini adalah panggilan untuk kembali mengingat bagaimana leluhur kita menjaga tanah, hutan, laut, dan seluruh ruang hidup di Sangihe. Mereka mewariskan alam yang lestari kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita pantas mewariskan Sangihe kepada anak cucu kita dalam keadaan alam yang telah rusak? Karena itu, melalui ritual adat ini, kita diajak untuk kembali pada nilai-nilai luhur yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan,” ujar Takaliuang.

Pesan serupa disampaikan tokoh masyarakat Benhard Pilat. Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Sangihe.

“Kita harus tetap menjaga jati diri sebagai masyarakat Sangihe yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama. Di atas semuanya itu, kita harus menyadari bahwa Tuhan adalah pemilik kehidupan dan alam semesta. Sangihe bukan milik segelintir orang, melainkan anugerah Tuhan yang diberikan untuk kita tinggali bersama dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.

Menurut Pilat, segala bentuk keserakahan dalam menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran moral yang diwariskan para leluhur.

“Sangihe bukan sekadar wilayah eksploitasi untuk mengeruk kekayaan alamnya. Sangihe adalah rumah bersama yang harus dijaga, dirawat, dan dilindungi demi keberlangsungan kehidupan seluruh masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, sambutan Bupati Kepulauan Sangihe dibacakan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Wandu Labesi. Dalam sambutan itu, Bupati menegaskan bahwa RADS 2026 merupakan ruang refleksi ekologis yang mengingatkan seluruh masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan.

“RADS menjadi momentum untuk mengingatkan kita agar menjaga hutan, pesisir, dan lautan sebagai ruang hidup bersama. Sangihe adalah rumah yang harus kita rawat dan jaga demi keberlangsungan kehidupan di masa mendatang. Kita harus menjaga sumber daya air, menghentikan perusakan mata air, dan memastikan bahwa ketika Sangihe diwariskan kepada generasi berikutnya, kondisinya tetap utuh dan lestari,” kata Labesi dalam sambutan Bupati.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan terjadinya pencemaran maupun kerusakan lingkungan, karena nilai-nilai kearifan lokal mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Kita harus menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk menjaga dan melindungi Sangihe,” lanjutnya.

Dukungan terhadap upaya pelestarian lingkungan juga disampaikan perwakilan Mama Aleta Fund wilayah Indonesia Timur, Siti Maemunah. Dalam sambutannya, ia menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga ruang hidup dan keberlanjutan lingkungan.

“Alam adalah sumber kehidupan yang harus dirawat sebagaimana kita merawat tubuh kita sendiri. Perempuan di berbagai daerah di Indonesia terus berjuang menjaga alam demi masa depan generasi berikutnya. Ketika semangat mulai melemah, kita harus mengingat bahwa perjuangan ini tidak dilakukan sendirian. Ketika rakyat bersatu, tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan semangat menjaga kehidupan. Rakyat bersatu untuk menyelamatkan Pulau Sangihe,” ujarnya.

Keberhasilan penyelenggaraan RADS 2026 menjadi bukti bahwa kecintaan masyarakat terhadap tanah leluhur, budaya, dan kelestarian lingkungan masih terjaga dengan kuat. Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan bersama dalam menjaga Sangihe sebagai rumah yang lestari bagi generasi kini dan mendatang.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Turut hadir unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sejumlah kepala perangkat daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para pemuda.

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan kuatnya komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai adat, budaya, dan kelestarian lingkungan di Tanah Tampungang Lawo. Sepanjang pelaksanaan ritual, para peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Suasana kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong terasa mewarnai seluruh rangkaian acara. Hal ini menjadi penegasan bahwa adat dan budaya tidak hanya tetap hidup di tengah masyarakat Sangihe, tetapi juga terus menjadi sumber inspirasi dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan bersama. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Triwulan II Pertumbuhan Ekonomi Sangihe Mengalami Perlambatan

25 September 2026 - 17:20 WITA

Akankah Penyelundupan Sianida di Perbatasan Sangihe-Filipina Berakhir?

25 September 2026 - 15:27 WITA

Ketua DPC, DRT: PDIP Sangihe Solid Sambut Kedatangan Ketum Megawati

25 September 2026 - 09:34 WITA

Drama KM Tampungan Lawo Bernilai Rp11 Miliar Kini Rp600 Juta, Kejari Diminta Turun Tangan

24 September 2026 - 13:26 WITA

PDAM Ake U Banua Ekstra Time Layani Masyarakat Kekurangan Air Bersih

23 September 2026 - 18:52 WITA

RADS 2026 Digelar di Tamako, Jadi Ruang Syukur dan Seruan Jaga Tanah Leluhur Sangihe

23 September 2026 - 15:58 WITA

Trending di Adat Budaya