Tahuna, Silutnews.com – Masyarakat adat Sangihe kembali akan menggelar Ritual Adat Dalumatehu Sembanua (RADS) pada Jumat, (25 /09/2026, di Rumah Resort GMIST Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kegiatan tahunan ini menjadi momentum ungkapan syukur sekaligus doa bersama untuk keselamatan tanah leluhur dan kelestarian lingkungan hidup di Kepulauan Sangihe.
Ritual adat yang memasuki pelaksanaan keempat kalinya ini lahir dari refleksi dan kesadaran para tetua adat Sangihe akan pentingnya menjaga warisan budaya serta ruang hidup masyarakat dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan. Nama Dalumatehu Sembanua sendiri diberikan oleh tetua adat Sangihe, Niklas Mehare, dan dilaksanakan satu kali setiap tahun sebagai bentuk doa kepada Ghenggonalangi (Sang Khalik), leluhur, dan semesta.
Dalam dokumen Term of Reference (TOR) kegiatan disebutkan, ritual ini berangkat dari kecintaan masyarakat terhadap tanah Sangihe yang memiliki keanekaragaman hayati penting secara global dan menjadi jalur migrasi berbagai jenis satwa laut maupun burung. Di sisi lain, masyarakat menilai keberadaan aktivitas industri ekstraktif berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.
Salah satu penggagas Ritual Adat Dalumatehu Sembanua sekaligus Ketua Save Sangihe Island (SSI), Jull Takaliuang, mengatakan bahwa ritual adat tersebut merupakan bentuk ikhtiar masyarakat adat untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam serta merawat warisan leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.
“Dalumatehu Sembanua bukan sekadar kegiatan budaya tahunan. Ini adalah ruang doa, refleksi, dan pengingat bagi kita semua bahwa tanah, laut, hutan, dan seluruh kekayaan alam Sangihe adalah titipan leluhur yang harus dijaga bersama demi masa depan generasi berikutnya,” ujar Takaliuang.
Menurutnya, adat dan budaya Sangihe memiliki nilai-nilai luhur yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Karena itu, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan hidup sebagai ruang hidup masyarakat Sangihe.
Mengusung tema “Tanah Leluhur, Nafas Masa Depan”, pelaksanaan RADS 2026 tidak hanya menghadirkan prosesi ritual adat, tetapi juga kegiatan edukatif bagi generasi muda. Sebelum ritual dimulai, akan digelar workshop dan kelas konservasi keanekaragaman hayati yang difasilitasi oleh Burung Indonesia dan diikuti oleh pelajar serta komunitas pemuda dari berbagai wilayah di Sangihe.
Panitia menjelaskan, tujuan utama ritual ini adalah mengungkapkan rasa syukur atas kekayaan alam Sangihe, menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, memohon perlindungan dari berbagai ancaman bencana, melestarikan tradisi dan kearifan lokal, serta memberikan edukasi ekologis kepada generasi muda.
“Melalui kegiatan ini kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga Sangihe bukan hanya tugas segelintir orang, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Ketika budaya, adat, dan kepedulian terhadap lingkungan terus dirawat, maka harapan akan masa depan Sangihe yang lestari tetap terjaga,” tambah Takaliuang.
Prosesi ritual nantinya akan dipimpin langsung oleh para tetua adat Sangihe, di antaranya Niklas Mehare, Riedel Sipir, Olden Ambui, Niskon Moleh, Yunius Manahempang, dan Ahusta Antarani. Acara juga akan dimeriahkan dengan berbagai atraksi budaya seperti musik tradisional Olri, Masamper, penampilan Grup Empat Wayer, penabuh tagonggong dari berbagai kampung, hingga kegiatan me’bio atau mendongeng bertema “Sangihe Banuaku, Masa Depanku”.
Takaliuang juga mengatakan kegiatan tersebut terbuka untuk umum, dan diberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin berpartisipasi, bahkan ia mengundang masyarakat untuk hadir pada kegiatan adat itu.
Sekitar 500 peserta diperkirakan akan menghadiri kegiatan ini, terdiri dari unsur pemerintah daerah, Dewan Adat Sangihe, tokoh adat, komunitas Save Sangihe Island (SSI), NGO dan LSM, mahasiswa, perwakilan sekolah, komunitas pemuda, serta unsur Sinode GMIST.
Rangkaian kegiatan akan berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Setelah kelas konservasi dan registrasi peserta, prosesi inti Ritual Adat Dalumatehu Sembanua dijadwalkan berlangsung pukul 15.00 hingga 18.00 WITA, dilanjutkan dengan atraksi budaya Sangihe hingga pukul 22.00 WITA.
Melalui pelaksanaan RADS 2026, para tetua adat dan masyarakat berharap nilai-nilai budaya Sangihe yang berlandaskan semangat saling menghargai, mendengar, berhati-hati dalam bertindak, dewasa berpikir, dan bijaksana mengambil keputusan dapat terus diwariskan kepada generasi penerus, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian Pulau Sangihe. (Andy Gansalangi)




