Reporter : Dance Henukh
Sulutnews.com.Rote Ndao – Pembahasan mengenai rencana penggabungan Dinas Peternakan ke dalam Dinas Pertanian perlu dilihat bukan hanya dari aspek efisiensi organisasi, tetapi juga dari sudut pandang visi pembangunan daerah, kepentingan masyarakat, dan arah kebijakan jangka panjang Kabupaten Rote Ndao.
Pertanyaan mendasarnya adalah Apakah pembangunan daerah ingin dijalankan dengan fokus yang jelas sesuai visi dan misi yang telah ditetapkan, atau sekadar melakukan penggabungan kelembagaan demi efisiensi yang relatif kecil.
1. Mbule Kelima Harus Menjadi Arah Pembangunan, Bukan Sekadar Slogan
Visi Mbule Kelima: Rote Ndao Bertani secara tegas menempatkan pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai sektor utama penggerak ekonomi masyarakat.
Peternakan dicantumkan secara eksplisit karena memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat Rote Ndao. Ribuan keluarga menggantungkan pendapatan dan sumber penghidupannya pada usaha peternakan.
Karena itu, apabila peternakan telah ditempatkan sebagai bagian penting dari visi pembangunan daerah, maka seharusnya sektor tersebut memperoleh perhatian dan penguatan kelembagaan yang memadai.
Pertanyaan yang patut direnungkan adalah Apakah visi dan misi Bupati hanya akan menjadi slogan dalam dokumen perencanaan, atau benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang memperkuat sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan.
2. Peternakan Terbukti Memberikan Kontribusi Nyata terhadap Pendapatan Daerah
Salah satu indikator keberhasilan sebuah organisasi perangkat daerah adalah kemampuannya menciptakan nilai tambah bagi daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor peternakan menunjukkan perkembangan yang positif. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari layanan dan aktivitas sektor peternakan meningkat secara signifikan, dari sekitar Rp125 juta tahun 2021 beberapa tahun lalu menjadi sekitar Rp600 juta saat ini.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa peternakan bukan hanya menjalankan fungsi pelayanan publik, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah.
Ke depan, potensi tersebut masih dapat ditingkatkan dengan potensi yang terus tumbuh, seharusnya sektor peternakan didorong untuk berkembang lebih kuat, bukan justru kehilangan fokus kelembagaannya.
3. Pertanian dan Peternakan Sama-Sama Penting, Tetapi Memiliki Beban dan Karakteristik yang Berbeda
Dalam berbagai pembahasan di tingkat DPRD, termasuk yang disampaikan oleh Wakil Ketua Bapemperda Yunus Panie, anggota Feky Boelan, serta sejumlah anggota Bapemperda lainnya, muncul pandangan bahwa sektor pertanian saat ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Kita lihat urusan pertanian yang begitu luas masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya, sehingga perlu dipertanyakan kembali logika menambah beban baru berupa urusan peternakan yang memiliki karakteristik teknis, regulasi, dan kebutuhan sumber daya yang berbeda, ini apa.
•
Seluruh fungsi peternakan membutuhkan fokus dan penanganan khusus yang tidak dapat disamakan dengan urusan tanaman pangan atau hortikultura.
4. Penggabungan Berpotensi Mengurangi Fokus Pembangunan Peternakan
Saat ini tantangan terbesar pembangunan peternakan bukanlah mengecilkan organisasi, melainkan:
• Meningkatkan populasi ternak;
• Meningkatkan produktivitas ternak;
• Menekan penyakit hewan;
• Mengembangkan bibit unggul;
• Memperluas pasar;
• Meningkatkan kesejahteraan peternak;
• Mengoptimalkan potensi PAD.
Pertanyaan yang harus dijawab secara jujur adalah Bagaimana mungkin target-target tersebut dapat dicapai lebih baik apabila sektor peternakan justru kehilangan fokus kelembagaan yang selama ini menjadi motor penggerak pembangunan peternakan di daerah?
Dalam manajemen pembangunan, fokus merupakan faktor penting keberhasilan. Ketika sektor strategis kehilangan fokus, maka risiko yang muncul adalah melambatnya capaian pembangunan sektor tersebut.
5. Menghemat Rp159 Juta atau Kehilangan Peluang Miliaran Rupiah?
Alasan utama yang sering dikemukakan dalam penggabungan adalah efisiensi anggaran sekitar Rp159 juta per tahun.
Karena itu muncul pertanyaan yang sangat mendasar Apakah pantas mempertaruhkan fokus pembangunan peternakan, potensi peningkatan PAD, akses program APBN bernilai miliaran rupiah, serta kepentingan ribuan peternak hanya untuk memperoleh efisiensi sekitar Rp159 juta per tahun?
Persoalan ini sesungguhnya bukan sekadar soal struktur organisasi, melainkan soal arah pembangunan daerah.
Apakah Kabupaten Rote Ndao ingin membangun dengan fokus pada sektor-sektor yang telah ditetapkan dalam visi dan misi daerah, atau justru mengurangi perhatian terhadap salah satu sektor strategis demi efisiensi administratif yang sangat kecil?
Peternakan telah membuktikan kontribusinya terhadap ekonomi masyarakat, peningkatan PAD, serta kemampuan menarik dukungan APBN dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah pengurangan fokus, melainkan penguatan kelembagaan agar sektor peternakan dapat tumbuh lebih cepat, memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, dan menjadi salah satu penggerak utama terwujudnya Mbule Kelima: Rote Ndao Bertani.
Pembangunan yang berhasil bukan ditentukan oleh seberapa banyak dinas yang digabungkan, tetapi oleh seberapa fokus pemerintah membangun sektor-sektor yang menjadi kekuatan utama daerah dan sumber kesejahteraan masyarakatnya.





