Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

NTT · 31 Mei 2025 18:13 WITA ·

Eksploitasi Anak di Balik Derap Kuda Rote Ndao


Eksploitasi Anak di Balik Derap Kuda Rote Ndao Perbesar

Rote Ndao,Sulutnews.com — Sorak sorai penonton membahana, derap kaki kuda menggetarkan tanah kering Rote Ndao. Di tengah euforia pacuan kuda, tradisi yang selama ini dibanggakan menyimpan luka mendalam: eksploitasi anak di bawah umur. Bayangan anak-anak kurus, dengan pakaian lusuh dan wajah polos, beradu cepat di atas punggung kuda, bukan sekadar pemandangan, tetapi gambaran nyata pelanggaran hak asasi manusia.

Mereka, beberapa bahkan belum genap sepuluh tahun, menjadi joki cilik yang dipaksa berpacu dengan kecepatan tinggi. Tubuh mungil mereka menanggung beban yang tak sebanding dengan usia dan kekuatan fisik. Lintasan pacuan yang keras dan tak berampun menjadi saksi bisu luka-luka fisik yang mereka derita; jatuh dari kuda, ditendang, hingga cedera permanen. Ironisnya, banyak yang tak mendapat perawatan medis memadai karena keterbatasan biaya dan akses kesehatan.

Alasan yang kerap dikemukakan adalah bobot tubuh anak-anak yang ringan dianggap memberi keuntungan dalam pacuan. Namun, di balik logika tradisional ini tersimpan realita pahit: trauma psikologis yang mendalam menghantui masa depan mereka. Kepolosan masa kanak-kanak direnggut paksa, digantikan oleh beban tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul.

Lembaga perlindungan anak mengecam keras praktik ini sebagai eksploitasi anak yang terang-terangan. “Ini bukan hanya pelanggaran hak anak, tetapi bentuk kekerasan yang terselubung di balik budaya,” tegas seorang aktivis dari KPAI wilayah NTT. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa praktik tersebut telah mengabaikan nilai kemanusiaan.

Pemerintah daerah berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka berupaya melestarikan budaya lokal. Di sisi lain, ketidakhadiran regulasi yang tegas untuk melarang keterlibatan anak dalam pacuan kuda menjadi celah besar yang harus segera ditutup.

Seorang dosen antropologi Universitas,  Universitas Nusa Cendana Kupang. Dr. Aksi Sinurat, SH, M.Hum memberikan perspektif yang bijak, “Budaya seharusnya selaras dengan perkembangan kesadaran kemanusiaan. Kita harus berani meninjau ulang praktik-praktik tradisional yang berpotensi merugikan anak.” Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa pelestarian budaya tidak boleh mengorbankan hak-hak dasar manusia, khususnya anak-anak.

Suara-suara perlawanan mulai menggema. Tokoh agama, aktivis, dan pemuda Rote Ndao sendiri mulai mempertanyakan harga yang harus dibayar atas nama tradisi: air mata dan darah anak-anak. Pertanyaan ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk bertindak, untuk memastikan bahwa derap kuda di Rote Ndao tidak lagi diiringi tangis pilu anak-anak yang dieksploitasi.

Reporter: Dance Henukh

Artikel ini telah dibaca 1,514 kali

Baca Lainnya

Selamat Hari Raya Nyepi dari Julie Sutrisno Laiskodat, B.B.A

19 Maret 2026 - 20:10 WITA

Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat Melakukan Penyerahan Bantuan Sembako Kepada Umat Muslim Di Kabupaten Sika

19 Maret 2026 - 19:58 WITA

Penipuan Data; Kepala Dinas dan Staf Dinas Sosial Rote Ndao Diduga Sementara Mena Ganti Nama Penerima PKH dan Sembako dengan Keluarga Staf Sendiri

18 Maret 2026 - 08:30 WITA

Penipuan Uang dengan Modus Menggadekan Motor, Fanus Koanak Mengaku Sudah Menjualnya Akibat Kalah Judi

17 Maret 2026 - 03:15 WITA

Menjelang Libur Idulfitri, Paket MBG Misterius Muncul di Rote Ndao: Hari Ini Tersalurkan Diam-diam, Kelurahan Metina Bisu

16 Maret 2026 - 11:14 WITA

Usman Husin: Pembatasan Pukul Rata di Labuan Bajo Dinilai Tidak Adaptif dan Berisiko

11 Maret 2026 - 05:29 WITA

Trending di News