Reporter : Dance Henukh
Rote Ndao, Sulutnews.com — Polemik dugaan pengumpulan uang dalam gelaran Pameran Pembangunan dan Expo UMKM Kabupaten Rote Ndao kian memanas.
Nama Guntur Bartels, yang dipercaya sebagai koordinator peserta pameran, ikut terseret dalam tudingan bahwa dirinya mencatut nama sejumlah institusi kepolisian dan insan pers saat mengumpulkan uang dari para pemilik stan hiburan.
Namun Guntur memberikan bantahan keras.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengatakan uang kontribusi peserta diperuntukkan bagi Sat Reskrim Polres Rote Ndao, Sat Intelkam Polres Rote Ndao, Polsek Lobalain maupun wartawan.
Klarifikasi tersebut disampaikan Guntur ketika dikonfirmasi wartawan.
DARI RAPAT PEMDA, BERUJUNG PENGUMPULAN DANA 40 JUTA
Guntur membeberkan bahwa persoalan tersebut bermula dari sebuah rapat antara peserta pameran dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao di Ruang TBU Pemda Rote Ndao sebelum kegiatan berlangsung.
Dalam rapat itu, Ketua Panitia Pelaksana Perayaan HUT RI yang juga Asisten I Pemkab Rote Ndao, Petson Hangge, disebut menyampaikan bahwa pemerintah daerah tidak memiliki anggaran untuk membiayai sejumlah kebutuhan operasional pameran.
Kebutuhan tersebut antara lain lighting, sound system, listrik PLN hingga hadiah hiburan.
Situasi tersebut kemudian mendorong sekitar 22 peserta yang telah terdaftar untuk menyatakan kesediaan membantu kebutuhan operasional kegiatan.
Kontribusi kemudian ditentukan berdasarkan klasifikasi jenis usaha masing-masing peserta.
GUNTUR: SAYA HANYA KOORDINATOR
Guntur mengatakan dirinya kemudian ditunjuk sebagai koordinator lapangan berdasarkan kesepakatan peserta dan panitia.
Alasannya, ia dianggap sebagai salah satu pengusaha stan yang lebih senior.
Para peserta kemudian menyerahkan kontribusi kepada Guntur untuk diteruskan kepada panitia.
Yang menjadi sorotan, total dana yang berhasil dikumpulkan disebut mencapai sekitar Rp40-an juta.
Guntur memastikan uang tersebut tidak berhenti di tangannya.
Menurut pengakuannya, seluruh dana telah diserahkan kepada Ketua Panitia, Petson Hangge.
“BUKAN UNTUK POLISI, BUKAN UNTUK WARTAWAN”
Guntur secara tegas membantah apabila dirinya disebut menggunakan nama aparat keamanan maupun wartawan sebagai alasan untuk mengumpulkan uang.
Ia menegaskan tidak pernah menyampaikan bahwa dana tersebut akan diberikan kepada Sat Reskrim, Sat Intelkam, Polsek Lobalain ataupun insan pers.
Dengan demikian, menurut Guntur, tudingan bahwa dirinya mencatut nama institusi kepolisian dan wartawan perlu diluruskan agar tidak berkembang menjadi informasi yang keliru.
RP40 JUTAAN, KE MANA DAN UNTUK APA?
Meski Guntur telah memberikan klarifikasi, muncul pertanyaan publik yang tidak kalah penting:
Jika dana mencapai Rp40-an juta, berapa jumlah yang dikumpulkan dari masing-masing peserta?
Berapa biaya lighting, sound system, listrik dan hadiah hiburan?
Apakah seluruh dana benar-benar telah diterima panitia?
Dan bagaimana pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting bukan untuk menghakimi pihak tertentu, tetapi untuk memastikan pengelolaan dana kontribusi peserta dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Apalagi, polemik tersebut telah menyeret nama institusi kepolisian dan wartawan.
PUBLIK MENUNGGU TRANSPARANSI PANITIA
Jika benar seluruh dana telah diserahkan kepada panitia, maka dokumen penerimaan dan penggunaan dana menjadi bagian penting untuk menjernihkan persoalan.
Panitia dapat menjelaskan secara terbuka jumlah dana yang diterima, sumber dana, rincian pengeluaran serta sisa dana apabila ada.
Di sisi lain, pihak kepolisian dan insan pers yang namanya disebut juga berhak memberikan klarifikasi apabila memang tidak pernah menerima atau meminta dana tersebut.
Dengan demikian, polemik ini tidak berhenti pada saling bantah, tetapi dapat dibuktikan melalui dokumen dan pertanggungjawaban yang jelas.
Satu hal kini menjadi sorotan: Rp40-an juta disebut telah terkumpul. Publik berhak mengetahui secara terang, dana itu berasal dari siapa, diserahkan kepada siapa, dan digunakan untuk apa.





