Reporter : Dance Henukh
Sulutnews.com . Rote Ndao, 19 Juni 2026 — Proyek ini bukan sekadar gagal. Ia adalah luka yang menganga di tubuh Rote Ndao. Di Rapat Dengar Pendapat Umum ini, semua kedok tercabik habis: yang disebut pembangunan ternyata perusakan terencana. Sudah saatnya semua pihak sadar — kesalahan ini tidak bisa dihapus dengan kata maaf.
Fakta Pahit yang Menuntut Kesadaran
Tanah leluhur tidak sekadar diambil, tapi dirampok dengan harga yang memalukan. Alam pesisir tidak sekadar rusak, tapi dibunuh: air payau bercampur asin tak terkendali, ikan pergi selamanya, ladang bercokol menjadi lumpur mati. Warga tidak sekadar tidak dilibatkan, tapi dianggap penghalang. Aturan hukum tidak sekadar diabaikan, tapi dijadikan mainan. Semua ini bukan kebetulan — ini pola yang jelas.
Peringatan Keras
“Sampai kapan mau buta? Proyek ini menjerumuskan. Kalau tidak sadar sekarang, kerusakan ini akan menjadi warisan abadi bagi anak cucu Rote Ndao. Kami tidak lagi bicara soal perbaikan, tapi soal berhenti merusak. Siapa pun yang terlibat, tahu atau tidak, kini berdiri di persimpangan: bertobat dan bertanggung jawab, atau menanggung hukuman sejarah.” — tegas anggota DPRD dengan nada menggetarkan.
Kesimpulan: Kesadaran Adalah Syarat Utama
Pembangunan yang buta terhadap hak rakyat dan nyawa alam adalah pembunuhan masa depan. Tambak garam ini harus menjadi cermin: sadar atau hancur. Tidak ada jalan tengah. Rakyat Rote Ndao sudah sadar — tinggal menunggu pihak pelaksana dan pengambil keputusan sadar juga, sebelum semuanya terlambat.






