Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Jakarta · 16 Mei 2023 08:39 WITA ·

Ratusan Kampus Politeknik Swasta se-Indonesia akan Gelar Sarasehan, Bahas Masa Depan Pendidikan Vokasi


Ratusan Kampus Politeknik Swasta se-Indonesia akan Gelar Sarasehan, Bahas Masa Depan Pendidikan Vokasi Perbesar

Jakarta,Sulutnews.com – Ketika lulus sekolah menengah atas atau kejuruan, masyarakat pada umumnya akan memilih menyekolahkan anaknya di universitas negeri. Kampus swasta saja jarang dipilih, lebih-lebih lagi politeknik swasta.

Fenomena ini diungkapkan oleh Akhwanul Akhmal, Ketua Umum Perkumpulan Politeknik Swasta (PELITA) sekaligus Direktur Politeknik LP3I Jakarta. Akhmal sekaligus menyayangkan situasi tersebut, segudang skill hingga peluang kerja, bisa diperoleh generasi muda saat memilih berkuliah di kampus politeknik swasta.

“Misalnya Politeknik ATMI, kuliah teknik mesin, dan kampusnya satu grup dengan pabrik fabrikasi. Sudah jelas kurikulum dan skillnya sesuai kebutuhan di pabrik, dan ketika lulus siap langsung kerja di ATMI maupun berbagai pabrik lainnya. Contoh yang sama juga ada di Politeknik Tempo (satu grup dengan Majalah Tempo), dan Politeknik Multimedia Nusantara (satu grup dengan Kompas),” ungkap Akhwanul dalam Webinar Komunitas SEVIMA, Rabu (16/05).

Hal inilah yang menjadi semangat PELITA untuk menggelar sarasehan secara online pada Sabtu, 20 Mei besok. Digelar dalam rangka dies natalis pertama PELITA, organisasi ini berencana mengumpulkan 177 politeknik swasta. Kiki Yuliati selaku Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek juga dijadwalkan hadir.

“Sarasehan ini sepenuhnya gratis, karena kami ini satu rasa sebagai politeknik swasta, tantangannya sama, dan bersama-sama kita carikan solusinya untuk masa depan pendidikan vokasi!,” ungkap Akhwanul.

Kolaborasi Tebar Citra Politeknik Swasta

Sarasehan ini akan mengangkat tema “Kolaborasi Tebar Citra Politeknik Swasta”. Tiga hal setidaknya akan dibahas dalam sarasehan tersebut. Yang pertama sesuai dengan judul, citra politeknik swasta masih belum dikenal luas oleh masyarakat.

“Baik masyarakat, maupun dunia industri, belum sepenuhnya kenal Politeknik Swasta. Coba perhatikan, pabrik atau industri biasanya mereka mensyaratkan teknik mesin, tapi diploma boleh, sarjana boleh, insinyur boleh. Padahal pelajaran vokasi yang terapan full, dengan sarjana yang lebih banyak teori, itu beda jauh. Jadi Politeknik Swasta perlu berkolaborasi mengenalkan citranya, kita akan jalin kolaborasi juga dengan Pemerintah dan KADIN!,” ungkap Akhwanul.

Yang kedua, adalah sama-sama memikirkan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan Pendidikan vokasi. Selama ini ungkap Akhwanul, Politeknik kerap disamakan dengan universitas. Misalnya dosen diwajibkan punya nomor induk dan melakukan pengabdian masyarakat, instrumen akreditasi dilihat teori-teorinya, dan aturan terkait dosen harus S2 dengan bidang ilmu tertentu yang linier.

“Padahal, dia belum S2 pun, tetap kami butuhkan. Karena kami cari praktisi, yang bisa mendidik para mahasiswa kami setelah lulus, kompeten untuk menjadi praktisi! Kehadiran Direktorat Jenderal Vokasi yang masih baru, perlahan-lahan sudah merubah hal tersebut, dan PELITA siap berkolaborasi!,” lanjut Akhwanul.

Yang ketiga, adalah membuka kesempatan kerjasama internasional. Pekerja Migran Indonesia (PMI) selama ini dikenal cekatan. Pekerjaan dan gaji yang diperoleh juga cukup prestisius, di bidang-bidang seperti migas, konstruksi, teknik, bahkan kesehatan.

“Jadi harapannya kita juga akan bangun kolaborasi dengan mitra-mitra di luar negeri, menggarap pasar tenaga kerja luar negeri, dan menghadirkan PELITA serta politeknik swasta yang bisa dirasakan manfaatnya oleh para anggota,” ujar Akhwanul.

Harapan PELITA melalui sarasehan sekaligus kiprah aktif Politeknik Swasta, adalah kemampuan lulusan vokasi Indonesia untuk bersaing di kancah global. Dengan bonus demografi yang dihadapi pada tahun 2030, politeknik swasta memiliki peran yang sangat penting untuk dimainkan. Mereka harus berupaya mencari sebanyak mungkin manfaat dan memberikan kontribusi yang signifikan.

“Impian PELITA adalah, agar ketika seseorang datang ke Indonesia, studi banding atau kolaborasi kerjasama, tidak hanya cari kampus negeri. Mereka akan mencari politeknik , karena kualitas kita unggul dan bisa memenuhi kebutuhan global!,” pungkas Akhwanul.(*/Merson)

Artikel ini telah dibaca 5,887 kali

Baca Lainnya

1.608 Calon Mahasiswa Jalur Mandiri T2 Lulus di Unsrat, Masih Buka Gelombang II Untuk 28 Prodi di 8 Fakultas Kouta 1.318 Maba

16 Juli 2026 - 23:29 WITA

KADIN Pusat Jadikan Tomohon Mitra Strategis, TIFF 2026 Dibuka sebagai Pintu Masuk Investasi Beragam Sektor

16 Juli 2026 - 22:10 WITA

Jangan Biarkan Hak Orang Tua Terkekang dalam Pengadaan Seragam

16 Juli 2026 - 20:38 WITA

Kementerian Ekraf Siap Kembangkan TIFF Menjadi Ekosistem Industri Kreatif di Tomohon

15 Juli 2026 - 21:43 WITA

Pelaksanaan MPLS di SMA dan SMK Negeri dan Swasta di Tomohon dan Minahasa Lancar Hari Kedua

14 Juli 2026 - 23:14 WITA

Unsrat Akan Umumkan Hasil Ujian Ribuan Calon Mahasiswa Jalur Mandiri T2 Rabu 15 Juli 2026

14 Juli 2026 - 22:09 WITA

Trending di Manado