Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

Boltim · 28 Mei 2026 21:08 WITA ·

Rahman Salehe Tunjukan Sikap Toleransi Percayakan Saudara Nonmuslim Ketua Panitia Kurban


Rahman Salehe Tunjukan Sikap Toleransi Percayakan Saudara Nonmuslim Ketua Panitia Kurban Perbesar

BOLTIM – Hari raya Idul Adha 1447 hijriah, keluarga Rahman Salehe menymbang sapi kurban sebanyak 93 ekor untuk masyarakat Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Kegiatan penyembelihan sapi kurban dilaksanakan di kediaman keluarga Rahman Salehe di Desa Bulawan II, Kecamatan Kotabunan, mulai Rabu, 27 Mei 2026.

Namun dalam pelaksanaan penyembelihan hewan tersebut, Rahman Salehe menunjukkan sikap toleransi dan kebersamaan kepada masyarakat Boltim.

Pasalnya daging kurban yang disalurkan tidak hanya dibagikan kepada warga muslim tetapi daging kurban dibagikan secara universal tanpa memandang agama.

Tidak hanya itu, ketua panitia penyembelihan hewan kurban dihari kedua, justru dipercayakan kepada seorang warga dari kalangan nonmuslim.

Sontak menjadi sorotan publik karena bukan hanya jumlah hewan kurban yang dipotong atau ribuan kilogram daging yang dibagikan, melainkan siapa yang memimpin pelaksanaannya.

Rahman Salehe dengan bangga memperkenalkan Benny Lapod, warga asal Desa Paret Timur, sebagai ketua panitia penyembelihan kurban yang merupakan saudara nonmuslim.

Pemilihan Benny Lapod bukanlah keputusan sembarangan. Rahman Salehe menyebutkan bahwa langkah ini sengaja diambil sebagai bentuk nyata dari sikap toleransi antar umat beragama yang selama ini terjalin di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. “Di sini ada juga dari kalangan non-Muslim yang tergabung dalam panitia pelaksana,” ujar Rahman dengan antusias. Bagi keluarganya, kurban bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum untuk memperkuat hubungan sosial lintas keyakinan.

Benny Lapod sendiri mengaku tidak menyangka akan ditunjuk memimpin kegiatan keagamaan umat Muslim. Namun, karena keakrabannya dengan masyarakat sekitar dan kepercayaan yang diberikan keluarga Rahman Salehe, ia menyambut tawaran tersebut dengan tangan terbuka. “Saya memang kerap bergaul dan berkecimpung dengan masyarakat di sini, dan juga akhirnya ditunjuk oleh Pak Rahman, ya saya setuju,” tutur Benny.

Lebih dari sekadar setuju, Benny merasa bangga bisa terlibat langsung dalam pelaksanaan kurban bersama keluarga Rahman Salehe. Baginya, partisipasi ini adalah bukti bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk saling menghormati dan bekerja sama. “Saya senang terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini,” ungkapnya. Benny bahkan berharap semangat toleransi yang terjalin di Boltim dapat terus berlangsung kondusif di masa mendatang.

Aksi nyata ini mencerminkan bahwa toleransi bukan hanya sekadar kata-kata indah, melainkan praktik konkret dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah isu-isu sensitivitas keagamaan yang kerap memanas di berbagai daerah, keluarga Rahman Salehe memilih jalan berbeda: mengajak, bukan memisahkan. Menyatukan, bukan membedakan. Kepercayaan yang diberikan kepada Benny Lapod sebagai ketua panitia menunjukkan bahwa saling menghargai dapat dilakukan di level manajemen, bukan hanya pada penerima manfaat.

Pelajaran dari kegiatan ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia yang plural. Toleransi antar umat beragama tidak hanya ditunjukkan melalui dialog formal atau deklarasi bersama, tetapi juga melalui tindakan sederhana seperti mempercayakan tugas penting dalam ritual keagamaan kepada saudara dari keyakinan berbeda. Sikap Rahman Salehe dan respons positif Benny Lapod menjadi cerminan bahwa persaudaraan sejati mampu menembus batas-batas ritual dan keyakinan.

Kegiatan penyembelihan kurban yang dipimpin oleh ketua panitia non-Muslim ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Indonesia. Bahwa perbedaan adalah anugerah, bukan ancaman. Dan bahwa setiap momen keagamaan bisa dijadikan wadah untuk mempererat tali silaturahmi, bukan memperlebar jurang pemisahan.***

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kapolres Golfried Hasiholan Resmikan Rumah Dinas dan Rusun Hunian Nyaman Bagi Personil

12 Mei 2026 - 17:59 WITA

Mafia Tanah Mulai Cari Mangsa di Boltim, Modus Sertifikat Palsu

9 Mei 2026 - 20:49 WITA

Kepemimpinan Oskar – Argo Pemkab Boltim Raih Prestasi Gemilang Tingkat Nasional

16 April 2026 - 21:07 WITA

BSG Cabang Tutuyan Gelar Sosialisasi Transaksi Non Tunai Untuk Dana Kapitasi Puskesmas

15 April 2026 - 23:03 WITA

Angel Wenas Serap Aspirasi Dengan Masyarakat Desa Togit

8 April 2026 - 14:27 WITA

Pimpin Apel Perdana, Wabup Argo Sumaiku Mengajak ASN Perkuat Integritas Pelayanan Publik Bagi Warga Boltim

30 Maret 2026 - 22:30 WITA

Trending di Boltim