Reporter : Dance Henukh
Rote Ndao.sulutnews.com – Bendungan Lekobatu pernah menjadi saksi bisu penderitaan panjang para petani. Selama lebih dari 20 tahun, bangunan vital ini rusak parah dan kering kerontang, tak mampu lagi menyalurkan setetes pun air ke hamparan persawahan. Kondisi ini membawa dampak buruk yang nyata: hasil panen merosot tajam, musim tanam terbatas hanya satu kali dalam setahun, dan perekonomian keluarga petani semakin terpuruk. Bagi warga Desa Temas, Modosina, hingga Lidor, bendungan itu hanyalah bangunan mati yang tak lagi berdaya menopang kehidupan mereka.
Namun, kisah kelam itu kini telah berubah sepenuhnya menjadi cerita kebahagiaan. Berkat perjuangan yang tak kenal lelah, perbaikan bendungan dimulai pada tahun 2025, dan kini Bendungan Lekobatu telah kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Air jernih kembali mengalir deras mengisi saluran irigasi dan membasahi petak-petak sawah yang lama menanti. Kabar paling menggembirakan, para petani kini sudah bisa memanfaatkannya untuk dua kali musim tanam dalam satu tahun. Di suasana sederhana di pinggir sawah, rasa syukur dan kegembiraan begitu terasa menyelimuti hati warga. Mereka tak henti menyampaikan terima kasih, karena fasilitas yang lama terbengkalai itu kini kembali menjadi sumber kehidupan dan harapan baru bagi kelangsungan usaha tani mereka.
Di tengah kebahagiaan yang meluap-luap itu, kehadiran Usman Husin disambut dengan antusiasme luar biasa. Ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat atau wakil rakyat, melainkan sebagai sosok yang turut berjuang keras memulihkan bendungan ini. Usman pun mengungkapkan kebahagiaannya bisa bertemu langsung dengan masyarakat di tempat yang memiliki makna begitu besar bagi kehidupan mereka.
“Para petani meminta kegiatan reses dilakukan tepat di sini karena mereka ingin meluapkan rasa syukur. Setelah puluhan tahun rusak dan terbengkalai, sekarang bendungan ini sudah berguna kembali. Air sudah mengalir ke sawah, dan manfaat nyatanya sudah dirasakan petani,” ujar Usman Husin di hadapan warga yang berkumpul.
Ia menegaskan kembali bahwa perhatian terhadap kebutuhan dasar petani—terutama ketersediaan air irigasi—harus tetap menjadi prioritas utama. Sebab, hal itu berkaitan langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat luas. “Kalau air tersedia cukup, petani bisa mengolah lahan lebih maksimal, hasil panen meningkat berlipat ganda, dan otomatis ekonomi keluarga serta taraf hidup mereka pun ikut membaik. Saya ingin setiap apa yang kami perjuangkan benar-benar dirasakan manfaatnya sampai ke masyarakat,” tegasnya penuh keyakinan.
Kini, Bendungan Lekobatu tidak lagi dikenal hanya sebagai kisah kerusakan puluhan tahun. Di mata para petani, tempat itu telah berubah makna: dari bangunan yang menyisakan kekecewaan, kini menjelma menjadi sumber harapan baru. Di sanalah air kembali menghidupkan persawahan, sekaligus menumbuhkan semangat baru menuju masa depan pertanian yang lebih maju, makmur, dan sejahtera.







