Tahuna, Sulutnews.com — Keberadaan burung Sempiri, salah satu kekayaan hayati khas Kepulauan Sangihe, kini semakin memprihatinkan. Satwa endemik yang secara ilmiah dikenal dengan nama Loriculus catamene tersebut menghadapi berbagai ancaman serius yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya di alam liar.
Burung paruh bengkok berukuran kecil ini hanya ditemukan secara alami di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Keunikan warna hijau cerah dengan semburat merah pada bagian tubuhnya menjadikan Sempiri sebagai salah satu spesies penting dalam kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pelatihan media sosial terkait isu keanekaragaman hayati bagi influencer lokal yang digelar di Tahuna Beach Hotel, Selasa (25/8/2026). Dalam kegiatan itu, Ganjar Cahyo Aprianto selaku Conservation Program Officer Burung Indonesia mengemukakan pentingnya perhatian bersama terhadap keberadaan satwa endemik yang kini berada dalam kondisi genting tersebut.
Menurut Ganjar, keterbatasan wilayah persebaran menjadi salah satu faktor yang membuat burung Sempiri sangat rentan terhadap berbagai gangguan. Sebab, spesies ini hanya hidup di kawasan Kepulauan Sangihe dan sangat bergantung pada kondisi habitat serta vegetasi yang masih terjaga.
Sempiri sendiri termasuk dalam famili Psittaculidae dan pertama kali dideskripsikan oleh ilmuwan Schlegel pada tahun 1873. Burung dengan ukuran sekitar 12 hingga 13,5 sentimeter ini hidup di kawasan berhutan serta wilayah dengan vegetasi yang mendukung kebutuhan hidupnya.
Namun, perubahan fungsi kawasan hutan menjadi permukiman maupun perkebunan secara perlahan mengurangi ruang hidup satwa khas Sangihe tersebut. Kondisi itu diperparah dengan ancaman perburuan dan penangkapan liar yang berpotensi terjadi akibat nilai dan keunikan burung tersebut.
Dengan ukuran tubuh yang kecil serta warna bulu yang menarik, Sempiri berisiko menjadi sasaran perdagangan satwa liar. Jika tekanan terhadap habitat dan populasinya terus berlangsung tanpa pengawasan yang serius, keberadaan spesies ini dikhawatirkan akan semakin sulit ditemukan di alam.
Selain itu, wilayah persebaran yang sangat terbatas membuat Sempiri tidak memiliki banyak pilihan tempat untuk bertahan apabila terjadi gangguan besar pada ekosistemnya. Bencana alam, penyakit, hingga kerusakan habitat dalam skala luas dapat memberikan dampak besar terhadap keseluruhan populasi burung tersebut.
Ganjar menekankan bahwa upaya penyelamatan satwa endemik membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, lembaga konservasi, pemerhati lingkungan, hingga masyarakat lokal.
Perlindungan dan pemulihan kawasan hutan menjadi salah satu langkah penting yang perlu terus didorong. Di sisi lain, pengawasan terhadap perdagangan satwa liar serta penegakan hukum terhadap praktik perburuan dan penangkapan ilegal juga harus dilakukan secara serius.
Tidak kalah penting, edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat. Kesadaran untuk menjaga satwa endemik agar tetap hidup di habitat alaminya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati Sangihe.
Bagi Kepulauan Sangihe, burung Sempiri bukan sekadar satwa liar. Keberadaannya merupakan bagian dari identitas dan kekayaan alam daerah yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Karena itu, menjaga Sempiri berarti juga menjaga warisan alam Sangihe untuk generasi mendatang. Tanpa langkah konservasi yang serius dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti burung khas tersebut hanya dapat dikenal melalui gambar dan catatan sejarah. (Andy Gansalangi)




