Tahuna, Sulutnews.com – Masyarakat di wilayah Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, masih berada dalam kondisi waspada pasca gempa bumi yang mengguncang wilayah perbatasan tersebut pada Senin, 8 Juni 2026.
Berdasarkan laporan resmi yang disampaikan Camat Kepulauan Marore kepada Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Selasa (9/6/2026), gempa susulan masih terus dirasakan warga hingga pagi hari. Sedikitnya empat kali gempa susulan tercatat dirasakan masyarakat, masing-masing pada pukul 02.30 WITA, 04.30 WITA, 05.15 WITA, dan 09.20 WITA.

Akibat masih terjadinya gempa susulan berskala kecil, aktivitas masyarakat di sejumlah kampung belum kembali normal. Sebagian warga masih memilih bertahan di lokasi pengungsian sementara di daerah pegunungan maupun lapangan terbuka sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan yang lebih kuat.
Meski demikian, pemerintah kecamatan memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Camat Kepulauan Marore, Marcos Sasiang, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah kampung serta masyarakat di seluruh wilayah terdampak.
“Puji syukur hingga saat ini tidak ada korban jiwa akibat gempa yang terjadi. Namun masyarakat masih merasakan beberapa kali gempa susulan sehingga sebagian warga memilih tetap berada di lokasi pengungsian untuk menjaga keselamatan mereka. Kami terus melakukan pendataan kerusakan dan memantau kondisi masyarakat di lapangan,” ujar Marcos Sasiang.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
“Kami mengharapkan masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah dan tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya. Keselamatan warga menjadi prioritas utama saat ini,” tambahnya.
153 Rumah dan Puluhan Fasilitas Umum Rusak
Data sementara mencatat sedikitnya 153 unit rumah warga mengalami kerusakan yang tersebar di tiga kampung, yakni Marore, Matutuang, dan Kawio.
Di Kampung Marore, tercatat 16 unit rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada Gudang Logistik (Dolog), pagar beton bekas Polsek Marore, dinding ring balok gudang Sahbandar, serta Kantor Camat Kepulauan Marore.
Sementara di Kampung Matutuang, dampak gempa tercatat lebih besar dengan 60 unit rumah warga mengalami kerusakan. Selain rumah warga, terdapat pula kerusakan pada lima rumah ibadah serta sejumlah fasilitas pemerintah dan pelayanan publik.
Selain itu, dilaporkan terjadi longsoran batu di Lindongan I Kampung Matutuang akibat guncangan gempa.
Sedangkan di Kampung Kawio, sebanyak 77 unit rumah warga mengalami kerusakan. Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum dan bangunan pelayanan masyarakat.

Pemerintah Terus Melakukan Pendataan
Marcos Sasiang menjelaskan bahwa hingga saat ini pendataan masih terus berlangsung dan angka kerusakan yang ada merupakan data sementara yang masih dapat bertambah seiring proses verifikasi lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk langkah-langkah penanganan selanjutnya. Harapan kami, masyarakat tetap menjaga kebersamaan dan saling membantu di tengah situasi ini hingga kondisi benar-benar kembali normal,” katanya.
Berdasarkan data kecamatan Marore, total dampak gempa meliputi 153 unit rumah warga, 6 rumah ibadah, serta 16 bangunan pemerintah dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Hingga Selasa siang, warga masih siaga menghadapi kemungkinan terjadinya gempa susulan sambil menunggu situasi dinyatakan aman oleh pihak berwenang. (Andy Gansalangi)






