Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

NTT · 10 Des 2025 20:48 WITA ·

Fernandes Weni: “Preman” SMP Satap Medi Tidak Takut Hukum, Tampar Siswa Tanpa Alasan


Fernandes Weni: “Preman” SMP Satap Medi Tidak Takut Hukum, Tampar Siswa Tanpa Alasan Perbesar

Rote Ndao, Sulutnews.com– Dunia pendidikan di Kabupaten Rote Ndao mulai terkotori oleh sikap premanisme yang tidak terpuji dari Kepala Sekolah SMP Negeri Satu Atap (Satap) Medi, Fernandes Weni.

Pada Rabu (10/12/2025) pagi, sang kepala sekolah yang dikenal memiliki tempramen tinggi dan mudah marah memanggil beberapa siswa kemudian menampar mereka tanpa alasan yang jelas. Anak-anak yang masih kecil itu menangis menahan sakit akibat tamparan yang diterima.

Setelah menampar anak-anak, Fernandes Weni langsung pulang dan tidak kembali lagi hingga jam sekolah berakhir. Para guru yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bingung melihat sikap premanisme yang ditunjukkan oleh pemimpin lembaga pendidikan dasar tersebut.

Saat dikonfirmasi wartawan terkait alasan menganiaya anak-anak sekolah, Fernandes Weni dengan santai mengatakan bahwa jika tindakannya salah, ia minta maaf. “Ya kalau itu salah saya mohon maaf,” ujarnya dengan nada seolah tidak ada persoalan yang serius.

Orang tua siswa mengaku sangat kecewa dengan sikap kepala sekolah yang seharusnya berperan mendidik. “Ini sikap preman, ini anak baru sembuh sakit dan masuk sekolah, hari ini malah ditampar oleh kepala sekolah dan sekarang dia sakit lagi,” kata Yanti, ibu salah seorang siswa yang ditampar.

Menurut Yanti, jika dunia pendidikan dihuni oleh orang seperti Fernandes Weni, anak-anak bisa mengalami trauma dan takut ke sekolah. “Sebagai orang tua, saya beri waktu 1 x 24 jam untuk meminta maaf secara langsung, jika tidak saya akan ambil langkah hukum,” tegasnya.

Ia juga meminta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga memberikan pembinaan yang pantas kepada guru yang bersikap preman. “Pak kepala dinas bina anak buahmu, kalau tidak bisa bina bawahan mending mundur dari jabatan,” ujarnya. “Saya juga minta pak Bupati agar bersikap tegas terhadap guru yang melakukan perbuatan tidak terpuji,” imbuhnya.

Reporter : Dance Henukh

Artikel ini telah dibaca 1,058 kali

Baca Lainnya

Akademisi Unsrat : Prof Grace Debbie Kandou Telah Memenuhi Seluruh Syarat Administrasi Pemilihan Rektor 2026–2030

22 Juli 2026 - 17:46 WITA

Belum Terpenuhi Kuota, Sejumlah SMA dan SMK di Sulawesi Utara Kembali Buka Pendaftaran SPMB Hingga Akhir Agustus 2026

22 Juli 2026 - 10:13 WITA

Kadis Dikda Femmy Suluh Berterima Kasih Kepada Gubernur Yulius Selvanus Atas Motivasi Kepada Jajarannya dan Kepsek Untuk Memajukan Pendidikan

21 Juli 2026 - 19:14 WITA

SMK Negeri 6 Manado Tetap Diminati, 207 Siswa Daftar Meski Dikelilingi Sekolah Besar

20 Juli 2026 - 14:09 WITA

Kadis Dikda Femmy Suluh Apresiasi MPLS di SMA dan SMK Hinga Hari Terakhir Lancar Tanpa Kekerasan dan Bullying

18 Juli 2026 - 23:30 WITA

MPLS Ramah di Manado Berjalan Lancar Hingga Hari Keempat Siswa Tetap Semangat Tanpa Kekerasan

17 Juli 2026 - 13:57 WITA

Trending di Manado