Tahuna, Sulutnews.com – Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Senin (08/06/2026) lalu, masih menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat, khususnya warga yang bermukim di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina.
Saat Sulutnews.com mengunjungi Pulau Marore, salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina, pada Senin (22/06/2026), berbagai kisah pilu dan perjuangan warga pascabencana terungkap dari sejumlah masyarakat yang masih berupaya bangkit dari ketakutan akibat gempa dan ancaman tsunami.

Foto Tokoh masyarakat Marore
Sosteni W. Mauntu
Salah satu tokoh masyarakat Marore, Sosteni W. Mauntu, mengenang detik-detik ketika gempa besar itu terjadi. Menurutnya, pagi itu aktivitas warga berlangsung seperti biasa. Sebagian masyarakat sedang berada di rumah, sementara lainnya mulai menjalankan pekerjaan sehari-hari. Namun suasana tenang tersebut mendadak berubah ketika guncangan kuat mulai terasa.
“Waktu itu semua orang panik. Warga yang ada di dalam rumah langsung berlarian keluar menyelamatkan diri. Terdengar tangisan anak-anak dan teriakan warga yang memberitahukan ada rumah-rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa,” tutur Mauntu.
Dalam situasi darurat tersebut, warga saling membantu satu sama lain. Mereka bergotong royong menolong keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan. Personel TNI dan Polri yang bertugas di wilayah perbatasan juga langsung turun tangan membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Namun kepanikan kembali memuncak setelah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bahwa gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami. Warga yang sebagian besar tinggal di kawasan pesisir pantai langsung berlarian menuju daerah yang lebih tinggi.
“Banyak warga lari ke bukit tanpa membawa apa-apa. Yang penting saat itu menyelamatkan nyawa. Bahkan ada seorang nenek yang sudah tidak mampu berjalan. Syukur ada anggota TNI yang menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih aman,” kenang Mauntu.
Ia mengaku gempa-gempa susulan yang terus terjadi setelah gempa utama semakin memperparah kondisi psikologis masyarakat. Ketakutan dan kecemasan terus menghantui warga karena mereka tidak mengetahui kapan bencana tersebut benar-benar berakhir.
“Kami bukan hanya takut saat gempa besar terjadi, tetapi juga setelahnya. Hampir setiap hari kami masih merasakan getaran. Itu yang membuat warga sulit tenang dan selalu waspada,” ujarnya.
Setelah BMKG mencabut peringatan potensi tsunami, sebagian warga mulai meninggalkan lokasi pengungsian sementara. Namun tidak sedikit yang memilih tetap bertahan di perbukitan dengan membangun pondok-pondok darurat sebagai tempat berlindung.
Mauntu mengaku dirinya bersama keluarga bahkan harus bertahan selama tiga hari di lokasi pengungsian. Sementara sebagian warga yang kembali ke perkampungan memilih tidur di luar rumah pada malam hari karena khawatir gempa besar kembali terjadi sewaktu-waktu.
“Kami masih trauma. Banyak warga yang tidak berani tidur di dalam rumah. Kalau malam lebih memilih berjaga-jaga di luar karena takut ada gempa susulan yang lebih besar,” katanya.
Sementara itu, pemuka agama Marore, Pdt. Heindrich Wolff, menceritakan berbagai kesulitan yang dialami warga selama berada di pengungsian. Menurutnya, trauma yang dialami masyarakat membuat mereka selalu dihantui rasa takut, bahkan untuk turun ke kampung sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Di pengungsian kondisinya sangat terbatas. Tidak ada fasilitas sanitasi yang memadai. Warga yang ingin buang air terpaksa turun ke kampung meskipun masih dibayangi rasa takut. Kondisi ini tentu sangat berat bagi anak-anak maupun para lanjut usia,” ungkap Wolff.
Ia menambahkan, kebutuhan memasak juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian warga memilih memasak di lokasi pengungsian dengan peralatan seadanya, sementara sebagian lainnya harus turun ke rumah masing-masing untuk menyiapkan makanan sebelum kembali lagi ke tempat pengungsian.
“Trauma itu masih sangat terasa. Bahkan ketika harus pulang sebentar ke rumah untuk memasak, mereka selalu diliputi rasa khawatir akan terjadi gempa lagi. Tetapi kebutuhan hidup harus tetap berjalan,” jelasnya.
Menurut Wolff, perhatian pemerintah daerah melalui kunjungan langsung Bupati Kepulauan Sangihe bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memberikan semangat tersendiri bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
Ketika mendengar rombongan pemerintah akan datang, warga yang sebelumnya masih bertahan di lokasi pengungsian berusaha turun ke perkampungan untuk menyambut kedatangan mereka. Meski rasa takut masih membayangi, masyarakat berupaya melawan trauma demi bertemu langsung dengan para pemimpin daerah.
“Kehadiran Bupati dan Forkopimda memberikan kekuatan moral bagi masyarakat. Bantuan yang dibawa memang sangat berarti, tetapi yang paling penting adalah perhatian dan kepedulian yang mereka tunjukkan. Itu membuat warga merasa tidak sendiri menghadapi bencana ini,” tutup Wolff. (Andy Gansalangi)





