Tahuna, Sulutnews.com – Kehadiran program Tol Laut yang digagas pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan terus berlanjut hingga saat ini, memberikan manfaat besar bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina. Salah satu wujud nyata program tersebut adalah operasional Kapal Sabuk Nusantara (Sanus) yang menjadi moda transportasi utama penghubung pulau-pulau terluar di Sulawesi Utara.
Camat Marore, Marcos Sasiang, mengatakan keberadaan Kapal Sabuk Nusantara memiliki peran yang sangat vital bagi masyarakat Kecamatan Kepulauan Marore. Dengan kondisi geografis yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil di wilayah perbatasan, Sanus dinilai menjadi sarana transportasi yang paling efektif dalam menghubungkan masyarakat dengan daerah lainnya.

“Sanus bukan hanya sekadar kapal penumpang, tetapi sudah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat perbatasan. Kehadirannya sangat membantu mobilitas warga, distribusi barang kebutuhan pokok, hingga akses pelayanan publik bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar,” ujar Sasiang.
Menurutnya, manfaat kapal tersebut semakin dirasakan saat wilayah Marore terdampak gempa bumi beberapa waktu lalu. Dalam situasi darurat, Kapal Sabuk Nusantara menjadi salah satu sarana utama yang membantu penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak bencana.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Sanus di wilayah perbatasan. Pasca gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu, kapal ini memberikan kontribusi besar dalam mendistribusikan bantuan kepada masyarakat. Beruntung ada KM Sanus yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat perbatasan,” katanya.
Sasiang menambahkan, selain mengangkut penumpang, kapal tersebut juga menjadi pemasok utama kebutuhan pokok masyarakat. Tidak hanya warga sipil, aparat TNI, Polri, serta ASN yang bertugas di wilayah perbatasan juga sangat bergantung pada keberadaan kapal tersebut untuk suplai logistik dan kebutuhan sehari-hari.

“Sebagian besar kebutuhan masyarakat di perbatasan dikirim melalui kapal ini. Bahkan suplai obat-obatan untuk Puskesmas Marore juga sangat bergantung pada jadwal pelayaran Sanus. Karena itu kami berharap layanan ini terus dipertahankan dan ditingkatkan demi mendukung kehidupan masyarakat di wilayah terluar Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Kapten KM Sabuk Nusantara 109, Jorris Rahalus, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat perbatasan. Menurutnya, awak kapal memahami betul pentingnya peran Sanus sebagai penghubung utama bagi warga di pulau-pulau terluar.
“Kami menyadari bahwa kehadiran KM Sabuk Nusantara 109 sangat dibutuhkan masyarakat perbatasan. Karena itu kami selalu berupaya memberikan pelayanan yang maksimal, menjaga keselamatan pelayaran, serta memastikan distribusi penumpang dan logistik dapat berjalan dengan baik sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” ujar Rahalus.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh kru kapal memiliki semangat yang sama untuk mendukung konektivitas wilayah perbatasan sebagai bagian dari upaya memperkuat kehadiran negara di daerah terluar Indonesia.
“Kami bangga bisa menjadi bagian dari pelayanan masyarakat perbatasan. Harapan kami, kapal ini terus menjadi sarana yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, memperlancar distribusi kebutuhan masyarakat, serta memperkuat konektivitas antar pulau di kawasan perbatasan Indonesia-Filipina,” pungkasnya. (Andy Gansalangi)





