Menu

Mode Gelap
BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe

Sangihe · 10 Jun 2026 22:34 WITA ·

BMKG Verifikasi Data Tsunami di Talengen


BMKG Verifikasi Data Tsunami di Talengen Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat melakukan verifikasi lapangan terhadap data tsunami pascagempa tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampung Talengen, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Rabu (10/6).

Verifikasi dilakukan menyusul hasil pemantauan BMKG yang menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di wilayah Talengen akibat dampak gempa tersebut. Berdasarkan data alat pemantau pasang surut laut (tide gauge) yang terpasang di kampung tersebut, tercatat kenaikan muka air laut sekitar 0,65558 meter atau mendekati 0,7 meter.

Tim BMKG Pusat dari Kedeputian Geofisika yang didampingi Kepala Stasiun Meteorologi Naha, Astrid Yesica Lasut, melakukan pengukuran langsung menggunakan rambu ukur (staff gauge) pada sejumlah titik untuk memastikan keakuratan data yang terekam oleh instrumen pemantauan.

Pengamatan dilakukan mulai dari lokasi pemasangan tide gauge, sepanjang dermaga Kampung Talengen, hingga kawasan perairan payau di sekitar pertemuan sungai dan laut. Langkah ini bertujuan membandingkan data yang direkam secara otomatis dengan kondisi nyata di lapangan serta mengkaji karakteristik pergerakan muka air laut di kawasan tersebut.

Pemerintah Kampung Talengen turut mendukung penuh kegiatan verifikasi tersebut. Kapitalaung Talengen, Yusak Makasaehe, menyambut baik kehadiran tim BMKG sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana di wilayah pesisir. Pendampingan lapangan juga dilakukan oleh aparat kampung dan pengelola Sistem Informasi Desa untuk membantu proses koordinasi selama kegiatan berlangsung.

Astrid Yesica Lasut menjelaskan bahwa meskipun tinggi gelombang tsunami yang terukur di Talengen tergolong kecil dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan, peristiwa tersebut tetap menjadi perhatian serius karena dipicu oleh gempa berkekuatan besar. Oleh karena itu, seluruh data pengamatan perlu diverifikasi guna memastikan kualitas informasi yang digunakan dalam sistem peringatan dini tsunami nasional.

“Verifikasi lapangan merupakan bagian penting untuk memastikan data yang direkam instrumen sesuai dengan kondisi sebenarnya. Hasil pengukuran manual akan menjadi pembanding sehingga tingkat akurasi dan keandalan data pemantauan dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Selain melakukan verifikasi, tim BMKG juga menerima berbagai masukan dari masyarakat terkait fungsi alat tide gauge yang terpasang di Kampung Talengen. Sebagian warga masih menganggap alat tersebut berfungsi sebagai alarm atau sirene peringatan tsunami.

Padahal, tide gauge merupakan instrumen yang berfungsi mengukur dan merekam perubahan tinggi muka air laut secara terus-menerus. Data yang dikumpulkan kemudian dikirim ke pusat pengolahan data BMKG untuk dianalisis sebagai salah satu dasar dalam sistem pemantauan dan peringatan dini tsunami.

Menanggapi hal tersebut, pengamat kebencanaan dan mitigasi bencana pesisir, Marthen Kambey, menilai edukasi kepada masyarakat mengenai fungsi peralatan pemantauan sangat penting dilakukan secara berkelanjutan.

“Keberadaan alat pemantauan seperti tide gauge sering kali disalahpahami masyarakat. Padahal alat ini merupakan bagian dari sistem pengumpulan data yang sangat penting dalam proses analisis tsunami. Sosialisasi yang berkesinambungan akan meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mendorong partisipasi dalam menjaga fasilitas tersebut,” katanya.

Menurut Marthen, posisi geografis Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Filipina menjadikan daerah ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap aktivitas gempa bumi dan tsunami. Karena itu, keberadaan stasiun pemantauan pasang surut laut di Talengen memiliki nilai strategis, tidak hanya bagi masyarakat setempat tetapi juga bagi sistem mitigasi bencana nasional.

Melalui kegiatan verifikasi lapangan ini, BMKG berharap kualitas data pengamatan dapat terus ditingkatkan sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat semakin cepat, akurat, dan dapat diandalkan dalam mendukung keselamatan warga pesisir di masa mendatang. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Siswahto Ajak Petugas Sensus Ekonomi 2026 Bekerja Penuh Tanggung Jawab

10 Juni 2026 - 19:24 WITA

Gubernur Disorot Usai Gempa Sangihe, Tokoh Masyarakat Pertanyakan Empatinya

10 Juni 2026 - 13:54 WITA

BNPB Rilis Dampak Gempa M 7,7 di Sangihe, Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat

10 Juni 2026 - 10:03 WITA

BPS Sangihe Latih 155 Petugas Sensus Ekonomi 2026

9 Juni 2026 - 16:55 WITA

Bupati dan Forkopimda Bahas Dampak Gempa Bumi dan Siapkan Aksi Bantu Warga Perbatasan

9 Juni 2026 - 16:42 WITA

Gempa Susulan Masih Terjadi, Ratusan Bangunan di Kecamatan Kepulauan Marore Terdampak

9 Juni 2026 - 12:26 WITA

Trending di Sangihe