Rote Ndao,Sulutnews.coom – Di sebuah sudut Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, terhampar sebuah ironi yang mencoreng wajah pelayanan publik. Kantor Desa Oelasin, yang seharusnya menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan pelayanan masyarakat, kini justru menjadi potret buram ketidakpedulian.
Dua tahun sudah berlalu sejak kantor desa ini ditinggalkan oleh aparatnya. Pintu-pintu terkunci rapat, jendela-jendela berdebu, dan suasana sepi menyelimuti bangunan tersebut. Pagar yang dulu kokoh berdiri, kini roboh dan berserakan, menjadi saksi bisu betapa lamanya kantor ini dibiarkan terlantar.
Halaman kantor pun tak luput dari pemandangan yang memprihatinkan. Tumpukan sampah menggunung di sana-sini, menciptakan aroma tak sedap yang menyesakkan dada. Rumput liar tumbuh subur, menutupi sebagian besar area halaman, seolah ingin menyembunyikan aib yang ada. Tak berlebihan jika ada yang menyebut kantor desa ini lebih mirip kandang binatang daripada tempat pelayanan publik.
Kondisi ini tentu saja memicu pertanyaan serius tentang kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah. Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, S.H., Camat Rote Barat Daya, Adrianus Bessie, dan Kepala Desa Oelasin, Matheos Y. Octavianus, seolah tutup mata terhadap kondisi yang memprihatinkan ini. Padahal, kantor desa merupakan ujung tombak pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
Laporan terbaru dari Sulutnews.com semakin memperburuk citra pemerintah daerah. Media tersebut mengungkap bahwa terbengkalainya Kantor Desa Oelasin bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga menyentuh inti kepercayaan publik. Masyarakat merasa diabaikan dan tidak dihargai oleh para pemimpin mereka.
Kini, masyarakat Oelasin menuntut penjelasan dan tindakan nyata dari para pejabat terkait. Mereka berharap agar pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki kondisi kantor desa dan mengaktifkan kembali pelayanan publik. Jangan biarkan persoalan ini terus berlarut-larut dan merugikan masyarakat Oelasin.
Reporter: Alden Mesah





