Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Internasional · 27 Agu 2025 22:41 WITA ·

Namarin Roundtable 2025 Dorong Kerjasama Intensif Redam Konflik di Laut China Selatan


Foto bersama para pembicara dan sebagian peserta pada Perbesar

Foto bersama para pembicara dan sebagian peserta pada "Namarin Roundtable 2025" di Jakarta, 26 Agustus 2025 (Foto: Dok. Namarin)

Jakarta,Sulutnews.com – Kerjasama yang intensif di kawasan sangat diperlukan untuk meredam konflik Laut China Selatan yang terus memanas dalam beberapa tahun terakhir. Demikian siaran pers Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, Rabu (27/8).

Disebutkan, kerjasama yang intensif dimaksud tertuang pada pembahasan “Namarin Roundtable 2025: Strategic Considerations and Policy Shifts of Trump 2.0 on the South China Sea and the Responses of Southeast Asian Countries” di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Bertindak selaku pembicara pada diskusi yang menghadirkan atase dan perwakilan negara sahabat itu adalah Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksma TNI Salim, Deputy Chief of Mission Philippine Embassy Gonar Musor, perwakilan CSIS Muhammad Waffaa Kharisma, dan perwakilan De La Salle University Philippine Renato Cruz de Castro.

Laksma TNI Salim menyebut bahwa isu Laut China Selatan sangat penting mengingat besarnya nilai ekonomi di kawasan tersebut. “Jalur perdagangan global mencapai triliunan Dolar AS, sumber daya energi juga melimpah. ‘Nah’ sengketa wilayah, kebebasan navigasi, dan meningkatnya ketegasan China jadi isu utama sekarang ini,” katanya.

Menurut dia, kerjasama yang dilakukan antar negara di kawasan ini menjadi penting untuk dilakukan, dan kerja sama investasi dan perdagangan harus sama-sama menguntungkan, walaupun juga mengandung risiko, sehingga harus dipertimbangkan secara matang oleh masing-masing negara terkait.

Sementara itu peneliti CSIS Muhammad Waffaa Kharisma menyebutkan, di tengah eskalasi yang terus memanas, Amerika Serikat (AS) justru melakukan perluasan operasi sekutunya di Asia Tenggara seperti Filipina.

“Bagi Asia Tenggara, tantangan utamanya bukan hanya menavigasi persaingan AS-China, tetapi memastikan kepentingannya tidak dikorbankan demi mengejar kesepakatan Trump atau China,” kata Waffaa sambil menambahkan bahwa saat ini Laut China Selatan memasuki era yang lebih militeristik dan transaksional.

“Masa jabatan kedua Trump akan menguji kapasitas ASEAN untuk tetap lebih dari sekadar penonton dalam permainan yang dilakukan oleh kekuatan yang lebih besar,” imbuhnya.

Sementara itu Renato Cruz de Castro dari De La Salle University Philippine menyatakan, Filipina bersama AS berupaya menghadapi ambisi China di Laut China Selatan. Hal itu tercermin dalam kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth ke Filipina pada akhir Maret 2025.

Kedua negara (Filipina dan AS) menegaskan kembali komitmen terhadap The Mutual Defense Treaty (Perjanjian Pertahanan Bersama/MDT). Pakta Pertahanan kedua negara itu ditandatangani Manila and Washington pada 1951.

Setelah pertemuan itu, Filipina dan AS sepakat untuk melakukan inisiatif yang bertujuan mengembangkan pencegahan keamanan di Laut China Selatan, yaitu pengerahan kemampuan tambahan Amerika yang canggih dan strategis, termasuk sistem interdiksi kapal ekspedisi Angkatan Laut-Marinir (NMESIS) ke Filipina.

Terakhir, Direktur Eksekutif Namarin, Siswanto Rusdi mengemukakan, “Namarin Roundtable 2025” menjadi solusi cerdas untuk membantu terciptanya perdamaian di Laut China Selatan.

Ia berharap ketegangan di kawasan itu tidak terus dibesar-besarkan karena berpotensi menuju eskalasi lebih besar, dan para pihak, menurut dia sebetulnya sadar untuk tidak memulai perang terbuka karena bisa merugikan semua pihak di kawasan.(*/Merson)

Artikel ini telah dibaca 1,227 kali

Baca Lainnya

5 Produk Men’s Biore Wajib Punya untuk Perawatan Wajah Pria

14 Juli 2026 - 19:58 WITA

Nekat! PT Genta & BP3MI Kirim PMI ke Malaysia Tanpa Rekom Disnakertrans

14 Juli 2026 - 18:29 WITA

Menaker akan Hadiri Forum BRICS, Bahas Jaminan Sosial hingga Pengembangan Keterampilan Kerja

14 Juli 2026 - 17:40 WITA

DPRD Rote Ndao Komisi II Respon Cepat: Panggil Pimpinan RSUD Ba’a ke RDP Besok, Usut Tuntas Kematian Agustinus Mau

13 Juli 2026 - 12:16 WITA

Nyawa Dihargai Lebih Murah dari Biaya Ambulans: RSUD Ba’a Halangi Rujukan, Agustinus Mau Mati Sia‑sia

13 Juli 2026 - 08:33 WITA

Forum Tanah Air Menyikapi Perseteruan Institusi Kejaksaan Dan Kepolisian

11 Juli 2026 - 21:13 WITA

Trending di Internasional