Reporter : Dance Henukh
Sulutnews.com,Rote Ndao – Hak sehat dijamin undang‑undang, tapi di RSUD Ba’a nyawa manusia justru dijadikan barang tawar. Agustinus Dominggus Mau (44 tahun 9 bulan), warga Desa Fatelilo, menghembuskan napas terakhir pukul 07.50 WITA Senin 13 Juni 2026 tepat di lingkungan RSUD Ba’a. Ia bukan mati karena penyakit tak tertolong secara medis, tapi mati karena jalannya sengaja ditutup rapat oleh pihak rumah sakit sendiri.
Fakta pedasnya: surat rujukan resmi ke RS Johanes Kupang sudah ada dan sah di tangan keluarga, dikeluarkan oleh dokter RSUD Ba’a yang mengakui kondisi pasien kritis dan butuh penanganan lebih lengkap. Tapi begitu keluarga minta ambulans berangkat, muncullah beragam alasan berganti‑ganti: kendaraan dipakai, mesin rusak, administrasi belum selesai — semuanya cuma kedok. Akar masalahnya cuma satu: biaya ambulans belum lunas.
Keluarga sudah merangkak memohon, berjanji membayar belakangan, memohon kemanusiaan didahulukan. Ditolak mentah‑mentah. Waktu berjalan, detik nyawa makin habis, petugas tetap kaku pada uang dan kertas. Akhirnya pasien menghembuskan napas terakhir di tempat yang sama, saat surat rujukan itu masih basah tertanda tangan. Ini bukan sekadar kelalaian. Ini rumah sakit sengaja membiarkan pasien mati, hanya karena urusan uang.
“Kami dipermainkan dari satu alasan ke alasan lain. Surat rujukan mereka sendiri yang buat, tapi merekalah yang menghalangi jalan selamat. Bagi mereka uang ambulans ternyata jauh lebih mahal harganya daripada nyawa saudara kami.” — Keluarga Besar Mau
“Kami orang desa sederhana, tidak berkuasa. Karena itu kami memohon keras kepada Bupati Rote Ndao: tolong usut sampai tulang. Jangan biarkan RSUD Ba’a terus mempermainkan nyawa pasien seperti kami. Hari ini Agustinus, besok bisa siapa saja.” — Keluarga Besar Mau
Prinsip dasar kesehatan: dalam keadaan darurat, nyawa nomor satu, biaya dan administrasi belakangan. Aturan itu diinjak‑injak habis‑habisan di RSUD Ba’a. Penyakit tidak membunuh Agustinus — birokrasi kaku dan keserakahan yang membunuhnya.
Tidak ada alasan yang bisa menutupi fakta ini: rumah sakit yang seharusnya menyelamatkan, justru menjadi penyebab utama nyawa melayang sia‑sia. Keadilan baru tercapai jika ada tindakan tegas, bukan sekadar kata‑kata maaf. Jangan biarkan nyawa warga Rote Ndao selamanya dinomorduakan di bawah uang.





