Michael G. Tumiwang/UKW6508
Manado,Sulutnews.com – Kerja nyata Walikota Manado Andrei Angouw (AA) dan Wakil Walikota Richard Sualang (RS) membuahkan hasil. Setelah menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2022 dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), kali ini, AA-RS kembali menghantar Kota Manado menjadi daerah dengan pendapatan perkapita tertinggi di Sulut.
Ini membuktikan, visi dan misi AA-RS mewujudkan Manado sebagai kota Maju dan Sejahtera bukan sekedar slogan belaka.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai Pendapatan Perkapita se Provinsi Sulawesi Utara, dan menempatkan Kota Manado pada urutan tertinggi pertama dibanding daerah lain, dengan rata-rata pendapatan perkapita sebesar Rp 96.600.000 per tahun atau Rp 8.050.000, per bulan.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu perangkat data ekonomi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan ekonomi suatu wilayah (provinsi maupun kabupaten/kota).
Kenaikan PDRB Kota Manado tidak lepas dari kerja keras Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam merumuskan kebijakan dan strategi mewujudkan Kota Manado yang tidak hanya maju tapi juga sejahtera.
“Dalam hal perekonomian, upaya pemerintah dalam menggerakkan roda perekonomian pasca pandemi terus didorong dengan membuka peluang investasi sampai dengan IKM/UMKM yang mendorong naiknya daya beli masyarakat,” kata Astrid Kumentas, Staf Khusus walikota Bidang Pengkajian Pengawasan Pembangunan Daerah, Senin (17/07).
Ia mengatakan, Pemkot Manado membuat sejumlah kebijakan strategis dalam rangka mendorong perekonomian lebih maju, setelah sebelumnya digerus oleh pandemi. Hal ini ditunjang dengan berbagai kebijakan strategis diantaranya, ditetapkannya Perda Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang memudahkan masyarakat dan investor dalam mengurus retribusi bangunan gedung, sehingga mampu mendorong iklim usaha di Kota Manado.
“Efisiensi belanja yang diterapkan oleh AA-RS dibuktikan mampu membuat inovasi dalam tata kelola pemerintahan. Selain itu efisiensi pengelolaan keuangan daerah yang diterapkan menjadi salah satu faktor utama kenaikan angka PDRB Kota Manado. Optimalisasi PAD, efisiensi belanja pemerintah dan penggunaan dana publik secara efektif, ditunjang dengan berbagai inovasi dalam pemerintahan telah menunjukan hasil yang positif. Capaian PDRB ini menjadi kado spesial bagi Kota Manado di usia 400 tahun,” jelas Kumentas.
Sementara menurut Ronald Nangoy, Stafsus Bidang Pengkajian Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, melejitnya perekonomian di Kota Manado tak lepas dari sektor perdagangan.
Ia mengatakan, pembangunan sejumlah pasar kearah modernisasi, memacu roda perekonomian di Kota Manado.
“Meningkatnya pendapatan per kapita di Kota Manado didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sektor perdagangan yang menjadi misi pemkot telah berhasil dengan baik, utamanya Pasar Bersehati telah menjelma dari pasar tradisional menjadi Pasar Modern,” kata Nangoy.
Sektor pariwisata juga cukup berperan dalam meningkatnya PDRB di Kota Manado.
“Sektor pariwisata dirasakan mampu mendorong perekonomian. Pembangunan Malalayang Beach Walk (MBW) dan dermaga Bunaken serta infrastruktur penunjang lainnya seperti pedestarian jalan Piere Tendean, merebaknya UMKM mampu mendongkrak perekonomian sektor pariwisata,” ujarnya.
Disisi lain, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Manado, Joy Elly Tulung, PhD, berpendapat, peningkatan PDRB yang signifikan didukung oleh geliat perekonomian Manado sebagai ibukota provinsi Sulawesi Utara.
“Pendapatan perkapita kota Manado menjadi tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara memang sudah tidak mengherankan lagi karena, Manado adalah pusat perputaran perekenomian Sulawesi Utara. Sebagai ibukota Provinsi memang sudah sewajarnya pendapatan warganya lebih besar dari kabupaten kota yang lain,” ujar Joy.(*)








