JERUJI BOLEH MENGURUNG RAGA, TETAPI JANGAN BIARKAN HARAPAN IKUT TERKUNCI. KARENA SETIAP ORANG BERHAK MENDAPATKAN KESEMPATAN UNTUK BELAJAR, BERUBAH, DAN MEMULAI KEMBALI
Reporter : Dance Henukh
ROTE NDAO, SULUTNEWS.COM — Jeruji besi boleh membatasi langkah, tembok penjara boleh memisahkan mereka dari dunia luar, tetapi mimpi untuk memiliki masa depan yang lebih baik tidak boleh ikut dipenjara!
Kalimat inilah yang menggambarkan semangat 21 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Baa, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tetap berjuang mengejar pendidikan melalui program Paket A, B, dan C, Sabtu (17/10/2026).
Di saat sebagian orang mungkin menganggap kehidupan di balik jeruji sebagai jalan buntu, 21 warga binaan ini justru membuktikan bahwa kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun masa depan masih terbuka.
MEREKA BUKAN HANYA MENJALANI HUKUMAN, MEREKA JUGA SEDANG BERJUANG MEMPERBAIKI KEHIDUPAN!
Melalui kerja sama Lapas Baa dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Zaitun, pendidikan tetap hadir di balik tembok penjara.
Dari 21 peserta, tiga orang mengikuti Paket A setara SD, 13 orang mengikuti Paket B setara SMP, dan lima orang mengikuti Paket C setara SMA.
Bagi sebagian orang, belajar mungkin merupakan rutinitas biasa. Namun, bagi warga binaan yang sedang menjalani masa pidana, kesempatan duduk kembali dalam proses pembelajaran bisa menjadi langkah penting untuk menata kehidupan yang lebih baik.
Kali ini, tenaga pengajar PKBM Zaitun, Benyamin Sinlae, membimbing peserta mempelajari seni bercerita dan penyampaian narasi. Mereka belajar merangkai gagasan, menyusun cerita, serta mengungkapkan pikiran dengan jelas dan percaya diri.
DI BALIK JERUJI, MASIH ADA HARAPAN. DI BALIK KESALAHAN MASA LALU, MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK BERUBAH.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Kelas III Baa, Devin C. Ku, yang turut mendampingi pembelajaran, mengapresiasi semangat para peserta.Menurutnya, pendidikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan potensi dan keberanian mereka.”Kami senang melihat warga binaan begitu antusias mengikuti pembelajaran. Materi hari ini memang terlihat sederhana, tetapi kemampuan menyusun cerita dan menyampaikan pendapat itu penting. Kami ingin mereka tidak hanya sekadar mengikuti pelajaran, tetapi juga berani mencoba dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki,” ujar Devin.
Semangat itu bukan sekadar kata-kata.
Salah seorang warga binaan berinisial K mengaku bahagia karena masih mendapatkan kesempatan untuk belajar selama menjalani masa pembinaan.”Saya senang masih bisa sekolah dan belajar di sini. Banyak hal baru yang kami dapatkan, termasuk bagaimana bercerita dan menyampaikan pendapat dengan baik. Saya ingin terus belajar supaya nanti saat bebas, saya sudah punya tambahan ilmu yang bisa saya gunakan,” ungkapnya.
Pernyataan sederhana itu menyimpan harapan besar: bahwa ketika masa pidana berakhir, kehidupan baru masih mungkin dimulai dengan bekal pengetahuan dan kemauan untuk berubah.
HARIYADI: TEMBOK LAPAS TIDAK BOLEH MEMENJARAKAN MASA DEPAN!
Kepala Lapas Kelas III Baa, Hariyadi N. Maikameng, menegaskan bahwa warga binaan tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang layak.”Tembok Lapas tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka untuk terus belajar. Kami ingin memastikan warga binaan tetap memiliki kesempatan menempuh pendidikan sesuai jenjangnya. Melalui kerja sama dengan PKBM Zaitun, kami berupaya menghadirkan akses pendidikan yang layak bagi mereka,” tegas Hariyadi.
Program pendidikan kesetaraan bersama PKBM Zaitun menjadi bagian dari pembinaan untuk memberikan kesempatan kepada warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah.Harapannya, mereka tidak hanya menyelesaikan masa pidana, tetapi juga membawa pulang pengetahuan, keterampilan, dan semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
SEBAB MASA LALU TIDAK HARUS MENJADI AKHIR SEGALANYA!
Pendidikan tidak menghapus kesalahan yang pernah dilakukan. Namun, pendidikan dapat membuka jalan bagi seseorang untuk belajar dari masa lalu dan mempersiapkan masa depan yang berbeda.Dari balik tembok Lapas Baa, 21 warga binaan sedang mengirimkan pesan sederhana kepada masyarakat: kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri tidak seharusnya berhenti hanya karena seseorang sedang menjalani hukuman.
JERUJI BOLEH MENGURUNG RAGA, TETAPI JANGAN BIARKAN HARAPAN IKUT TERKUNCI. KARENA SETIAP ORANG BERHAK MENDAPATKAN KESEMPATAN UNTUK BELAJAR, BERUBAH, DAN MEMULAI KEMBALI






