Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Internasional · 13 Jul 2026 08:33 WITA ·

Nyawa Dihargai Lebih Murah dari Biaya Ambulans: RSUD Ba’a Halangi Rujukan, Agustinus Mau Mati Sia‑sia


Nyawa Dihargai Lebih Murah dari Biaya Ambulans: RSUD Ba’a Halangi Rujukan, Agustinus Mau Mati Sia‑sia Perbesar

Reporter : Dance Henukh

Sulutnews.com,Rote Ndao – Hak sehat dijamin undang‑undang, tapi di RSUD Ba’a nyawa manusia justru dijadikan barang tawar. Agustinus Dominggus Mau (44 tahun 9 bulan), warga Desa Fatelilo, menghembuskan napas terakhir pukul 07.50 WITA Senin 13 Juni 2026 tepat di lingkungan RSUD Ba’a. Ia bukan mati karena penyakit tak tertolong secara medis, tapi mati karena jalannya sengaja ditutup rapat oleh pihak rumah sakit sendiri.

Fakta pedasnya: surat rujukan resmi ke RS Johanes Kupang sudah ada dan sah di tangan keluarga, dikeluarkan oleh dokter RSUD Ba’a yang mengakui kondisi pasien kritis dan butuh penanganan lebih lengkap. Tapi begitu keluarga minta ambulans berangkat, muncullah beragam alasan berganti‑ganti: kendaraan dipakai, mesin rusak, administrasi belum selesai — semuanya cuma kedok. Akar masalahnya cuma satu: biaya ambulans belum lunas.

Keluarga sudah merangkak memohon, berjanji membayar belakangan, memohon kemanusiaan didahulukan. Ditolak mentah‑mentah. Waktu berjalan, detik nyawa makin habis, petugas tetap kaku pada uang dan kertas. Akhirnya pasien menghembuskan napas terakhir di tempat yang sama, saat surat rujukan itu masih basah tertanda tangan. Ini bukan sekadar kelalaian. Ini rumah sakit sengaja membiarkan pasien mati, hanya karena urusan uang.

“Kami dipermainkan dari satu alasan ke alasan lain. Surat rujukan mereka sendiri yang buat, tapi merekalah yang menghalangi jalan selamat. Bagi mereka uang ambulans ternyata jauh lebih mahal harganya daripada nyawa saudara kami.” — Keluarga Besar Mau

“Kami orang desa sederhana, tidak berkuasa. Karena itu kami memohon keras kepada Bupati Rote Ndao: tolong usut sampai tulang. Jangan biarkan RSUD Ba’a terus mempermainkan nyawa pasien seperti kami. Hari ini Agustinus, besok bisa siapa saja.” — Keluarga Besar Mau

Prinsip dasar kesehatan: dalam keadaan darurat, nyawa nomor satu, biaya dan administrasi belakangan. Aturan itu diinjak‑injak habis‑habisan di RSUD Ba’a. Penyakit tidak membunuh Agustinus — birokrasi kaku dan keserakahan yang membunuhnya.

Tidak ada alasan yang bisa menutupi fakta ini: rumah sakit yang seharusnya menyelamatkan, justru menjadi penyebab utama nyawa melayang sia‑sia. Keadilan baru tercapai jika ada tindakan tegas, bukan sekadar kata‑kata maaf. Jangan biarkan nyawa warga Rote Ndao selamanya dinomorduakan di bawah uang.

Artikel ini telah dibaca 162 kali

Baca Lainnya

Forum Tanah Air Menyikapi Perseteruan Institusi Kejaksaan Dan Kepolisian

11 Juli 2026 - 21:13 WITA

KEPASTIAN HUKUM ATAS TANAH 170,55 HEKTAR DENGAN SURAT PERNYATAAN BERSAMA UNTUK TUTUP SENGKETA PULUHAN TAHUN

9 Juli 2026 - 21:40 WITA

ATURAN BARU 2026 TEGAS SEKALI!PENGENALAN SISWA BARU OSPEK ANEH‑ANEH DILARANG TOTAL, SANKSI BERAT SAMPAI DICOPOT JABATAN

8 Juli 2026 - 08:31 WITA

MPLS TAHUN AJARAN 2026/2027 DIBUKA: BUPATI & WAKIL BUPATI ROTE NDAO KUKUHKAN “MPLS RAMAH”, TANPA OSPEK ANEH‑ANEH DAN TANPA KEKERASAN

8 Juli 2026 - 08:24 WITA

Dinas ESDM NTT Terbitkan Izin Pertambangan Batu Gamping di Rote Ndao untuk CV Kuda Laut

7 Juli 2026 - 14:16 WITA

Dinas Pendidikan Tegaskan PIP Dijamin Tepat Guru Antar Rapor Agar Tahu Kebutuhan Nyata

6 Juli 2026 - 17:14 WITA

Trending di Internasional