Tahuna, Sulutnews.com – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Nusa Utara Indonesia (KKNUI), Dr. Hendrik Manossoh, mengungkapkan kekagumannya saat mengunjungi wilayah perbatasan Indonesia-Filipina dalam rangka misi kemanusiaan. Selain terpesona oleh keindahan alam pulau-pulau terluar, Manossoh juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan tersebut.

Dalam kunjungan yang berlangsung pada Senin (22/06/2026), Manossoh didampingi Sekretaris Jenderal KKNUI, Pieter Sasundame, menyambangi tiga pulau terluar di Kecamatan Kepulauan Marore, yakni Pulau Matutuang, Kawio, dan Marore. Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tergarap, baik dari sektor pariwisata maupun ekonomi perbatasan.
“Opo Jo” sapaan akrab Hendrik Manossoh menuturkan, panorama pantai berpasir putih, laut yang jernih, serta keunikan geografis pulau-pulau terluar menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, ia meyakini wilayah perbatasan Indonesia-Filipina dapat berkembang menjadi destinasi wisata kelas dunia apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.

“Ketika saya melihat langsung keindahan Matutuang, Kawio, dan Marore, saya semakin yakin bahwa kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjadi ikon wisata bahari Indonesia. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Filipina menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Ini adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Manossoh.
Ia menambahkan, Indonesia dapat belajar dari keberhasilan Maladewa yang mampu menjadikan gugusan pulau kecil sebagai magnet wisata dunia. Menurutnya, pulau-pulau terluar di utara Indonesia tidak kalah menarik dan memiliki peluang yang sama untuk dikenal di tingkat internasional.

“Maladewa berhasil mengubah keterbatasan geografis menjadi kekuatan ekonomi melalui sektor pariwisata. Saya percaya pulau-pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe juga mampu melakukan hal yang sama. Yang dibutuhkan adalah komitmen, infrastruktur pendukung, promosi yang tepat, serta keterlibatan masyarakat lokal sebagai pelaku utama pembangunan,” katanya.
Bagi Manossoh, kawasan perbatasan bukan hanya sekadar gugusan pulau yang menandai batas negara, melainkan aset strategis nasional yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Keberadaan masyarakat yang ramah, budaya yang masih terjaga, serta adat istiadat yang kuat menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Keindahan alam saja tidak cukup. Yang membuat wisatawan ingin kembali adalah masyarakatnya. Saya melihat masyarakat di perbatasan memiliki keramahan yang luar biasa, budaya yang unik, dan semangat kebersamaan yang kuat. Ini merupakan kekuatan besar yang bisa menjadi daya tarik wisata internasional,” ungkapnya.
Kunjungan tersebut, lanjut Manossoh, memberikan inspirasi sekaligus tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan pentingnya pembangunan kawasan perbatasan sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menilai wilayah perbatasan harus mendapatkan perhatian lebih besar karena memiliki peran strategis sebagai beranda terdepan bangsa.
“Perbatasan harus dipandang sebagai wajah Indonesia di mata dunia. Karena itu, pembangunan di wilayah ini tidak boleh tertinggal. Selain menjadi destinasi wisata unggulan, kawasan perbatasan juga memiliki peluang besar sebagai gerbang ekonomi melalui kerja sama lintas batas, termasuk pemanfaatan Border Crossing Agreement (BCA) antara Indonesia dan Filipina,” jelasnya.

Menurut Manossoh, jika potensi pariwisata dan perdagangan lintas batas dapat berjalan beriringan, maka kawasan perbatasan akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan negara.
“Ketika pariwisata tumbuh dan aktivitas ekonomi lintas batas semakin berkembang, maka akan lahir pusat-pusat ekonomi baru di kawasan perbatasan. Dampaknya bukan hanya pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kehadiran negara di wilayah terdepan. Inilah yang pada akhirnya akan mengubah wajah perbatasan menjadi kawasan yang maju, sejahtera, dan membanggakan Indonesia di mata dunia,” tutup Manossoh. (Andy Gansalangi)





