Tahuna, Sulutnews.com – Komitmen berbagi kasih kepada masyarakat perbatasan kembali ditunjukkan Kerukunan Keluarga Nusa Utara Indonesia (KKNUI). Melalui misi kemanusiaan pascagempa bumi yang mengguncang wilayah perbatasan pada 8 Juni lalu, organisasi tersebut sukses menjangkau pulau-pulau terluar di perbatasan Indonesia–Filipina.
Dipimpin langsung Ketua Umum KKNUI, Dr. Hendrik Manossoh, didampingi Sekretaris Jenderal Pieter Sasundame, rombongan bertolak dari Pelabuhan Nusantara Tahuna menggunakan KM Sabuk Nusantara 109, Senin (22/06/2026) dini hari.
Perjalanan kemanusiaan itu menyasar Pulau Kawaluso, Matutuang, Kawio hingga Marore.
Perjalanan laut yang ditemani hembusan angin selatan dan gelombang yang cukup tinggi tidak menyurutkan semangat para pengurus KKNUI untuk membawa bantuan bagi warga yang terdampak bencana.

Setelah menurunkan penumpang di Pulau Kawaluso, kapal melanjutkan pelayaran menuju Pulau Matutuang. Namun cuaca buruk membuat kapal tidak dapat bersandar di pelabuhan sehingga harus berlabuh di sisi lain pulau demi keselamatan.
Karena kondisi tersebut, pengurus KKNUI tidak dapat turun langsung ke daratan. Bantuan kemanusiaan kemudian diserahkan secara simbolis kepada masyarakat setempat yang didampingi Kapitalaung Matutuang dan Camat Marore, Marcos Sasiang.
Meski dilakukan di atas kapal, masyarakat tetap berupaya mendekati lokasi sandar untuk menerima bantuan. Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi proses penyerahan bantuan tersebut.
Kapitalaung Matutuang, Nurusiyanti Manderes, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan KKNUI kepada masyarakat perbatasan.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada KKNUI yang telah datang membawa bantuan bagi masyarakat Matutuang. Di tengah keterbatasan akibat cuaca dan dampak gempa yang kami rasakan, kepedulian ini menjadi penguatan bagi warga untuk tetap semangat menghadapi keadaan,” ujar Manderes.
Dari Matutuang, KM Sabuk Nusantara 109 yang dinakhodai Kapten Jorris Rahalus, putra Manganitu, melanjutkan pelayaran menuju Pulau Kawio.
Setibanya di Kawio, ombak dan arus laut masih menjadi tantangan. Namun berkat keterampilan awak kapal, KM Sabuk Nusantara 109 akhirnya berhasil merapat di dermaga.
Camat Marore bersama masyarakat setempat bergotong royong menurunkan bantuan sembako dari kapal. Mengingat kondisi cuaca yang kurang bersahabat, penyerahan bantuan dilakukan langsung di area dermaga.
Kapitalaung Kawio, Batin Mamintade, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterima masyarakatnya.
“Atas nama pemerintah kampung dan seluruh masyarakat Kawio, kami mengucapkan terima kasih kepada KKNUI yang telah hadir dan memperhatikan warga di wilayah perbatasan. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat kami yang sedang berupaya bangkit setelah bencana,” katanya.
Usai menyelesaikan kegiatan di Kawio, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Marore, salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Tiba di Marore, cuaca kembali menjadi tantangan. Kapal sempat mengalami kesulitan saat akan merapat ke dermaga. Namun berkat pengalaman Kapten Jorris Rahalus, kapal akhirnya berhasil bersandar dengan aman.
Di Marore, Camat Marore bersama perangkat kampung, Pendeta Jemaat GMIST Imanuel Marore Pdt. Heindrich Wolff, serta masyarakat bahu-membahu mengangkut bantuan menuju pastori. Selanjutnya bantuan kemanusiaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum KKNUI, Hendrik Manossoh, di dampingi Sekum, Camat Marore, Marcos Sasiang, menyampaikan apresiasi atas kepedulian KKNUI terhadap masyarakat perbatasan.
“Wilayah kami berada di garis terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehadiran KKNUI di tengah masyarakat yang terdampak gempa menjadi bukti bahwa warga perbatasan tidak sendiri. Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kepedulian yang diberikan,” ungkap Sasiang.

Hal senada disampaikan Pendeta GMIST Imanuel Marore, Pdt. Heindrich Wolff.
“Bantuan ini bukan hanya soal sembako, tetapi juga menghadirkan penguatan moral dan kasih bagi masyarakat. Kehadiran KKNUI menjadi bukti nyata bahwa semangat persaudaraan Nusa Utara tetap hidup hingga ke wilayah perbatasan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Tinggi Kampung (MTK) Marore, Sosteni W. Mauntu, menilai kehadiran KKNUI menjadi penghiburan tersendiri bagi masyarakat.
“Kami merasa terharu karena masih banyak pihak yang peduli dengan kondisi masyarakat perbatasan. Semoga semangat kebersamaan seperti ini terus terjalin demi kemajuan dan kesejahteraan warga Marore,” ujarnya.
Ketua Umum KKNUI, Hendrik Manossoh, mengatakan misi kemanusiaan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan panggilan kemanusiaan organisasi terhadap sesama warga Nusa Utara yang sedang mengalami kesulitan.

“KKNUI hadir bukan hanya sebagai wadah pemersatu masyarakat Nusa Utara, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Ketika saudara-saudara kita mengalami musibah, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk hadir dan berbagi,” kata Manossoh.
Pria yang akrab disapa Opo Manossoh itu juga mengaku bangga karena seluruh pengurus dan anggota KKNUI dapat bersama-sama mewujudkan aksi kemanusiaan hingga ke wilayah terluar Indonesia.
Menurutnya, sebagai putra Nusa Utara, dirinya turut merasakan keprihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat perbatasan. Karena itu, selain menyerahkan bantuan, ia juga menyempatkan diri berdialog dengan warga guna mendengarkan langsung kondisi dan kebutuhan yang mereka hadapi pascabencana.
“Kami datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga ingin mendengar dan merasakan apa yang dialami masyarakat. Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban warga dan menjadi bukti bahwa masyarakat perbatasan selalu ada di hati keluarga besar KKNUI,” pungkasnya. (Andy Gansalangi)





