Menu

Mode Gelap
BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe

Sangihe · 9 Jun 2026 06:42 WITA ·

170 Tahun Gempa Dahsyat yang Mengguncang Tanah Sangihe


Foto Dokumen Artikel yang ditulis oleh Budayawan Alffian Walukow Perbesar

Foto Dokumen Artikel yang ditulis oleh Budayawan Alffian Walukow

Tahuna, Sulutnews.com – Hari ini masyarakat Kepulauan Sangihe diajak untuk kembali mengenang salah satu bencana terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah daerah ini. Tepat sekitar 170 tahun yang lalu, pada tahun 1856, sebuah gempa bumi dahsyat yang dalam bahasa Sangihe disebut Linuhe mengguncang Pulau Sangihe Besar dan meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan masyarakat maupun arsip kolonial Belanda.

Bagi masyarakat Sangihe, gempa bumi bukanlah sekadar fenomena alam. Linuhe merupakan bagian dari perjalanan sejarah panjang yang membentuk karakter masyarakat kepulauan di perbatasan utara Nusantara ini. Selama berabad-abad, penduduk hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi, letusan gunung api, gelombang laut besar, dan longsor yang datang silih berganti.

Sejumlah tradisi lisan bahkan mengaitkan nama “Sangihe” dengan kata sangi yang berarti tangisan atau ratapan. Walaupun penjelasan ini belum memperoleh dukungan penuh dari penelitian linguistik modern, kisah tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai tanah leluhur mereka sebagai wilayah yang berulang kali diuji oleh bencana alam.

Catatan Kolonial tentang Gempa Besar 1856

Peristiwa tahun 1856 menjadi salah satu gempa paling awal yang tercatat secara jelas dalam dokumentasi kolonial Belanda.

Dalam penelitian sejarah bencana yang dilakukan oleh Alicia Schrikker berdasarkan arsip Hindia Belanda, disebutkan:

“Earthquake and tidal wave on the island Sangihe Besar.”

Terjemahan:

“Gempa bumi dan gelombang laut besar di Pulau Sangihe Besar.”

Keterangan singkat tersebut merupakan bagian dari inventaris bencana yang dicatat pemerintah kolonial pada pertengahan abad ke-19.

Laporan-laporan Belanda pada masa itu menunjukkan bahwa gempa tidak hanya mengguncang daratan, tetapi juga memicu gelombang laut yang merusak kawasan pesisir. Sebagian kampung mengalami kerusakan berat, sementara jalur pelayaran antara Manado, Sangihe, Talaud, dan Filipina terganggu selama beberapa waktu.

Sangihe dalam Arsip Seismologi Hindia Belanda

Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial mulai mengumpulkan laporan gempa secara lebih sistematis. Berbagai catatan dari pejabat, zendeling (misionaris), kapten kapal, dan pegawai pemerintahan dikirim ke Batavia untuk didokumentasikan.

Dalam karya monumental Belanda berjudul:

“Catalogus der Aardbevingen in den Indischen Archipel”

yang disusun oleh seismolog Belanda W. F. Fuchs dan kemudian digunakan dalam berbagai katalog gempa Hindia Belanda, wilayah Sangihe dan Laut Maluku berkali-kali disebut sebagai daerah dengan aktivitas seismik tinggi.

Sementara itu, laporan tahunan lembaga ilmiah Belanda:

“Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium te Batavia”

secara rutin mencatat kejadian gempa yang dirasakan di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Kepulauan Sangihe.

Salah satu laporan kolonial menyebut:

“De Noordelijke Molukken en Sangir-eilanden behooren tot de meest onrustige streken van den Archipel.”

Terjemahan:

“Maluku Utara dan Kepulauan Sangir termasuk wilayah paling tidak tenang di Kepulauan Hindia.”

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa para ilmuwan kolonial telah lama menyadari tingginya aktivitas tektonik di kawasan ini.

Linuhe dalam Ingatan Orang Sangihe

Jauh sebelum hadirnya alat ukur modern, masyarakat Sangihe telah menyimpan memori kolektif mengenai gempa-gempa besar.

Banyak keluarga menandai waktu berdasarkan peristiwa bencana, seperti:

– sebelum linuhe besar,
– sesudah linuhe besar,
– tahun gelombang laut besar,
– tahun kampung dipindahkan.

Tradisi semacam ini membuat sejarah bencana tetap hidup meskipun tidak ditulis dalam dokumen resmi.

Para zendeling Belanda yang bertugas di Sangihe pada abad ke-19 juga mencatat bahwa masyarakat sering menghubungkan gempa bumi dengan peristiwa penting dalam kehidupan sosial mereka.

Dari Tahun 1856 Hingga 2026

Jika dihitung dari peristiwa besar tahun 1856 hingga tahun 2026, telah berlalu sekitar 170 tahun.

Selama rentang waktu tersebut, Sangihe terus mengalami berbagai gempa bumi, baik yang berskala kecil maupun besar. Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan masyarakat modern memantau aktivitas tektonik secara lebih baik melalui jaringan pemantauan BMKG dan lembaga internasional.

Namun demikian, kenyataan geologis tidak berubah. Sangihe tetap berada di salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di dunia, di antara Lempeng Laut Maluku, Busur Sangihe, dan sistem tektonik Filipina.

Pengingat bagi Generasi Masa Kini

Peringatan 170 tahun Linuhe Besar 1856 bukan sekadar mengenang bencana masa lalu.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat Sangihe hidup di wilayah yang dibentuk oleh kekuatan alam luar biasa. Sejarah menunjukkan bahwa leluhur Sangihe mampu bertahan, membangun kembali kampung mereka, dan mewariskan nilai gotong royong serta ketangguhan kepada generasi berikutnya.

Hari ini, ketika bumi Sangihe masih sesekali bergetar, kisah Linuhe 1856 tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa kesiapsiagaan, pengetahuan sejarah, dan penghormatan terhadap alam merupakan warisan penting yang harus terus dijaga.

Sebab bagi masyarakat Sangihe, Linuhe bukan hanya peristiwa geologi. Linuhe adalah bagian dari identitas sejarah sebuah bangsa kepulauan yang telah bertahan selama berabad-abad di ujung utara Nusantara.

Artikel ini ditulis oleh Budayawan Alffian Walukow.

Artikel ini telah dibaca 1,121 kali

Baca Lainnya

Kawio Jadi Fokus Penanganan Pascagempa, Pemkab Sangihe Pastikan Bantuan Tersalurkan

11 Juni 2026 - 21:54 WITA

BMKG Verifikasi Data Tsunami di Talengen

10 Juni 2026 - 22:34 WITA

Siswahto Ajak Petugas Sensus Ekonomi 2026 Bekerja Penuh Tanggung Jawab

10 Juni 2026 - 19:24 WITA

Gubernur Disorot Usai Gempa Sangihe, Tokoh Masyarakat Pertanyakan Empatinya

10 Juni 2026 - 13:54 WITA

BNPB Rilis Dampak Gempa M 7,7 di Sangihe, Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat

10 Juni 2026 - 10:03 WITA

BPS Sangihe Latih 155 Petugas Sensus Ekonomi 2026

9 Juni 2026 - 16:55 WITA

Trending di Sangihe