MINAHASA,Sulitnews.com – Beredarnya video penolakan warga terhadap rencana pembangunan objek wisata paralayang di Desa Agotey, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa diduga berkaitan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kerusakan lingkungan, khususnya sumber mata air di sekitar lokasi yang direncanakan menjadi area pengembangan wisata.Dalam video yang beredar, juga terungkap adanya komunikasi langsung melalui video call antara pihak pengusaha dengan warga. komunikasi tersebut turut dikonfirmasi oleh pihak Kepolisian Sektor Pineleng.
Untuk memastikan duduk persoalan, pemilik lahan, pengusaha Wenny Lumentut.
Dalam keterangannya, menegaskan bahwa lahan yang menjadi polemik tersebut merupakan tanah perkebunan yang sah secara hukum.
“Ini tanah perkebunan, bukan hutan lindung. Tanah bersertipikat sejak 25 tahun lalu dan sudah memiliki seerifikat hak milik” ujar WL.
Ia juga menambahkan bahwa secara administratif, Desa Agotey tidak tercatat sebagai kawasan hutan lindung. Wilayah tersebut, menurutnya, selama ini dikenal sebagai area perkebunan kelapa serta pertanian masyarakat.Secara geografis, Agotey berada di kaki Gunung Tatawiran. Meski berada di kawasan perbukitan, wilayah ini lebih dikenal sebagai kawasan perkebunan dan lokasi wisata dataran tinggi seperti Tetempangan Hill.
Menanggapi kekhawatiran warga terkait sumber air, WL menjelaskan bahwa secara aliran geografis, lokasi lahannya tidak terhubung dengan sumber air yang dimanfaatkan wilayah lain.“Air yang dipakai Koha Timur diambil dari kuala atau Sungai Tateli. Sementara lokasi saya di Agotey jauh dari aliran itu, bahkan harus melewati beberapa gunung,”jelasnya sambik menambahkan bahwa kontur tanah di lokasi tersebut justru mengarah ke wilayah Agotey Lemoh, bukan ke daerah lain yang dikhawatirkan terdampak.“Lokasi saya miring ke arah Agotey Lemoh,” tegas WL.
Lahan tersebut telah dibeli sejak sekitar 25 tahun lalu, namun baru mulai dikembangkan saat ini. Dari total luas yang dimiliki, sekitar 5 hektare akan dimanfaatkan untuk kegiatan paralayang,dan sisanya akan ditanam 2000 Pohon Duren dan Kopi sementara sisanya sekitar 50 hektare itu tidak disentuh dan pohon akan dibiarkan hidup.(josh tinungki)







