Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

Manado · 22 Apr 2026 15:59 WITA ·

Wenny Lumentut : Lahan Yang Dipersoalkan Adalah Lahan Perkebunan Bukan Hutan Lindung


Wenny Lumentut  : Lahan Yang Dipersoalkan Adalah  Lahan Perkebunan Bukan Hutan Lindung Perbesar

MINAHASA,Sulitnews.com – Beredarnya video penolakan warga terhadap rencana pembangunan objek wisata paralayang di Desa Agotey, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa diduga berkaitan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kerusakan lingkungan, khususnya sumber mata air di sekitar lokasi yang direncanakan menjadi area pengembangan wisata.Dalam video yang beredar, juga terungkap adanya komunikasi langsung melalui video call antara pihak pengusaha dengan warga. komunikasi tersebut turut dikonfirmasi oleh pihak Kepolisian Sektor Pineleng.

Untuk memastikan duduk persoalan, pemilik lahan, pengusaha Wenny Lumentut.

Dalam keterangannya, menegaskan bahwa lahan yang menjadi polemik tersebut merupakan tanah perkebunan yang sah secara hukum.

“Ini tanah perkebunan, bukan hutan lindung. Tanah bersertipikat sejak 25 tahun lalu dan sudah memiliki seerifikat hak milik” ujar WL.

Ia juga menambahkan bahwa secara administratif, Desa Agotey tidak tercatat sebagai kawasan hutan lindung. Wilayah tersebut, menurutnya, selama ini dikenal sebagai area perkebunan kelapa serta pertanian masyarakat.Secara geografis, Agotey berada di kaki Gunung Tatawiran. Meski berada di kawasan perbukitan, wilayah ini lebih dikenal sebagai kawasan perkebunan dan lokasi wisata dataran tinggi seperti Tetempangan Hill.

Menanggapi kekhawatiran warga terkait sumber air, WL menjelaskan bahwa secara aliran geografis, lokasi lahannya tidak terhubung dengan sumber air yang dimanfaatkan wilayah lain.“Air yang dipakai Koha Timur diambil dari kuala atau Sungai Tateli. Sementara lokasi saya di Agotey jauh dari aliran itu, bahkan harus melewati beberapa gunung,”jelasnya sambik menambahkan bahwa kontur tanah di lokasi tersebut justru mengarah ke wilayah Agotey Lemoh, bukan ke daerah lain yang dikhawatirkan terdampak.“Lokasi saya miring ke arah Agotey Lemoh,” tegas WL.

Lahan tersebut telah dibeli sejak sekitar 25 tahun lalu, namun baru mulai dikembangkan saat ini. Dari total luas yang dimiliki, sekitar 5 hektare akan dimanfaatkan untuk kegiatan paralayang,dan sisanya akan ditanam 2000 Pohon Duren dan Kopi  sementara sisanya sekitar 50 hektare itu tidak disentuh dan pohon akan dibiarkan hidup.(josh tinungki)

Artikel ini telah dibaca 998 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sambutan Gubernur Sulut Pada Pelantikan & Pengukuhan Pengurus PWI Sulut 2026-2031

13 Mei 2026 - 22:51 WITA

SMA Negeri 9 Manado Catat 824 Murid Lulus Bersekolah Pada Tahun 2026

13 Mei 2026 - 22:12 WITA

UNIPAR Manado Buka Prodi Hukum Bisnis Program Kuliah Fleksibel dan Karier Luas

13 Mei 2026 - 15:18 WITA

Anabelle Angouw Bangga Kunjungi Kantor DPRD Sulut Bersama Ratusan Siswa MIS

13 Mei 2026 - 14:09 WITA

Kalvari Pineleng Bermazmur Interdenominasi Gereja Siap Digelar

13 Mei 2026 - 13:07 WITA

Kabid SMK Dikda Sulut Vecky Pangkerego: 480 Lulusan SMK Negeri 1 Manado Berkompeten dan Siap Bersaing  

13 Mei 2026 - 10:54 WITA

Trending di Manado