Reporter : Dance Henukh
ROTE NDAO — Perhatian terhadap beranda selatan Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali tertuju pada Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Sabtu, 24 Oktober 2026, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., melakukan kunjungan kerja ke wilayah paling selatan Indonesia, termasuk meninjau Titik Nol Kilometer Selatan NKRI di Desa Dodaek, Kecamatan Rote Selatan.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi Rote Ndao. Selain meninjau kawasan perbatasan, rombongan juga meluncurkan rencana program pembangunan Jembatan Garuda di Dusun Kopeda, Desa Tebole, serta menyerahkan bantuan sosial kepada masyarakat.
ROTE NDAO DALAM PERHATIAN PEJABAT TINGGI NEGARA
Kehadiran Jenderal Maruli membawa perhatian pada posisi strategis Rote Ndao sebagai wilayah perbatasan selatan Indonesia.
Di tengah besarnya perhatian terhadap keamanan dan kedaulatan negara, masyarakat di kawasan terluar juga menaruh harapan pada pembangunan infrastruktur, akses pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan.
Kunjungan ini pun memunculkan pertanyaan sejarah yang menarik: apakah kedatangan Maruli merupakan kunjungan pertama seorang Wakil Panglima TNI ke Rote Ndao?
Pertanyaan tersebut penting dijawab melalui penelusuran catatan kunjungan resmi para Panglima dan Wakil Panglima TNI dari masa ke masa. Tanpa dokumentasi yang memadai, klaim kunjungan pertama belum dapat dipastikan.
JEMBATAN GARUDA: ANTARA RENCANA DAN HARAPAN RAKYAT
Di Dusun Kopeda, Desa Tebole, rencana pembangunan Jembatan Garuda menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian masyarakat.Bagi warga, pembangunan infrastruktur bukan sekadar persoalan fisik. Konektivitas yang lebih baik berpotensi mendukung mobilitas masyarakat, memperlancar aktivitas ekonomi, dan membuka akses terhadap pelayanan dasar.
Namun, masyarakat tentu menantikan kepastian mengenai tahapan pembangunan, jadwal pelaksanaan, sumber pendanaan, serta manfaat konkret yang akan diterima warga.
Peluncuran rencana program menjadi langkah awal yang perlu diikuti kejelasan pelaksanaan agar harapan masyarakat tidak berhenti pada seremoni.
BERANDA SELATAN BUKAN SEKADAR TITIK DI PETA
Rote Ndao memiliki posisi strategis dalam wajah Indonesia sebagai negara kepulauan. Karena itu, perhatian terhadap kawasan ini tidak seharusnya terbatas pada kunjungan pejabat atau kegiatan simbolis.
Kehadiran negara perlu dirasakan melalui pembangunan yang berkelanjutan, pelayanan publik yang semakin baik, serta kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat perbatasan.Kunjungan Maruli pada 24 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali menempatkan Rote Ndao dalam pembicaraan mengenai masa depan pembangunan kawasan terluar Indonesia.
Kini, masyarakat menantikan tindak lanjutnya kapan Jembatan Garuda direalisasikan dan sejauh mana pembangunan itu akan membawa perubahan bagi warga Rote Selatan?
Dari titik paling selatan NKRI, harapan masyarakat tetap sama: perbatasan harus dijaga, pembangunan harus berjalan, dan kesejahteraan rakyat harus menjadi tujuan utama.






