Sitaro.sulutnews.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kembali menjadi sorotan, warga mempertanyakan pola pendistribusian BBM setelah stok di tingkat pengecer disebut cepat habis, meski kapal pengangkut BBM belum lama masuk ke wilayah Sitaro.
Jefri, tukang ojek sekaligus warga Siau Timur, menduga kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun aparat penegak hukum. Ia menilai pengawasan terhadap pendistribusian hingga ke tingkat pengecer perlu diperketat untuk mencegah adanya dugaan penimbunan.
“Pengaturan cara pendistribusian BBM dari pihak pemerintah ataupun APMS harusnya ada pengawasan untuk para pengecer. Karena saya lihat penimbunan BBM ini sudah menjadi momok untuk kita di Sitaro,” kata Jefri.
Menurutnya, persoalan tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Ia mengatakan, BBM baru saja disalurkan, namun tidak lama kemudian sejumlah pengecer sudah menyatakan stok habis.
“Kapal minyak belum lama masuk, ini bensin sudah tidak ada di pengecer dengan alasan habis. Lalu minyak yang banyak itu dibawa ke mana?” ujarnya.
Jefri meminta Polres Sitaro dan Pemerintah Kabupaten Sitaro segera menindaklanjuti dugaan tersebut apabila ditemukan indikasi penimbunan atau penyalahgunaan dalam distribusi BBM.
Ia juga mendorong agar data dari Pertamina mengenai nama-nama pengecer yang mendapat pasokan BBM di Sitaro dibuka untuk kepentingan pengawasan. Menurutnya, data tersebut dapat menjadi dasar bagi aparat untuk melakukan pemeriksaan di lapangan.
“Polres dan pemerintah Sitaro harus segera menindak kalau ada praktik penimbunan. Minta data Pertamina tentang nama-nama pengecer di Sitaro, kemudian lakukan penyidikan. Kalau ada temuan harus ditindak tegas supaya ada efek jera dan tidak menjadi permasalahan yang sama setiap tahun,” tegasnya.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro, Jelin Yolanda Langitan, menjelaskan, stok BBM untuk bulan Agustus belum masuk. Menurutnya, BBM yang disalurkan beberapa waktu lalu merupakan stok untuk bulan Juni.
Pemerintah kemudian mengambil langkah pengaturan penyaluran agar persediaan yang ada dapat bertahan hingga kapal pengangkut BBM berikutnya tiba di Sitaro.
“Penjualan BBM dibatasi tiga sampai empat drum per hari,” jelas Jelin.
Pembatasan tersebut dilakukan pemerintah bersama PT Maranatha selaku agen penyalur BBM di Siau, dengan pengawasan dari TNI dan Polri.
Jelin mengatakan pengaturan dilakukan sambil menunggu kedatangan kapal pengangkut BBM ke Sitaro. Ia memastikan stok Pertalite masih tersedia selama masa pengaturan penyaluran tersebut.
“Dipastikan BBM jenis Pertalite tersedia hingga kapal akan datang,” katanya.
Sementara itu, Kapolres Sitaro AKBP Ronald Andry Mauboy saat dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait dugaan penimbunan BBM mengatakan telah memerintahkan jajarannya untuk menindaklanjuti informasi tersebut.
“Informasi ini sudah saya perintahkan kepada Kasat Reskrim untuk menindaklanjuti. Bisa langsung komunikasi dengan Kasat Reskrim,” ujar Ronald.
Kasat Reskrim Polres Sitaro Iptu Tedd R. Mandagi juga telah dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait dugaan tersebut. Pesan yang dikirim telah terbaca, ditandai dengan centang biru, namun hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan yang diberikan.
Kelangkaan BBM ini pun diharapkan tidak hanya diselesaikan dengan pembatasan penjualan. Masyarakat juga meminta adanya pengawasan menyeluruh terhadap jalur distribusi, mulai dari pasokan, agen, hingga pengecer, sehingga BBM yang masuk ke Sitaro benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.




