
Bolmut, Sulutnews.com – Takdir, sebuah konsep yang telah mendalam meresap dalam berbagai tradisi dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Di banyak kebudayaan, terdapat keyakinan bahwa takdir setiap individu sudah tertulis sejak awal. Apakah takdir itu hanya sebuah mitos ataukah sebuah kebenaran yang tak terelakkan ?
Dilansir dari behaetex.co.id, berbagai agama dan kepercayaan memiliki pandangan unik tentang takdir. Dalam Islam, takdir disebut sebagai “qadar”, yang diyakini sebagai kehendak Allah yang maha tahu tentang segala sesuatu. Dalam Kristen, konsep predestinasi menyiratkan bahwa nasib setiap individu sudah ditentukan oleh Tuhan sejak awal. Sementara itu, dalam kepercayaan Hindu, konsep karma menyatakan bahwa perbuatan masa lalu akan mempengaruhi nasib seseorang dalam kehidupan ini dan kehidupan berikutnya.
Meskipun ada keyakinan bahwa takdir manusia sudah tertulis, banyak yang juga menegaskan pentingnya kebebasan manusia. Pertanyaan filosofis muncul: jika takdir sudah ditentukan, apakah manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan mengubah nasibnya? Beberapa berpendapat bahwa takdir adalah rencana dasar, sedangkan kebebasan manusia memberikan kemungkinan untuk mengubah jalannya.
Demikian juga yang dialami Arman Bangko (47 tahun) menjalani kehidupannya sebagai pemanjat kelapa diantara nasib dan takdir.
Sebagai warga Desa Sonuo Dusun 1 Kecamatan Bolangitang Barat, Arman Bangko datang bertamu ke Sekretariat Sulutnews.com dan mengaku sebagai utusan wakil keluarga calon pengantin pria untuk mengundang musyawarah adat. Senin (03/06/2024).
Banyak hal diungkapkan kembali Arman Bangko sepanjang perjalanan hidupnya sejak menikah tahun 1979.
Pilihan menjadi pemanjat kelapa adalah pilihan hidupnya sebagai tamatan sekolah dasar. Upah yang diterima pada awal setiap batang pohon kelapa seribu lima ratus rupiah karena tanggung jawab terhadap anak perempuannya Widi dan isterinya.
“Saat sudah lumayan, harga kopra sudah mendekati delapan ratusan per 100 kg, dibayar lima ribu rupiah setiap memanjat satu pohon kelapa, turunnya siapa yang bayar,” canda Arman.
Perjalanan nasibnya sangat menyedihkan ketika isterinya mengalami sakit parah yang segera ditangani Rumah Sakit Umum Bolaang Mongondow Utara dengan menggunakan kartu BPJS subsidi pemerintah.
Peristiwa menyedihkan ini ketika paramedis dan dokter menerima pasien isterinya, setelah diperiksa dirujuk ke RSU Dunda Limboto. Sudah seminggu mengalami proses perawatan, ada perubahan dan dianggap sehat secara medis maka dibawa kembali ke Bolmut.
“Ketika isteri saya kambuh lagi penyakitnya, kami keluarga membawa ke RSUD Bolmut dengan membawa rekam medis dari RSUD Dunda Limboto, namun dengan gampangnya para dokter ini menulis surat rujukan kembali ke rumah sakit yang sama.
“Saya dan keluarga sepakat biarlah di rawat di rumah saja sampai meninggal dunia. Obat resep yang harus ditebus di Apotik tidak sanggup bayar, sekalipun akan diganti pihak BPJS.” tuturnya dengan nada sedih.
Rawat inap dan fasilitas kedua rumah sakit itu nyaris sama, mengapa RSUD Bolmut hanya dikenal sebagai rumah sakit ahli rujuk, karena rekomendasi dokter ahli yang dibayar mahal puluhan juta, bidangnya mungkin hanya ahli rujuk, dan ambulance harus bayar duluan.
Kata Arman Bangko, perjalananan 17 tahun otanomi daerah Bolmong Utara tahun 2024 telah kita akui peningkatan pembangunan infrastrukturnya, dimana-mana tercium bau semen dan aspal. Kita dari atas pohon kelapa melihat jauh pembangunan infrastruktur, termasuk pembagian bantuan sosial untuk petani dan nelayan. Entah mana nelayan merangkap petani, dan sampai saat ini kita pemanjat kelapa terabaikan.
“Saya teringat kampanya Pilkada HD DP tahun 2008 melalui tim kampanye akan menjamin nasib pemanjat kelapa, termasuk santunan kecelakaan diri. Banyak teman kita jatuh dari pohon kelapa, ada yang cacat dan meninggal dunia. Pemda Bolmut tidak peduli. Tapi saat ini kita bersyukur Sekda Jusnan Mokoginta pada acara perkawinan, ada program BPJS Tenaga Kerja. Kapan akan diterapkan kebijakan tersebut ?
“Jika diperkenankan, saya akan menghadap Pj. Bupati Bolmut Sirajudin Lasena untuk menyampaikan keluhan dari para pemanjat kelapa dan banyak hal lagi penting disampaikan tentang distribusi bantuan sosial termasuk bantuan ketahanan pangan,” ujar Arman Bangko.
(**/Gandhi Goma).





