Reporter : Dance Henukh
ROTE NDAO, SULUTNEWS.COM — Jeruji besi bukan akhir dari harapan. Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Baa, upaya membangun kehidupan yang lebih baik terus dilakukan melalui pembinaan kerohanian bagi warga binaan.Sabtu (17/10/2026), Lapas Baa bekerja sama dengan Gereja GMIT Syalom Mokdale menggelar konseling pribadi bagi tujuh warga binaan beragama Kristen. Pelayanan tersebut dipimpin Pendeta Ice Afroni Oeina-Nitte dengan renungan bertema “Tuhan adalah Gembalaku yang Baik”, berdasarkan Mazmur 23:1-6.
Pesan yang disampaikan bukan sekadar penguatan iman, tetapi juga ajakan untuk melakukan introspeksi, bangkit dari masa lalu, dan menata kembali masa depan.Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Kelas III Baa, Devin C. Ku, menegaskan pentingnya pendampingan rohani untuk membantu warga binaan menghadapi pergumulan pribadi maupun persoalan keluarga selama menjalani masa pidana.Menurut Devin, warga binaan membutuhkan penguatan mental dan spiritual agar tetap memiliki harapan serta semangat untuk berubah.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan Gereja GMIT Syalom Mokdale yang terus mendukung pelayanan kerohanian di lingkungan Lapas Baa.
LEBIH DARI SEKADAR MENJALANI HUKUMAN
Pembinaan di dalam lapas bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri.Melalui konseling rohani yang berkelanjutan, Lapas Baa berupaya menanamkan nilai-nilai spiritual, membangun kesadaran diri, dan menumbuhkan harapan agar warga binaan dapat kembali ke tengah masyarakat dengan semangat kehidupan yang lebih baik.Sebab, masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Di balik jeruji, kesempatan untuk berubah tetap terbuka.
Rekomendasi judul alternatif yang lebih kuat untuk menarik perhatian pembaca nasional:
Di Balik Jeruji Lapas Baa, Tujuh Warga Binaan Dikuatkan Lewat Konseling Rohani
Bukan Sekadar Hukuman! Lapas Baa Bangun Harapan dan Perubahan Lewat Pembinaan Iman Masa Lalu Bukan Akhir Segalanya, Lapas Baa Perkuat Mental dan Spiritual Warga Binaan






