
KOTAMOBAGU, Sulutnews — Lapangan Bokihotinimbang mendadak senyap. Saat lagu Indonesia Raya mengalun, ribuan pasang mata tertuju pada satu titik: Merah Putih yang perlahan menembus langit pagi. Tak ada percakapan. Tak ada langkah yang bergerak. Semua berdiri tegak dalam penghormatan yang tulus.
Di hadapan barisan peserta upacara, Wali Kota Kotamobagu, dr. Wenny Gaib, bertindak selaku Inspektur Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Detik-detik pengibaran bendera berlangsung penuh khidmat. Kain merah dan putih itu melambai ditiup angin, seolah membawa kembali ingatan akan perjuangan panjang para pendahulu bangsa.

Bendera itu bukan sekadar kain. Di dalam dua warna itu, mengalir darah para pejuang, ada air mata keluarga yang berkorban, serta harapan jutaan jiwa yang mendambakan hidup merdeka. Karenanya, kemerdekaan tak boleh berhenti sekadar menjadi upacara.
Wali Kota Wenny mengajak seluruh masyarakat menjadikan momen 17 Agustus sebagai panggilan untuk mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan merawat persatuan di tengah perbedaan.
Sebab ancaman terhadap persatuan tak selalu datang dalam bentuk senjata. Kadang ia hadir lewat provokasi, prasangka, berita bohong, serta sikap saling mencurigai. Di situlah tugas kita — menjaga apa yang dahulu diraih dengan pengorbanan nyawa.
Pagi itu, Lapangan Bokihotinimbang menjadi saksi nyata. Pemerintah, TNI–Polri, ASN, pelajar, dan masyarakat berdiri dalam satu kesatuan. Perbedaan jabatan, usia, dan latar belakang seakan luruh saat Merah Putih menapaki puncak tiang.

Dan dari bawah kibaran bendera itu, pesan kemerdekaan kembali bergema: Indonesia boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi persatuan tak boleh kehilangan tempat. Sebab ketika Merah Putih berkibar, yang harus berdiri paling tegak — adalah hati kita semua.(Advetorial).




