12 karung pala yang berasal dari manado
Sitaro.sulutnews.com — Kemarahan petani pala di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) mulai memuncak setelah puluhan karung pala dari luar Pulau Siau diketahui masuk menggunakan Kapal Penumpang Barcelona Satu, Kamis, 21/05/2026.
Mereka menilai praktik tersebut bukan sekadar aktivitas perdagangan biasa, melainkan tindakan yang berpotensi merusak nama besar Pala Siau demi keuntungan segelintir pihak.
Keresahan itu muncul setelah sebanyak 24 karung pala ukuran besar diketahui dimuat dalam pelayaran menuju Pulau Siau. Sebanyak 12 karung berasal dari Kota Manado, sementara 12 karung lainnya berasal dari Pulau Tagulandang.
“Total ada 24 karung pala yang dimuat di kapal,” ujar Novri, karani kapal Barcelona Satu, saat ditemui sulutnews.com di Dermaga Pelabuhan Ulu Siau.

7 karung Pala yang berasal dari Tagulandang (5 karung sudah diangkut oleh buruh pelabuhan)
Yang menjadi sorotan masyarakat adalah pala asal Manado yang hingga kini belum diketahui siapa pemiliknya. Sementara untuk pala asal Tagulandang, seorang perempuan bernama Yanti mengaku hanya dititipi barang oleh Sulung, warga Kampung Kisihang, Kecamatan Tagulandang Selatan.
Yanti menjelaskan, pala tersebut merupakan pala kualitas A yang dibeli di Tagulandang untuk kemudian dijual kembali kepada pengepul di Pulau Siau karena adanya perbedaan harga.
“Di Tagulandang harga pala sekitar Rp63 ribu per kilogram, sedangkan di Siau bisa mencapai Rp68 ribu,” katanya.
Namun bagi petani pala di Siau, alasan mencari keuntungan dari selisih harga tidak dapat dijadikan pembenaran untuk membawa pala dari luar masuk ke jalur perdagangan Pala Siau.
Irwan, petani pala asal Kecamatan Siau Timur Selatan, secara tegas mengecam praktik tersebut. Dia menilai tindakan memasukkan pala dari luar daerah sama saja dengan mempermainkan nama besar Pala Siau yang selama ini dijaga oleh petani lokal.
“Jangan jadikan Siau tempat ‘cuci pala’. Kami menjaga kualitas pala bertahun-tahun supaya dikenal bagus sampai ke luar daerah. Kalau pala dari luar mulai masuk lalu dijual lewat jalur perdagangan Siau, lama-lama nama baik Pala Siau bisa hancur,” tegas Irwan.
Menurutnya, kekhawatiran terbesar petani adalah ketika pala dari luar dengan kualitas berbeda mulai bercampur dengan pala asli Siau sebelum dijual kepada pembeli besar maupun eksportir.
“Yang ditakutkan bukan cuma soal harga hari ini. Kalau eksportir mulai kecewa karena kualitas sudah tidak konsisten, mereka bisa menurunkan harga bahkan berhenti percaya terhadap pala Siau,” katanya.
Irwan mengatakan, masyarakat Siau selama ini menggantungkan hidup dari hasil pala. Karena itu, tindakan yang berpotensi merusak reputasi komoditas unggulan daerah dianggap sebagai ancaman serius terhadap ekonomi masyarakat.
“Kami petani susah payah menjaga kualitas. Jangan karena ada yang mau cari untung cepat lalu masa depan petani dikorbankan,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan seorang pengepul pala di Pulau Siau yang meminta namanya tidak dipublikasikan. Dia menilai masuknya pala dari luar tanpa pengawasan ketat dapat mengacaukan standar kualitas yang selama ini menjadi kekuatan utama Pala Siau di pasaran.
“Kalau pala luar mulai bebas masuk dan dijual di sini, pembeli besar pasti mulai curiga. Akhirnya yang rugi semua petani di Siau,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut nama besar daerah yang dibangun selama bertahun-tahun.
“Pala Siau itu punya nilai karena kualitasnya. Kalau kualitas mulai diragukan, harga pasti ikut turun,” katanya.
Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah dan aparat terkait segera mengambil langkah tegas untuk mengawasi distribusi pala dari luar daerah yang masuk ke Pulau Siau. Sebab jika kondisi itu terus dibiarkan, petani khawatir nama besar Pala Siau perlahan rusak akibat praktik perdagangan yang hanya menguntungkan segelintir pihak.






