Sitaro.sulutnews.com – Menjelang senja, kawasan Sitaro Masadada Park di Siau berubah menjadi pusat keramaian. Deretan lapak kuliner dipadati pengunjung, aroma makanan bercampur dengan angin laut, dan percakapan terdengar dari berbagai sudut. Di ruang terbuka itu, ekonomi bergerak setiap hari.
Di balik perubahan itu, ada peran Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Ronald Pakasi. Dari posisinya sebagai perencana, Pakasi justru mendorong langkah konkret: menjadikan ruang publik sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat.

Keramaian di Sitaro Masadada Park pada malam hari
Gagasannya sederhana. Tidak menunggu proyek besar, tidak bergantung pada anggaran tinggi. Ia memilih memaksimalkan ruang yang sudah ada dan menghidupkannya dengan aktivitas masyarakat.
“Kita tidak harus selalu bekerja dengan anggaran besar. Yang penting bagaimana ruang itu hidup dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Ronald. Saat ditemui sulutnews.com di Kantornya pada Kamis, 30/04/2026.
Menurut dia, pendekatan ini menjadi pilihan di tengah kebijakan efisiensi. Fokusnya bukan pada pembangunan fisik semata, melainkan pada penciptaan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
“Kalau ruangnya hidup, masyarakat datang, pelaku usaha bergerak, di situ ekonomi berjalan,” ujarnya.
Hasilnya kini terlihat. Perputaran uang di kawasan tersebut disebut mencapai puluhan juta rupiah setiap hari. Para pelaku usaha kuliner menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Lapak sederhana yang tertata rapi mampu menarik arus pengunjung yang konsisten.
Ronald juga menyampaikan apresiasinya kepada Bupati Sitaro, Chyntia I. Kalangit, yang dinilainya memberi ruang dan dorongan bagi lahirnya inovasi di tengah keterbatasan.
“Saya berterima kasih kepada Ibu Bupati yang terus mendorong kami untuk berinovasi. Tanpa dukungan itu, langkah seperti ini tidak akan berjalan maksimal,” katanya.
Kebijakan yang menekankan efisiensi dan dampak langsung itu kini menemukan bentuknya di Masadada Park. Ruang publik yang sebelumnya biasa, berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Dampaknya terasa pada wajah kota. Oktavianus Kansil menyebut kawasan tersebut sebagai titik baru keramaian.
“Denyut keramaian di Siau terasa ketika Sitaro Masadada Park berdiri,” ujarnya.
Sementara itu, Soni mengaku kawasan tersebut menjadi tempat favorit untuk melepas penat.
“Kalau capek kerja, saya ke sini. Minum kopi, lihat laut, suasananya hidup,” katanya.
Masadada Park memperlihatkan satu hal: keterbatasan anggaran tidak selalu membatasi hasil. Dalam kasus ini, justru sebaliknya, ia melahirkan pendekatan yang lebih sederhana, cepat, dan langsung menyentuh masyarakat.







