Penulis: Mac Leonardo
Editor: Michael G. Tumiwang/UKW6508
JAKARTA, SNC – Pemilihan Ketua Umum PB GABSI periode 2026–2030 akan berlangsung September 2026 di Mamuju Sulawesi Barat, mulai menghadirkan dinamika menarik. Sejumlah nama muncul dengan latar belakang, kekuatan, dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Di antara para bakal calon Ketua Umum, yang paling banyak diperbincangkan pecinta Bridge di Indonesia adalah sosok Olly Dondokambey, Verdianto Iskandar Bitticaca, dan Isradi Zainal.
Ketiganya dinilai memiliki peluang yang sama-sama terbuka untuk memenangkan kontestasi, tergantung bagaimana membangun komunikasi nasional, merangkul daerah, serta menawarkan arah baru bagi organisasi bridge Indonesia.
Di tengah tantangan regenerasi atlet, modernisasi organisasi, penguatan kompetisi nasional, hingga target prestasi internasional, pemilihan Ketua Umum PB GABSI kali ini dinilai menjadi momentum penting menentukan arah bridge Indonesia beberapa tahun ke depan.
Olly Dondokambey: Kekuatan Jaringan dan Akselerasi Nasional
Nama Olly Dondokambey menjadi salah satu figur yang paling kuat diperbincangkan. Pengalaman panjang dalam pemerintahan dan organisasi besar menjadi modal utama yang sulit diabaikan.
Olly dipandang memiliki kemampuan membangun jejaring nasional, memperkuat hubungan dengan pemerintah dan sponsor, serta mendorong percepatan program dalam skala besar. Dalam konteks kebutuhan organisasi modern, kemampuan seperti ini dianggap sangat penting.
Banyak pihak menilai GABSI saat ini membutuhkan figur yang mampu membawa bridge lebih dikenal secara nasional, memperkuat event nasional, serta membuka peluang pembinaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Namun di sisi lain, tantangan terbesar bagi figur dengan kekuatan besar di tingkat pusat adalah memastikan pembangunan benar-benar menyentuh pembinaan daerah, regenerasi atlet muda, dan kebutuhan komunitas bridge secara langsung.
Verdianto Iskandar Bitticaca: Disiplin Organisasi dan Kedekatan dengan Komunitas
Berbeda dengan Olly, Verdianto Iskandar Bitticaca hadir dengan pendekatan yang lebih dekat pada kultur organisasi dan komunitas bridge.
Pengalaman kepemimpinan nasional serta keterlibatannya dalam dunia bridge membuat Verdianto dipandang memahami persoalan internal organisasi, kebutuhan atlet, dan pentingnya pembinaan kompetisi nasional yang konsisten.
Figur Verdianto dianggap membawa karakter disiplin, ketegasan, dan stabilitas organisasi. Pendekatannya dinilai lebih membumi dan dekat dengan dinamika pemain maupun komunitas daerah.
Banyak pengamat melihat kekuatan utama Verdianto ada pada kemampuannya membangun sistem pembinaan dan memperkuat fondasi organisasi dari dalam.
Tantangannya adalah bagaimana membangun konsolidasi nasional yang cukup besar agar mampu melakukan percepatan program secara luas dan kompetitif di tingkat internasional.
Isradi Zainal: Perspektif Baru dan Pendekatan Sistemik
Sementara itu, Isradi Zainal membawa warna yang berbeda dalam dinamika pencalonan Ketua Umum PB GABSI.
Sebagai akademisi, praktisi teknik, dan pemikir sistem, Isradi dinilai menawarkan pendekatan modern berbasis tata kelola, ilmu pengetahuan, dan penguatan organisasi secara sistemik.
Gagasan mengenai digitalisasi, pembinaan berbasis sistem, penguatan literasi bridge, hingga profesionalisasi organisasi menjadi nilai lebih yang menarik perhatian banyak pihak.
Meski demikian, sejumlah kalangan menilai pengalaman Isradi di dunia bridge nasional masih relatif baru dibanding figur lain yang lebih lama berada dalam ekosistem bridge Indonesia.
Karena itu, muncul pandangan bahwa posisi strategis seperti Wakil Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal mungkin menjadi langkah yang lebih ideal pada tahap awal.
Posisi tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi Isradi untuk memperdalam pemahaman terhadap kultur organisasi bridge nasional, sekaligus menerapkan kemampuan manajerial dan sistemiknya secara nyata.
Banyak yang percaya, apabila mampu menunjukkan hasil di posisi strategis tersebut, Isradi berpotensi menjadi salah satu figur penting bridge Indonesia di masa depan.
Momentum Kolaborasi untuk Masa Depan GABSI
Pemilihan Ketua Umum PB GABSI 2026–2030 pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling kuat secara personal, tetapi siapa yang paling mampu membawa organisasi menuju perubahan nyata.
Olly menawarkan kekuatan jejaring dan akselerasi nasional.
Verdianto menawarkan kedekatan komunitas dan stabilitas organisasi.
Sementara Isradi menawarkan perspektif sistemik dan modernisasi tata kelola.
Dalam situasi seperti ini, banyak pihak berharap kontestasi tidak berakhir sebagai polarisasi, melainkan menjadi momentum kolaborasi besar demi masa depan bridge Indonesia.
Sebab di tengah persaingan olahraga modern yang semakin kompetitif, GABSI membutuhkan lebih dari sekadar figur kuat. Organisasi ini membutuhkan kombinasi kepemimpinan, sistem, pembinaan, dan persatuan agar mampu membawa bridge Indonesia naik kelas di tingkat dunia.(*)








