Tahuna, Sulutnews.com – Perlintasan resmi antara BCS Marore (Indonesia) dan BCS Batuganding (Filipina) kembali aktif dengan lancar ditandai kedatangan perdana empat pelintas WNI di Batuganding, Rabu (10/12).
Empat pelintas berangkat dari Marore pukul 04.00 WITA menggunakan kapal Jembres Fishing dan tiba di Dermaga Maveeas, Batuganding, pukul 08.30 WITA. Setibanya di lokasi, mereka menjalani prosedur pemeriksaan oleh Coast Guard, Police Maritime, Karantina, Port Police, Imigrasi Balut, serta unsur ILO TNI Batuganding.

Proses pemeriksaan selesai pukul 10.30 WITA, dilanjutkan dengan penyambutan resmi oleh Mayor (Walikota) Sarangani, Adelan B. de Arce, yang memberikan apresiasi atas kelancaran operasional perdana ini.
Mayor Adelan B. de Arce menegaskan bahwa perlintasan Marore–Batuganding memiliki nilai strategis bagi hubungan masyarakat kedua negara.
“Kami menyambut dengan hangat kedatangan saudara-saudara dari Indonesia. Perlintasan ini memperkuat hubungan persaudaraan dan membuka ruang kerja sama yang lebih luas. Kami berharap para pelintas terus mematuhi ketentuan perbatasan demi kelancaran dan keamanan bersama,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Sarangani untuk menjaga koordinasi lintas batas demi keberlanjutan jalur resmi ini.

Pada pukul 12.00 WITA, seluruh pelintas menyelesaikan entry call bersama Mayor Sarangani dan melanjutkan aktivitas masing-masing di wilayah Batuganding.
Berikut nama-nama pelintas Jecly Mamuno, Jufen Mokodompis, Edwon Ringalai, dan Almer Sarageti, sedangkan barang bawaan mereka berupa 12 karton Supermie (25 kg) senilai Rp960.000 di kapal bernomor P/BT JMS Fishing, RI, GT 2, No. Reg SWU 3 NO. 1374.
Kapten Laut (E) SJ Tama dari ILO TNI Batuganding menyampaikan terima kasih atas koordinasi yang solid. “Reoperasional perlintasan ini berjalan sukses berkat sinergi seluruh unsur perbatasan di Marore dan Batuganding.”papar Kapten Tama di dampingi Jemres Sasamu, Penghubung KJRI di Wilayah Pulau Balut, Filipina.
Terpisah, Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah.
“Reoperasional jalur ini bukan hanya urusan mobilitas, tetapi juga kepercayaan dan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Kami berkomitmen meningkatkan keamanan dan fasilitas pendukung.” terang Bupati.

Sementara itu, Camat Marore, Marcos Sasiang, menyebut perlintasan perdana ini sebagai momentum penting bagi masyarakat pulau terluar. “Perlintasan legal yang tertib memperkuat hubungan sosial dan keamanan di wilayah perbatasan.” ucapnya.
Kedatangan perdana ini menandai langkah positif dalam penguatan hubungan Indonesia–Filipina melalui jalur Marore–Batuganding, sekaligus membuka kembali peluang ekonomi, sosial, dan mobilitas masyarakat di kedua wilayah perbatasan. (Andy Gansalangi)





