Tema: Mirom Pedarame Gighile Sengkanaung, Mesundung Su Nau I Ghenggonalangi (Menggapai Kedamaian Hendaklah Rukun Sepikir, Mari Sehati Dibawah Tuntunan Rahmat Allah).
Tulude dalam bahasa Sangihe berasal dari kata “Suhude” yang berati Tolak, hal ini menolak tahun yang lama dan siap menerima tahun yang baru. Sedangkan Mandullu’u Tonna dalam arti sempit kalau bahasa masyarakat Talaud Mandulu’u yaitu “Lanttu” menolak atau meninggalkan. Sabtu (04/02/2023).
Sekilas Sejarah Tulude
Tulude secara historis merupakan sebuah ekspresi dunia kehidupan (lebenswelt) atau pandangan duniawi (word vision) masyarakat aristokratis sangihe yang memperlihatkan pengaruh budaya Hindu Jawa. Sebelum dikembangkan dengan jalan transkonseptualisasi ke kultur ritual yang bernama “Pengucapan Syukur”, Tulude mirip dengan upacara meruwat alam di Jawa dan Bali, di Sangihe dinamai “Mengundang Banua” (mengobati alam/kampung).
Masyarakat etnis Sangihe melaksanakan acara adat Tulude warisan tradisi yang bertedensi syukuran dalam bentuk upacara adat sekaligus pesta rakyat. Tulude diselenggarakan sebagai bentuk pernyataan syukur atau Perlindungan Tuhan Semesta Alam (I Ghenggona Langi) pada tahun yang sudah berlalu dan permohonan berkat dan kesuksesan untuk tahun baru 2023 yang sedang dijalani serta permintaan agar dijauhkan dari penyakit, bencana dan persilisihan dalam masyarakat. Upacara adat tulude ini disebut juga “Saliwangu Wanua”.
Kata tulude mengacu pada posisi bintang fajar (kadademahe) yang tegak lurus 90 derajat yang diyakini terjadi tepat pada pukul 00:00 tanggal 31 Januari setiap tahun atau nama bulan keempat di langit menurut perhitungan Ilmu Astronomi Etnis Sangihe. Bulan keempat yaitu tulude menurut dialek masyarakat Tagulandang disebut tulari, sedangkan menurut adat masyarakat Talaud disebut Dan Lattu.
Makna Upacara Tulude
Tulude juga menjadi simbol kerukunan, persatuan, serta kebersamaan masyarakat. Selama upacara berlangsung, masyarakat akan berkumpul untuk makan bersama. Biasanya, masing-masing keluarga akan membawa makanan dan ditempatkan di atas meja panjang untuk dinikmati bersama-sama. Upacara ini telah dilakukan warga Sangihe, Talaud, dan Sitaro selama bertahun-tahun.
Dalam bahasa Sangihe, tulude berasal dari kata Suhude yang artinya tolak. Tulude dimaknai sebagai penolakan terhadap tahun yang lama atau menolak meratapi kehidupan di tahun sebelumnya dan kesiapan untuk menerima tahun baru.
Secara harfiah, tulude juga diartikan meluncurkan atau melepaskan sesuatu dari ketinggian. Kemudian, maknanya mengalami perluasan menjadi melepaskan, meluncurkan, mendorong, atau menolak.
Tulude sudah dilakukan sejak abad ke-16 dan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Awalnya, upacara dilakukan tepat pada penghujung tahun yaitu 31 Desember. Namun, seiring berjalannya waktu, pelaksanaannya diubah hingga 31 Januari di tahun baru.
Acara ini juga jadi media berkomunikasi antara masyarakat Sangihe dan Talaud. Momen ini menjadi waktu untuk mengucap syukur, sekaligus mewariskan nilai-nilai seperti etika, moral, dan patriotik.
Sambutan Ketua Umum Ikatan Keluarga Sangihe Sitaro (IKSS) Sulawesi Utara dan juga sebagai Pembantu Rektor I Universitas Manado (Unima) Bidang Akademik Prof. Dr. Urbanus Naharia, MS, mengucapkan puji syukur kepada Kepala Pemerintah Bolmong Utara Drs. Depri Pontoh dengan melestarikan tradisi adat tulude setiap tahun.
“Kepada seluruh masyarakat Nusa Utara, kita sesama saudara mengucapkan terima kasih kepada Bupati Bolmong Utara yang telah hadir ikut merayakan acara adat tulude, serta kehadiran Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Kapolres Bolmong Utara serta jajarannya. Camat Sangkub. Tradisi adat kita junjung tinggi selama ini dengan mematuhi para pemimpin daerah guna meraih kebaikan dan kesejahteraan kita bersama.” ujarnya.
Bupati Depri Pontoh dengan senyum kegembiraan mengungkap kembali beliau sebagai orang dari Siau karena kakeknya Raja Jacobus Pontoh. Terdengar tepuk tangan dari hadirin. Jika menceriterakan kembali silsilah keluarga akan menyita waktu. Kita bangga dan dihargai jika ditanya kita berasal dari mana ? Kita dari Bolmong Utara berasal dari Nusa Utara.
“Dalam acara penuh kekeluargaan ini, saya perkenalkan kakak saya Dr. H. Lexsy Mamonto, SH, MH, Ketua Pengadilan Tinggi Manado, beliau hadir dalam acara ini kapasitas dalam ikatan keluarga, neneknya masih bermarga Pontoh. Kakak saya berkeinginan mewakili masyarakat Bolaang Mongondow Raya sebagai wakil rakyat di DPR RI. Ada kemudahan bagi kita semua setelah beliau kita kenal karena ada kemudahan kita dapat berkomunikasi langsung, oleh sebab itu kita perkenankan beliau menyampaikan sesuatu yang berguna untuk kita dengarkan,” pinta Depri Pontoh.
Dengan perkenalan diri padat dan singkat, Lexsy Mamonto dengan senyum diplomatis menyampaikan sesuatu yang menjadi perhatian masyarakat adat Sangkub.
“Saya bertugas sebagai seorang hakim sudah mengilingi nusantara, jika ada yang bertanya, saya berasal dari mana ? Saya spontan menjawab dari Sanger, karena jika saya bilang dari Manado mereka tidak percaya, karena kulit saya ireng,” Terdengar gelak tawa serta aplaus.
Ditambahkannya, kita dalam pemerintahan Sulawesi Utara dipimpin Gubernur Olli Dondokambey dan Wagub Stephen Kandow memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan pariwisata, menjadi sumber meningkatkan PAD, dan kedepan menjadi tumpuan bersama membangun Sulawesi Utara.
Turut hadir dalam acara ini : Kapolres Bolmong Utara AKBP Areis Aminullah, SIK serta jajaran perwira, Sekda Bolmong Utara dr. Jusnan C Mokoginta, MARS, Asisten II Rahmat Pontoh, SH, MSi, Ibu Pendeta Irene Langi MTh selaku Ketua BPMJ “Filadelfia” Kecamatan Sang Tombolang, Camat Sangkub Iwan Panigoro, SPd, SKPD, Sangadi Sang dan staf Perangkat Desa serta tokoh masyarakat. (**Advetorial/Gandhi Goma).