Manado, Sulutnews.com – Aksi tawuran antar pelajar masih menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan di Kota Manado. Praktik kekerasan ini tidak hanya meresahkan warga, tetapi juga mencoreng citra sekolah dan masa depan generasi muda.
Pengamat pendidikan sekaligus mantan kepala sekolah di sejumlah SMA dan SMK Negeri di Manado, Drs. Butje Runtu, M.Si., menilai fenomena tersebut sebagai bentuk pemberontakan dan ketidakstabilan emosional remaja.
“Tubuh anak dan remaja di Manado ini memang besar seperti orang dewasa, namun egonya masih tidak stabil,” ujar Butje Runtu kepada wartawan di Manado, Kamis (7/10).
Menurutnya, para pelajar yang terlibat tawuran masih berada dalam fase mencari jati diri. Karena itu, sekolah dinilai perlu membimbing pertumbuhan rohani mereka, sementara orang tua harus terus mendampingi agar pencarian identitas tidak salah arah.
“Anak dan remaja itu hanya butuh KSOT, singkatan dari Kasih Sayang Orang Tua. Mereka butuh perhatian dan pelukan,” jelasnya.
Butje Runtu yang pernah mengajar di SMA Negeri Binaan Khusus (Binsus) 9 Manado, serta menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMAN 2 dan SMK Negeri 3 Manado, menambahkan bahwa sekolah perlu rutin menggelar kegiatan rohani atau ibadah. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi perkembangan emosi remaja.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi semua pihak—kepolisian, guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat—jika insiden tawuran semakin memburuk.
“Jika tawuran terjadi di lingkungan sekolah, ada baiknya dilakukan pengamanan yang terkoordinasi bersama pihak kepolisian dan orang tua,” ucapnya.
Butje juga meminta pemerintah aktif mengunjungi sekolah-sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran, sebagai bentuk pembinaan langsung.
“Maksudnya untuk membimbing mereka agar tidak berlaku kasar kepada teman sebaya, menjadi lebih penyayang, dan mampu menggerakkan persahabatan serta persatuan. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelukan dari guru yang biasanya tidak didapatkan di rumah,” tambahnya.
Menanggapi tawuran yang dilatarbelakangi persoalan asmara antar pelajar dari sekolah berbeda, ia menghimbau kepala sekolah dan guru untuk bekerja sama dengan kepolisian serta orang tua. Hal ini penting agar tawuran berkelanjutan tidak terjadi.
Polisi Gencar Menindak Aksi Tawuran Pelajar di Manado
Di sisi lain, aparat kepolisian terus bergerak cepat menindak aksi tawuran pelajar berskala besar di Manado. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai media sejak awal Oktober 2026, sejumlah langkah tegas telah dilakukan.
Tim URC Polda dan Polresta Manado berhasil menggagalkan perselisihan yang diduga melibatkan remaja dari tiga sekolah, yakni SMA Negeri 7 Manado, SMA Negeri 2 Manado, dan SMK Negeri 2 Manado. Sebanyak 14 pelajar dari wilayah Manado dan Minahasa Utara diamankan untuk pembinaan selama sehari pada 5 Oktober 2026.
Tidak hanya itu, polisi juga menangkap seorang remaja berinisial KT yang kedapatan membawa senjata tajam. Penangkapan ini dilakukan setelah polisi mendeteksi video tawuran yang viral di media sosial, serta adanya laporan masyarakat mengenai siswa yang membawa senjata tajam saat bentrokan berlangsung. (Yayuk)






