Manado,Sulutnews.com – Berburu spot-spot wisata religius yang mempesona di daerah seribu satu gereja paling cetar membahana dapat kita temui di Profinsi Sulawesi Utara (Sulut). Dan rasanya tidak mungkin apabila melewatkan kesempatan berziarah ke spot wisata religius Taman Doa St.Yosef Tertidur di Tomohon.
Akses lokasinya hanya sekitar 90 menit dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, tidak terlalu jauh. Cukup membawa air minum isi ulang dan tissue saja. Jika memerlukan makanan ringan dan snak kita bisa singgah membeli di Alfamidi dan Alfamart yang terdapat di sepanjang ruas jalan Manado-Tomohon.
Saya memulai perjalanan bersama teman-teman dari Paroki Gereja Katholik Bunda Hati Kudus Kairagi dengan menumpang bus sekitar pukul 11.00 WITA dari Kota Manado menuju Kota Tomohon. Perlu diketahui, Tomohon memiliki banyak nama julukan menonjol, diantaranya sebagai kota produsen bunga, tetapi ada pula julukan lainnya yaitu Kota Gereja 1000 salib.
Sebagai contoh kota ini terdapat gereja katholik tertua yaitu Gereja St Fansiskus Xaverius yang didesain bergaya arsitek Michelangelo Buonarroti bahkan didesain memiliki 1000 salib. Gereja ini terletak di tepi jalan sehingga saat kendaraan melewati jalan, tentu saja memiliki kesempatan untuk melihatnya dari dalam bus. Dalam catatan Dinas Pariwisata Sulawesi Utara jumlah wisatawan domestik ataupun mancanegara yang datang berziarah jumlahnya mencapai rata-rata 20-30 persen pertahun, yaitu presentase yang diambil dari jumlah wisatawan yang biasanya datang berkunjung ke Manado dan ke Pulau Bunaken.
Meski secara histori Gereja St Fransiskus Xaverius Kakaskasen Tomohon merupakan gereja katholik terua (memiliki catatan buku baptis dimulai 26 Desember 1875), namun dalam catatan sejarah masih ada perdebatan panjang tentang Tomohon bukanlah merupakan kota pertama kali ajaran agama Katholik Roma dibawa misionaris ke Indonesia, di Minahasa Sulawesi Utara.
Namun tentang religiuanya kota ini, seorang teman wartawan yang dahulunya seorang frater pernah mengatakan bahwa mukjizat orang lumpuh berjalan, dapat kita saksikan sendiri dilakukan oleh imam gereja. Tentu kita juga tidak akan lupa bawa Lazarus yang bangkit dari dunia orang mati benar menurut injl.
Gereja St Fansiskus Xaverius didedikasikan kepada misionaris asli Indonesia yang turut mengajarkan Injil. Selain gereja tertua kita juga akan diingatkan dengan kehadiran Sekolah Seminari Menengah (setingkat SMP/SMA) di Kakaskasen Tomohon yang juga pendiriannya didedikasikan untuk santo pelindung St Fansiskus Xaverius. Letak sekolah ini tidak begitu jauh dari gereja.
Seminari Menengah St.Fransiskus Xaverius Kakaskasen ini didirikan sejak tahun 1928 yang pertama di Woloan, tetapi berpindah tempat di Kakaskasen sejak tahun 1936. Selain karena alasan historis, nama Fransiskus Xaverius diambil sebagai pelindung seminari. Pemberian nama ini bertujuan agar murid bersemangat berapi-api belajar agama seperti halnya santo pelindungnya.
Siswa seminari ini disapa dengan panggilan ‘seminaris’, karena biasanya panggilan frater baru digunakan ketika mereka telah lulus, yang kemudian melanjutkan pendidikan biara di seminari tinggi (setingkat perguruan tinggi).
Nah, lebih kurang dari 90 menit kemudian pun berlalu, saya akhirnya tiba di Kompleks Seminari Menengah Kakaskasen Tomohon, untuk kemudian rombongan bus singgah di pos ronda seminari yang petugasnya tampak berwajah agak seram. Meski begitu ia tangsung mendata jumlah kami dan memberi jalan bus untuk masuk ke pelataran seminari yang dibatasi oleh tembok-tembok tua.
Di balik tembok itu, Taman Doa St. Yosef Tertidur dapat kita temui dengan segera setelah berjalan kaki melewati situs pemakaman para iman yang dibangun sejak permulaan abat 19. Taman Doa ini pertama kali dipakai peziarah pada 19 Mei 2025, jadi baru dibangun. Di lokasi ini terdapat rumah doa dan sejumlah toilet yang dibangun untuk para pengunjung taman.
Karena fokusnya mengunjungi taman, maka kita akan harus berjalan kaki di sekeliling pohon dengan udara sejuk khas dataran tinggi (sekitar 50 meter dari sekolah seminari). Meski belum dikenal luas oleh peziarah, namun yang paling berkesan adalah St. Yosef Tertidur menampakan dirinya sedang tertidur dan didatangi malaikat Tuhan yang takut membangunkannya. Malaikat ini hanya memberikan pesan Tuhan agar St Yosef menjaga keluarga kristen sedunia. Sedangkan bawah tempat tidurnya, ada banyak catatan kecil berisi doa-doa peziarah yang datang sebelumnya.
Berada di Taman Doa St. Yosef Tertidur, rasanya kita segera diingatkan untuk tidak berbicara sepatah kata apapun, kecuali cukup diam dan percayakan semuanya cita-cita dan harapanmu kepadaNya, dan biarkan Tuhan bekerja.
Ziarah yang singkat ini akhirnya menjadi waktu buat kamu untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyiapkan pikiran dan harti menjadi diri sendiri yang sebenarnya. Kalau kamu butuh tempat buat hening dan doa pribadi, tempat ini cocok banget dikunjungi.
Selain spot Taman Doa St. Yosef Tertidur, kita juga akan diingatkan bahwa ada lagi spot wisata religius di kompleks ini, sepert Taman Doa Pembebasan Perang Permesta yang biasanya digunakan umat untuk berdevosi selama bulan Maria. Yuk, sekian dulu catatan perjalanan saya, sampai bertemu di artikel wisata religius berikutnya.






