Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

Jakarta · 11 Mei 2026 18:32 WITA ·

Salihara dan Grup Tari Taiwan Hadirkan “Islands”, Pertunjukan Dialog Tubuh dan Identitas Kerja Sama Dengan TECO


Perbesar

"Islands”, sebuah program seni pertunjukan yang mempertemukan kepekaan tubuh dan dialog lintas budaya digelar di Teater Salihara Jakarta pada 9 dan 10 Mei 2026 (Foto: Taiwan Economic and Cultural Office/TECO)

Jakarta,Sulutnews.com – Komunitas Salihara Arts Center kembali hadir dengan program seni pertunjukan yang mempertemukan kepekaan tubuh dan dialog lintas budaya melalui kerja sama internasional dengan Taipei Economic and Cultural Office (TECO).

Keterangan pers TECO, Senin (11/5) di Jakarta menyebutkan, pertunjukan tari kontemporer ini dibawakan oleh Koreografer/Penari Wang Yeu-kwn dari Shimmering Production, sebuah grup seni pertunjukan asal Taiwan, dengan keterlibatan Koreografer/Penari Indonesia, Danang Pamungkas.

Program seni pertunjukan ini dipentaskan di Teater Salihara pada Sabtu, 09 Mei 2026 pukul 20.00 WIB dan Minggu, 10 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, pertunjukan tari kontemporer ini dipentaskan di Kuala Lumpur Malaysia pada 01-03 Mei lalu.

Karya seni “Islands” sendiri dihadirkan di Indonesia dan menjadi bagian kedua dari proyek Wang Yeu-kwn yang bertajuk “A Trilogy – Quest of Relationships”.

Proses kreatifnya bermula pada 2019, ketika Wang melakukan perjalanan ke Indonesia melalui Cloud Gate Wanderers Project dan bertemu dengan Danang Pamungkas. Dari pertemuan itu, keduanya membangun percakapan artistik tentang tubuh, ingatan, dan pulau sebagai ruang hidup sekaligus metafora identitas.

Dalam kaitan ini Kurator Tari Komunitas Salihara, Tony Prabowo, mengemukakan, kolaborasi ini memiliki kedalaman artistik karena berangkat dari relasi panjang dua seniman yang pernah berada dalam lingkungan pembelajaran yang sama.

Kolaborasi seni pertunjukan ini, lanjutnya, bermula dari pertemuan dua koreografer dan penari Indonesia-Taiwan, Danang Pamungkas dan Wang Yeu-kwn yang pernah belajar bersama di bawah bimbingan Lin Hwai-Min dari Cloud Gate Dance Theater.

“Melalui berbagai sudut pandang yang berbeda tentang identitas, rasa keterasingan, serta pertanyaan yang selalu berlanjut akan makna kepenariannya, pertemuan ini seperti mengenal tubuh baru,” ujar Tony.

“Islands” merupakan karya yang tidak hanya mengandalkan kekuatan visual dan teknik tari, tetapi juga membawa penonton memasuki perjalanan batin tentang identitas, keterasingan, tubuh, dan hubungan manusia dengan tempat asalnya.

Kehadiran “Islands” di Salihara menjadi penting karena karya ini tidak hanya menampilkan kolaborasi dua seniman dari dua latar budaya, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam tentang asal-usul, keterasingan, dan upaya manusia mengenali dirinya sendiri.

Di tangan Shimmering Production dan Danang Pamungkas, “Islands” tidak diperlakukan sekadar sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai metafora tentang tubuh, ingatan, batas, dan kemungkinan untuk saling memahami.

Secara konseptual, “Islands” dapat dibaca sebagai A Dual Encounter Between Two Islands. Karya ini bergerak dari legenda seorang nelayan yang mencari jati dirinya.

Dalam upaya menyingkap kisah di balik namanya sendiri, Wang Yeu-kwn berlayar menuju negara-negara kepulauan di Asia Tenggara dan menjalin dialog dengan Danang Pamungkas melalui pengalaman tubuh dan kehidupan.

Prestasi dan konsistensi dari grup ini membuahkan hasil gemilang karena “Islands” juga telah terpilih sebagai finalis Bloom Prize, bagian dari The Rose International Dance Prize 2027 yang digelar oleh Sadler’s Wells; institusi tari terkemuka di London. “Islands” sebagai bagian dari finalis Bloom Prize akan dipentaskan pada Januari – Februari 2027 di London.

Wang Yeu-kwn menjadi finalis Bloom Prize untuk kategori emerging choreographers. Pengakuan ini menjadikan pementasan di Salihara sebagai kesempatan istimewa bagi publik Indonesia untuk menyaksikan karya yang sedang bergerak menuju panggung internasional yang lebih luas.(*/Merson)

Artikel ini telah dibaca 954 kali

Baca Lainnya

Polri Dorong Kolaborasi Nasional Lindungi Karya Anak Bangsa Dari Pembajakan di Era Digital

12 Mei 2026 - 23:30 WITA

Crist Meity Ponto Sambangi Kementerian dan DPR RI, Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Sangihe

12 Mei 2026 - 18:59 WITA

Sudah Terbukti Korupsi, Malah Mencantumkan Nama Noven Verderikus Bulan Terseret Tuduhan dalam Pleidoi

4 Mei 2026 - 10:40 WITA

Nama Noven Verderikus Bulan Juga Terseret Tuduhan Menerimaan Uang Suap Dari Tersangka Roni.

4 Mei 2026 - 00:52 WITA

Plt Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya, S.H., M.Kn.: Tegas Tangani Isu Insentif Guru Honorer Madrasah

3 Mei 2026 - 14:43 WITA

AMKI Pusat Bentuk LBH, Perluas Akses Bantuan Hukum untuk Media dan Kreator Konten

29 April 2026 - 23:04 WITA

Trending di Jakarta