Manado,Sulutnews.com – Memperingati dan memaknai sengsara Yesus di kayu salib merupakan tujuan utama yang dihadirkan dalam Perayaan Hari Raya Jumat Agung.
Sengsara Yesus diartikan sebagai pengorbanan Yesus sejak kunjungan terakhir-Nya ke Yerusalem hingga proses penyaliban di atas Gunung Kalvari, yang didefinisikan hingga hari ini sebagai Sejarah Keselamatan Kristus bagi orang berdosa.
Misa Jumat Agung diperingati di gereja-gereja Katolik di Manado mulai pukul 15.00 WIB atau jam 3 petang, Jumat (29/3), diwarnai dengan guyuran hujan, maklum cuaca dingin hingga 24 derajat Celcius sering melanda Kota Manado.
Gereja Katolik Paroki Bunda Hati Kudus (BHK) Kairagi Weru Manado, menggelar Misa Suci berlangsung hikmah. Hujan turun saat sesudah pembacaan Kisah Sengsara Yesus. Bertepatan berakhirnya Upacara Pengecupan Salib Yesus yang dibawa para pembantu imam, maka hujanpun berangsur-angsur berhenti mengguyur Manado.
Misa Jumat Agung di Paroki Bunda Hati Kudus dipimpin Pastor Troyani Kalengkongan Pr. Misa Jumat Agung adalah bagian juga dari Perayaan Hari Tri Suci. Dalam kalender liturgi Gereja Katolik Roma, Misa Jumat Agung akan diakhiri dengan Paskah atau kebangkitan Kristus.
Dalam kotbahnya pastor Troyani Kalengkongan,Pr menekankan tentang perlunya gerakan satu rumah yaitu rumah besar bagi orang Kristen. Rumah besar diibaratkan dengan sebuah gerakan cinta Yesus terhadap mahluk hidup bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada tetanaman, pohon, rerumputan dan binatang.
Dengan gerakan rumah besar itu, maka kita harus menyadari diri untuk menjaga bumi dari ancaman sampah yang dapat mengakibatkan bencana alam. (Yayuk)







