Surabaya, Sulutnews.com – Hasil Muktamar NU 2026 kembali menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031 melalui musyawarah AHWA. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut profil dan biodata lengkap.
Hasil Muktamar NU 2026 ke-35 di Jombang secara resmi kembali mengamanahkan posisi kepemimpinan Syuriyah PBNU kepada KH Miftachul Akhyar. Sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi menyepakati penunjukan ulama senior Surabaya tersebut secara mufakat. Dipublikasikam 31 Agustus 2026. 00:44 WIB.
Forum musyawarah tertinggi organisasi keagamaan ini memutuskan keberlanjutan masa khidmah pimpinan jajaran keulamaan hingga lima tahun mendatang.
Keputusan Resmi Musyawarah Sembilan Ulama : Proses penetapan puncak struktur keulamaan bertempat di Ndalem Kasepuhan Kiai Wahab Chasbullah Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Forum khusus anggota AHWA menggelar pembahasan tertutup sebelum mengumumkan nama pimpinan terpilih di hadapan ribuan peserta muktamar.
Juru bicara forum membacakan naskah berita acara penetapan figur pengemban amanah pimpinan tertinggi syuriyah tersebut secara resmi.
“Memutuskan bahwa nama Kiai Miftachul Akhyar dipilih menjadi rais aam pengurus besar masa khidmat 2026-2031,” kata Kiai Anwar Iskandar membacakan hasil keputusan AHWA di hadapan muktamirin.
Rekam Jejak Pendidikan KH Miftachul Akhyar : Sosok Rais Aam terpilih lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953 dari pasangan ulama pengasuh pesantren.
Ia tumbuh besar dalam tradisi keilmuan yang amat kental sebagai putra dari pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah.
Proses penimbaan ilmu keagamaan ia jalani secara tekun dengan mengelilingi berbagai pondok pesantren terkemuka di tanah air.
Berikut adalah daftar lembaga pendidikan pesantren yang pernah menjadi tempat menimba ilmu pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah tersebut:
- Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang
- Pondok Pesantren Rejoso, Jombang
- Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
- Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem
- Pembelajaran khusus kepada Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Makki di Mekkah
Perjalanan Organisasi dan Pengabdian di NU : Kiprah KH Miftachul Akhyar di jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama terbangun secara berjenjang dari tingkat cabang hingga pusat.
Pengalaman kepemimpinan di daerah menjadi modal pengabdian panjangnya dalam mengawal pergerakan jam’iyyah secara konsisten.
Dedikasi di tingkat Jawa Timur menghantarkannya menjadi salah satu figur penentu arah kebijakan keorganisasian.
Urutan pengabdian dan perjalanan karier organisasi beliau tercatat dalam tahapan berikut:
- Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya masa khidmah 2000-2005.
- Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode pada 2007-2013 dan 2013-2018.
- Wakil Rais Aam PBNU pada tahun 2015.
- Pejabat Sementara (Pj) Rais Aam PBNU pada tahun 2018 menggantikan KH Ma’ruf Amin.
- Rais Aam PBNU hasil Muktamar ke-34 Lampung periode 2021-2026.
- Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2020 hingga mengundurkan diri pada 2022.
- Kembali terpilih dalam Hasil Muktamar NU 2026 sebagai pimpinan puncak Syuriyah periode 2026-2031.
Keberlanjutan Pengabdian Pemimpin Terpilih : Terpilihnya kembali pengasuh pesantren Surabaya ini menjamin kesinambungan arah pembinaan keagamaan bagi warga nahdliyin.
Penetapan ini menegaskan soliditas dukungan pemegang hak suara terhadap integritas figur ulama pengayom umat.
Pengalaman kepemimpinan yang luas di tingkatan syuriyah membantunya mengawal keputusan-keputusan hukum Islam keorganisasian.
Sembilan ulama sepuh AHWA mempercayakan penuh kendali pembinaan syuriyah agar selaras dengan cita-cita para pendiri.
Karakter ulama yang tenang dan bersahaja menjadi alasan utama diterimanya penetapan ini oleh seluruh muktamirin.
Dinamika Forum Penjaringan Musyawarah AHWA : Mekanisme penentuan pimpinan tertinggi melalui forum AHWA kembali membuktikan keampuhannya dalam menjaga kedamaian muktamar.
Sistem perwakilan sembilan kiai sepuh terbukti mampu menghindarkan organisasi dari gesekan politik internal yang merugikan.
Musyawarah tertutup yang berlangsung secara khidmat mencerminkan budaya luhur pesantren dalam memilih pemimpin.
Keputusan mufakat yang dicapai di Tambakberas Jombang disambut rasa syukur oleh para utusan cabang seluruh Indonesia.
Muktamar pun berlanjut ke agenda penetapan penataan organisasi lainnya dengan suasana yang sangat kondusif.
Pembentukan Struktur Jajaran Tanfidziyah PBNU : Pasca penetapan pimpinan tertinggi syuriyah, perhatian peserta muktamar langsung beralih pada proses pemilihan jajaran pelaksana.
Tugas pertama pimpinan syuriyah terpilih bersama tim formatur adalah menyusun kepengurusan lengkap untuk lima tahun ke depan.
Sinergi antara jajaran syuriyah dan tanfidziyah menjadi agenda perbaikan penting yang disepakati bersama. Pihak pengurus wilayah dan cabang mengharapkan komposisi pengurus baru mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Penyusunan jajaran pengurus baru ditargetkan rampung sebelum penutupan resmi seluruh rangkaian kegiatan muktamar.
Harapan Warga Nahdliyin Kepada Pemimpin : Dukungan penuh mengalir dari segenap warga NU atas selesainya penetapan pimpinan tertinggi syuriyah di arena muktamar. Kepemimpinan KH Miftachul Akhyardiharapkan terus memperkokoh peran organisasi dalam menjaga benteng pertahanan keagamaan inklusif.
Keberadaan ulama kharismatik di pucuk pimpinan menjadi pilar ketenangan bagi umat dalam menghadapi arus pergeseran zaman.
Warga NU meyakini bahwa pengabdian ikhlas para masayikh akan selalu membawa keberkahan bagi perkembangan jam’iyyah.
Harapan besar bertumpu pada terwujudnya program-program keumatan yang makin menyentuh kebutuhan masyarakat bawah.
Komitmen Pembinaan Pesantren dan Umat : Kepemimpinan periode baru ini diyakini bakal memperkuat tradisi pembentukan karakter santri dan pengembangan pondok pesantren.
Jaringan pesantren yang tersebar luas membutuhkan arah kebijakan keulamaan yang tegas, terukur, serta penuh kedamaian.
Penyelarasan antara ajaran Islam yang ramah dan komitmen kebangsaan tetap menjadi fokus pengabdian jajaran Syuriyah PBNU. Kehadiran pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah ini memberikan jaminan atas terpeliharanya tradisi keilmuan Islam nusantara.
Program penguatan kapasitas keilmuan para dai dan ulama muda juga menjadi agenda prioritas kepemimpinan mendatang.
Penguatan Peran Organisasi di Dunia International : Tantangan kepemimpinan syuriyah ke depan tidak hanya terbatas pada pembinaan internal keumatan di dalam negeri.
PBNU di bawah pengawalan ulama senior dituntut makin aktif menyuarakan pesan perdamaian dunia di panggung global.
Pengalaman luas pimpinan terpilih menjadi modal berharga dalam membangun dialog antarperadaban secara santun.
Penguatan jaringan kerja sama keagamaan tingkat internasional akan terus dilanjutkan demi syiar Islam yang mengayomi.
Peran ini sejalan dengan mandat muktamar untuk terus menebarkan nilai-nilai Islam keadilan bagi seluruh alam.
Penutup Rangkaian Keputusan Forum Muktamar : Rangkaian acara pemilihan pimpinan tertinggi dalam arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama telah berjalan secara sukses. Kesepakatan mufakat yang dicapai oleh sembilan anggota AHWA di Jombang menjadi bukti matangnya sistem demokrasi khas keilmuan pesantren.
Penetapan Hasil Muktamar NU 2026 ini mengukuhkan kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU yang siap membimbing perjalanan organisasi keagamaan terbesar ini hingga lima tahun mendatang. *** GG




