Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

Film · 29 Nov 2025 23:03 WITA ·

Masayu Anastasia Bintangi Film Autopsy: Dead Body Can Talk, Kisah Nyata Dokter Forensik Polri


Foto : Aktris Anastasya Masayu Perbesar

Foto : Aktris Anastasya Masayu

Jakarta,Sulutnews.com — Film Autopsy: Dead Body Can Talk resmi diluncurkan pada Sabtu (29/11) di Gedung Bakti Dharma Waspada STIK Polri, Jakarta Selatan.

Film ini menghadirkan kisah perjalanan nyata seorang dokter forensik Polri yang dikenal luas di dunia penyidikan ilmiah, Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F.

Diproduksi oleh PT RINS Prime Entertainment bekerja sama dengan PT Karya Kreatif Utama, film ini menggabungkan pendekatan scientific crime investigation dengan pengalaman supranatural yang dialami sang dokter forensik sepanjang penanganan berbagai kasus kematian tidak wajar.

Autopsy: Dead Body Can Talk berkisah tentang Dr. Sumy Hastry—seorang dokter forensik yang tajam, tenang, dan berpengalaman menangani kasus-kasus pembunuhan viral di Indonesia. Dalam film ini, pengalaman empiris kedokteran forensik dipadukan dengan intuisi dan fenomena supranatural yang menjadi bagian perjalanan panjangnya.

Direktur PT RINS Prime Entertainment, Rina Laurentie Sindunata, menyebut film ini dibuat dengan tujuan menghibur sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya autopsi dalam pembuktian ilmiah sebuah tindak pidana.

Film ini diperankan oleh deretan aktor ternama, di antaranya Masayu Anastasia sebagai Dr. Sumy Hastry, Samuel Rizal, Ge Pamungkas, Rifnu Wakana, Ryuka Bunga, serta sejumlah aktor pendukung lainnya.

Dalam doorstop launching film, Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry mengaku tidak menyangka perjalanan kariernya akan diadaptasi menjadi film layar lebar.

“Pertama kali diberitahu Mbak Rina, saya kaget dan nggak percaya. Saya sering dipanggil podcast, tapi tidak pernah terpikirkan untuk difilmkan,” ujarnya.

Hastry juga mengungkap bahwa film ini merekam alasan awal dirinya memilih menjadi dokter spesialis forensik, sebuah langkah yang dulu dianggap tidak lazim bagi seorang polwan.

“Waktu itu belum ada dokter polisi wanita yang menjadi dokter forensik. Saya dianggap cewek aneh,” tuturnya sambil tersenyum.

“Tapi itu semua yang nanti diceritakan di film—perjalanan awal saya masuk dunia forensik sampai akhirnya belajar terus hingga S3.”

Hastry berharap film ini dapat membuka wawasan publik mengenai dunia forensik dan peran polisi dalam mengungkap kejahatan yang berkaitan dengan tubuh manusia.

“Harapan saya, film ini untuk edukasi. Masyarakat bisa tahu bahwa tugas polisi itu seperti ini—mengungkap kasus secara ilmiah, memburu pelaku, dan tidak pernah berhenti bekerja,” tegasnya.

Sementara itu, AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan, S.I.K., yang turut terlibat dalam proses produksi, menjelaskan pendekatan unik film ini sebagai horor forensik yang berakar dari kisah nyata.

“Film horor itu banyak, tapi kalau yang based on true event, itu lebih menggugah masyarakat,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa film ini menggunakan sudut pandang langsung dari pengalaman Dokter Hastry.

“Semua kita lihat dari POV beliau—ketika melihat jenazah, menemukan kasus, dan bagaimana beliau menyikapinya,” katanya.

Rina juga membahas tantangan teknis dalam penggarapan adegan-adegan forensik, mulai dari cara memotong tubuh hingga detail darah dalam berbagai kondisi.

“Kami ada training singkat tentang forensik. Ibu menyediakan konsultan yang membantu tim prostetik agar darahnya, cara memotongnya, semuanya akurat,” jelasnya.
“Supernatural yang muncul bukan dibuat-buat. Itu based on her story.”

Sinopsis film menggambarkan bagaimana seorang dokter forensik memadukan sains kedokteran forensik dengan intuisi yang tumbuh seiring panjangnya pengalaman—sebuah perjalanan yang menyibak sisi lain penyelidikan ilmiah.

Dalam cerita, tokoh pendukung seperti Mojo sang asisten, Yatna sang dokumentalis, serta penyidik Rendra turut memperkuat dinamika penyidikan yang mencampurkan realitas dan intuisi dalam mengungkap kebenaran. (*/Yayuk).

Artikel ini telah dibaca 1,257 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Perkuat Kepastian Hukum untuk Rumah Tinggal, Sekarang Masyarakat Bisa Tingkatkan Sertipikat HGB ke HM

18 Mei 2026 - 21:25 WITA

GAC Indonesia Hadirkan “Electrifying Kids Fashion Show” di Indomobil Expo 2026

16 Mei 2026 - 23:02 WITA

Ichsanuddin Noorsy : Realitas Pahit Kolonisasi Mental Penyebab Jatuhnya Rupiah

16 Mei 2026 - 21:15 WITA

Beda Fungsi dan Kegunaan, Pahami Perbedaan Layanan Pengecekan Sertipikat dan SKPT

15 Mei 2026 - 23:35 WITA

Ketum AMKI, Tundra Meliala : Ketika ‘Pesta Babi’ Menjadi Metafora Papua

14 Mei 2026 - 23:44 WITA

Media Benteng Utama Lawan Hoaks di Era Digital

14 Mei 2026 - 12:00 WITA

Trending di Jakarta