Tahuna, Sulutnew.com – Wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe 94 persen adalah laut dan masyarakat mayoritas adalah nelayan. Namun wilayah laut Sangihe malahan di kuasai oleh kapal tangkap dari luar Sangihe.
Terpantau kapal penangkap ikan tuna sering memasuki wilayah perairan Sangihe di kecamatan Kendahe dan wilayah perbatasan Kecamatan Nusa Tabukan dan Marore.
Hal itu pun dikeluhkan oleh masyarakat nelayan Sangihe, dimana mereka kalah fasilitas dengan kapal dari luar Sangihe. Satu kapal ikan dengan membawa perahu pakura berkisar sepuluh sampai lima belas unit. Dari informasi di peroleh media ini, rata-rata kapal ikan tersebut dalam sehari bisa menangkap puluhan ekor tuna.
Menyikapi hal itu, Penjabat Bupati Kepulauan Sangihe Rinny Silangen Tamuntuan (RST) akan melakukan koordinasi dengan pihak PSDKP Tahuna dan Lanal Tahuna untuk mencarikan solusi, sehingga masyarakat nelayan lokal tidak di rugikan akibat maraknya kapal dari luar Sangihe menangkap ikan di perairan Sangihe.
Lagi pula kata Bupati, kekayaan laut Sangihe seharusnya mendapatkan keuntungan bagi Sangihe bukan untuk daerah lain, “Nantinya kami akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait agar perairan Sangihe ini diutamakan bagi kesejahteraan masyarakat nelayan Sangihe, memang di wilayah laut Indonesia siapa saja bisa melakukan penangkapan ikan namun kita memiliki wilayah otonomi daerah jadi jangan sampai nelayan luar daerah malahan mendapatkan keuntungan sedangkan nelayan kita menderita kerugian” terang Bupati.
Saat ini, baik di wilayah Kecamatan Marore maupun Kendahe, apabila ada kapal ikan dari luar Sangihe, masyarakat langsung melakukan pengusiran, sebagai bentuk protes mereka atas kehadiran kapal ikan tersebut. (Andy Gansalangi)