Menu

Mode Gelap
Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek! Merah Putih Shooting Competition Digelar, Gubernur Optimistis Perbakin Bengkulu Raih Emas PON

Adat Budaya · 10 Okt 2024 22:16 WITA ·

Kolintang Menuju Warisan Budaya Tak Benda dari UNESCO


Kolintang Menuju Warisan Budaya Tak Benda dari UNESCO Perbesar

Jakarta,Sulutnews.com – Perjuangan mewujudkan kolintang sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) ke UNESCO semakin terang hasilnya.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) Indonesia, Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio saat peluncuran buku Kolintang The Sound of Heaven di Balai Pustaka, Jakarta, Kamis (10/10/2024).

“Buku ini merupakan rangkaian mempromosikan kolintang menuju UNESCO. Kita tidak pernah berhenti mempromosikan kolintang yang sudah diakui oleh Pemerintah Indonesia sebagai warisan budaya tak benda,” kata Prof Marsetio yang juga Kepala Staf Angkatan Laut periode 2012-2015.

Buku yang memuat perjalanan kolintang tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya mempopulerkan kolintang menuju WBTb.

Prof Marsetio juga menyebut, kolintang telah banyak melakukan kegiatan seperti kegiatan memperebutkan piala Presiden, piala Ibu Negara, dan piala menteri.

Dia juga mengatakan, kolintang menjadi alat diplomasi budaya Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) serta kolaborasi kolintang dengan alat musik balafon di Afrika.

“Ini adalah bukti bahwa kolintang telah mendunia,” kata Prof Marsetio yang juga Penasihat Khusus Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bidang Keamanan dan Pertahanan Maritim.

Sementara itu, ketua umum Pinkan Indonesia, Ny Penny Iriana Marsetio dalam wawancara mengatakan, buku tersebut ditulis untuk melengkapi salah satu persyaratan menuju pengajuan kolintang ke UNESCO sebagai WBTb.

Dia berharap, Desember 2024 pengajuan ke UNESCO telah ada hasilnya.

“Harapannya tahun ini, Desember 2024,” kata Ny. Penny Marsetio.

Buku setebal 152 halaman tersebut ditulis oleh Luddy Wullur dan Lidya Katuuk, seniman kolintang dari Minahasa yang sudah berpengalaman bermain kolintang pada berbagai kegiatan nasional maupun internasional.

Buku dengan editor Prof. Dr. Rajab Ritonga, Guru Besar Universitas Gunadarma Jakarta diterbitkan oleh penerbit Buku Indo Maritim Media. (*/Merson)

Artikel ini telah dibaca 1,213 kali

Baca Lainnya

Salud!!! Punguan Ompu Huta Batu Hidup Kembali Dengan Bernuansa Se-Indonesia

19 Januari 2026 - 22:12 WITA

Trump dan Ilusi Polisi Dunia

19 Januari 2026 - 21:18 WITA

Mendukung Kerja Nyata Kepala BNN Bongkar Penyalahgunaan Vape Narkoba Cair Jaringan Global

19 Januari 2026 - 21:05 WITA

Pianis dan Komponis Indonesia Dwiki Dharmawan Persembahkan Anagnorisis, Medium Dialog dan Diplomasi Budaya

19 Januari 2026 - 18:20 WITA

Banjir di Rote Timur Sudah Ada Sebelum Pembangunan Tambak Garam, Dampak Positif Industri Didukung Masyarakat

19 Januari 2026 - 15:49 WITA

Bantuan CSR Pemprov NTT Dorong Pembangunan Gedung Ibadah di Rote Ndao

19 Januari 2026 - 12:56 WITA

Trending di Adat Budaya
error: Content is protected !!