Menu

Mode Gelap
Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix

Jakarta · 20 Mar 2026 16:20 WITA ·

Ketum AMKI, Tundra Meliala: Kemenangan untuk Memulihkan Keberanian


Foto : Tundra Meliala
Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat Perbesar

Foto : Tundra Meliala Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat

Jakarta,Sulutnews.com – Di bulan puasa tahun ini, suasana batin publik seperti digulung gelombang yang tak kunjung reda. Dari dalam negeri, isu ekonomi, hukum, hingga kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menyita perhatian. Dari luar, bayang-bayang konflik global, termasuk eskalasi ketegangan Iran–Amerika Serikat, menghadirkan kecemasan baru. Dunia terasa gaduh, sementara ruang batin kian sesak.

Kita berpuasa dalam lanskap krisis yang bertumpuk. Dan di tengah itu, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: apakah masyarakat Indonesia mulai terbiasa, atau bahkan kebal, terhadap tekanan yang terus-menerus?

Data memberi petunjuk awal. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2024 berada di angka 9,03 persen. Sementara itu, rasio Gini, indikator ketimpangan, bertengger di kisaran 0,38 pada 2023. Angka-angka ini tidak ekstrem, tetapi cukup menunjukkan bahwa jurang sosial tetap terbuka lebar. Di kota-kota besar, tekanan justru terasa lebih tajam: biaya hidup meningkat, akses perumahan kian sulit, dan pekerjaan formal tak selalu tersedia.

Dalam situasi seperti itu, problem bukan sekadar kekurangan, melainkan kelelahan kolektif.

Kita menyaksikan pasangan muda yang menunda membeli rumah karena harga tak terjangkau. Mereka yang bekerja keras tetap merasa jauh dari rasa aman ekonomi. Sementara di sektor hukum, kepercayaan publik acap terguncang oleh kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan aparat penegak hukum sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan sikap apatis: bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa tak berdaya.

Di titik inilah, “kebal” menjadi kata kunci. Kebal bukan berarti kuat. Ia bisa berarti mati rasa.

Fenomena ini tampak dalam keseharian. Banyak orang memilih diam saat menghadapi ketidakadilan. Bukan karena setuju, tetapi karena lelah melawan sistem yang terasa tak berubah. Aspirasi publik seperti teredam oleh realitas bahwa suara individu jarang berdampak signifikan.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini sering disebut sebagai learned helplessness, ketika individu merasa upaya apa pun tidak akan mengubah keadaan, sehingga memilih berhenti mencoba. Dalam konteks Indonesia, gejala ini menemukan bentuknya dalam sikap “yang penting bertahan”.

Puasa, dalam situasi seperti ini, menemukan makna baru. Ia tidak lagi semata ritual spiritual, melainkan mekanisme bertahan hidup.

Menahan lapar dan haus menjadi simbol yang lebih luas: menahan amarah terhadap ketidakadilan, menahan kekecewaan terhadap negara, bahkan menahan keputusasaan terhadap masa depan. Puasa menjadi latihan diam dan, dalam batas tertentu, legitimasi untuk diam.

Idul Fitri, yang secara teologis dimaknai sebagai kemenangan, pun mengalami pergeseran dalam penerapan. Kemenangan itu tidak lagi tentang menaklukkan hawa nafsu semata, melainkan tentang keberhasilan bertahan melewati tekanan hidup yang tak kunjung reda.

Kita merayakan bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena kita masih sanggup berdiri.

Lebaran, dengan simbol kemenangan dan kembali ke fitrah, memang tidak boleh dimaknai sebagai garis akhir dari perjuangan batin, melainkan titik awal untuk memulihkan keberanian.

Kemenangan sejati bukan hanya soal berhasil bertahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap peduli, dan, ketika perlu, berani bersuara.

Sebab, sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena krisis yang bertubi-tubi. Ia runtuh ketika warganya berhenti percaya bahwa keadaan bisa diubah.

Dan mungkin, di tengah segala tekanan ini, tantangan terbesar kita bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menjaga agar hati tidak benar-benar menjadi kebal. (*/Merson)

Artikel ini telah dibaca 998 kali

Baca Lainnya

Kadensus 88: Perlindungan Anak dan Literasi Digital Jadi Kunci Hadapi Dinamika Era Digital

21 Mei 2026 - 23:56 WITA

Menteri ATR/BPN Serahkan Sertipikat Hak Pakai untuk Lemhannas RI Perkuat Kepastian Hukum Aset Negara

21 Mei 2026 - 23:33 WITA

Caroll-Sendy Temui Menteri PU Ajukan Proposal Dukungan Pembangunan Infrastruktur di Kota Tomohon

19 Mei 2026 - 23:35 WITA

PWI Pusat Tetapkan Susunan Pengurus Baru, Marthen Selamet Susanto Jabat Sekjen dan Bendum Diisi Rajasa Ginting

19 Mei 2026 - 19:38 WITA

Perkuat Kepastian Hukum untuk Rumah Tinggal, Sekarang Masyarakat Bisa Tingkatkan Sertipikat HGB ke HM

18 Mei 2026 - 21:25 WITA

Pembubaran Nobar Pesta Babi dan Rapuhnya Demokrasi Indonesia Pasca-Reformasi Pengantar

17 Mei 2026 - 23:49 WITA

Trending di Opini