Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Adat Budaya · 30 Des 2025 17:16 WITA ·

Irama Siau: Musik yang Menyimpan Cerita Leluhur


Ditafiany Amisya Dumendehe. Perbesar

Ditafiany Amisya Dumendehe.

Oleh: Ditafiany Amisya Dumendehe

(Mahasiswi IAKN Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan)

 

Pulau Siau di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan lautnya. Pulau kecil ini juga menyimpan warisan budaya yang hidup dan terus berdetak melalui musik tradisional. Bagi masyarakat Siau, musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pewarisan nilai, identitas, dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun.

Dalam setiap bunyi dan irama, musik tradisional Siau merekam perjalanan hidup masyarakat pulau. Ia menjadi penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan cerita leluhur dari generasi ke generasi.

Irama musik Siau dikenal sederhana namun kuat secara ritmis. Pola-pola yang berulang mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir yang dekat dengan siklus alam, seperti pasang surut laut, musim melaut, serta ritme kerja dan perayaan bersama.

Musik ini hadir dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari upacara syukur, pernikahan, penyambutan tamu, hingga ritual yang bersifat sakral.

Alat musik tradisional seperti tetengkoren (gong) dan fu—alat tiup yang terbuat dari bambu atau kulit kerang—menjadi unsur penting dalam membangun suasana musikal. Bunyi gong yang bergema melambangkan kebersamaan dan kekuatan kolektif, sementara suara fu terdengar seperti panggilan alam, seakan menghubungkan dunia manusia dengan roh leluhur.

Lebih dari sekadar bunyi, setiap irama menyimpan narasi. Pola ritme tertentu dipercaya menggambarkan perjalanan leluhur, perjuangan hidup di pulau kecil, serta nilai-nilai seperti gotong royong, keberanian, dan penghormatan terhadap alam.

Musik menjadi “bahasa” yang menyampaikan pesan moral tanpa harus diucapkan dengan kata-kata. Dalam konteks ini, musik berfungsi sebagai arsip budaya lisan. Ketika para tetua mengajarkan irama kepada generasi muda, yang diwariskan bukan hanya teknik bermain, tetapi juga sejarah dan jati diri sebagai orang Siau. Proses ini biasanya berlangsung secara langsung dalam lingkungan keluarga atau komunitas adat, melalui praktik bersama yang sarat makna.

Kearifan lokal Pulau Siau tercermin jelas dalam struktur musiknya. Kesederhanaan alat musik dan pola irama menunjukkan sikap hidup yang selaras dengan alam serta menjunjung tinggi kebersamaan. Tidak ada instrumen yang mendominasi; semuanya saling melengkapi, sebagaimana masyarakat pulau yang hidup dalam saling ketergantungan.

 

Musik tradisional Siau juga memiliki dimensi spiritual. Dalam tradisi tertentu, irama dipercaya membawa doa dan harapan kepada Tuhan maupun leluhur. Karena itu, musik dimainkan dengan penuh rasa hormat dan tidak sembarangan, terutama dalam konteks adat dan ritual sakral.

Namun, di tengah arus globalisasi dan dominasi musik modern, musik tradisional Siau menghadapi tantangan keberlanjutan. Keterlibatan generasi muda dalam praktik musik adat semakin berkurang. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian mulai dilakukan, seperti pengenalan musik tradisional di sekolah, kegiatan sanggar seni, serta penampilan dalam festival budaya daerah.

Pelestarian musik Siau bukan hanya soal menjaga bunyi dan irama, tetapi juga mempertahankan nilai dan cerita yang terkandung di dalamnya. Selama musik tradisional terus dimainkan dan dipahami maknanya, cerita leluhur akan tetap hidup di tengah masyarakat.

Irama Siau menjadi cermin kearifan pulau yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika musik menjadi cerita leluhur, setiap bunyi yang terdengar bukan sekadar nada, melainkan pesan kehidupan yang terus bergema dari generasi ke generasi.(***)

 

Artikel ini telah dibaca 1,272 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Forward Sulut Ngopi Bareng Pimpinan dan Anggota DPRD Sulut

29 Juli 2026 - 10:18 WITA

Retrubusi 63 Blok Pertambangan Rakyat Sulut Mencapai Rp.5 Triliun. Hendry Walukow Segera Ditindak Lanjuti

29 Juli 2026 - 10:07 WITA

Gereja Advent di Manado Berikan Penghiburan Atas Meninggalnya Almarhumah Arlin Syarif Rumegang

28 Juli 2026 - 20:48 WITA

Banggar DPRD Sulut Tolak DPM Rp 30 Miliar Untuk PT BSG

28 Juli 2026 - 12:40 WITA

Kepala BPMP Sulut Febry Dien : Kemendikdasmen Tetapkan Kepsek SMA Negeri 1 Tomohon Maria Walukow Menjadi Kepsek SNT di Minut Sulut

28 Juli 2026 - 12:07 WITA

Richard Sualang Hadir Peringati Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996

28 Juli 2026 - 12:01 WITA

Trending di Manado