Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News : Polnustar Kembali Mewisuda 136 Mahasiswa Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau

Bisnis · 28 Sep 2026 16:16 WITA ·

Bitcoin Bisa Lanjut Naik di Oktober? Ini Katalis yang Perlu Dicermati


Bitcoin Bisa Lanjut Naik di Oktober? Ini Katalis yang Perlu Dicermati Perbesar

Jakarta, 28 September 2026 – Bitcoin (BTC) memasuki penghujung September dengan momentum yang masih relatif kuat setelah reli dalam beberapa pekan terakhir. Namun, pergerakan menuju Oktober diperkirakan tidak akan sepenuhnya mulus, dengan area US$82.900–US$83.000 menjadi salah satu level penting yang dapat menentukan apakah reli berlanjut atau pasar memasuki fase koreksi.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (28/9), Bitcoin diperdagangkan sekitar US$83.400, turun sekitar 1,2% dalam 24 jam. Meski terkoreksi secara harian, BTC masih menguat sekitar 7,5% dalam 30 hari terakhir.

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai Bitcoin memasuki Oktober dalam posisi yang lebih kuat dibanding beberapa bulan sebelumnya, tetapi investor perlu memperhatikan kemampuan harga mempertahankan area support terdekat.

“Setelah reli yang cukup kuat, konsolidasi atau koreksi jangka pendek merupakan bagian yang wajar dari pergerakan pasar. Area US$83.000 menjadi menarik untuk diperhatikan. Selama Bitcoin mampu bertahan di sekitar level tersebut, struktur kenaikan jangka pendek masih relatif terjaga dan peluang untuk kembali menguji level yang lebih tinggi tetap terbuka,” ungkap Yudho.

US$83.000 Jadi Level Kunci

Secara teknikal, area US$82.900–US$83.000 dipandang sebagai support penting memasuki Oktober. Selama area tersebut bertahan, Bitcoin masih berpeluang kembali menguji US$88.600 hingga US$92.200.

Sebaliknya, penurunan yang konsisten di bawah US$83.000 dapat membuka ruang koreksi menuju sekitar US$81.600, sebelum area rata-rata 50 pekan di kisaran US$78.700 kembali menjadi perhatian.

Yudho menilai koreksi tidak selalu berarti berakhirnya tren naik. Setelah kenaikan yang cepat, pasar justru membutuhkan periode konsolidasi untuk mengurangi leverage dan membentuk basis harga yang lebih sehat.

“Perlu dibedakan adalah koreksi normal dan perubahan tren. Penurunan singkat di bawah US$83.000 belum otomatis mengubah outlook menjadi bearish. Namun, jika harga gagal kembali ke area tersebut dan tekanan jual meningkat, pasar perlu mulai memperhitungkan kemungkinan konsolidasi yang lebih dalam,” jelas Yudho.

Dana Institusi Masih Mengalir Deras

Salah satu faktor yang masih menopang prospek Bitcoin adalah permintaan dari investor institusional.

ETF Bitcoin di Amerika Serikat mencatat net inflow sekitar US$2,4 miliar sepanjang pekan yang berakhir 25 September, menjadi inflow mingguan terbesar sejak Oktober 2025. Arus dana tersebut bahkan membuat posisi net flow ETF Bitcoin sepanjang 2026 kembali positif.

BlackRock IBIT menjadi kontributor terbesar dengan sekitar US$1,2 miliar inflow selama sepekan, diikuti Fidelity FBTC sekitar US$701,7 juta. Secara keseluruhan, spot Bitcoin ETF mencatat tujuh hari perdagangan berturut-turut dengan arus masuk positif hingga 25 September.

“Arus dana ETF memberikan sinyal bahwa demand institusional masih menjadi salah satu fondasi penting dalam pemulihan Bitcoin. Akan lebih konstruktif lagi apabila inflow tetap bertahan ketika harga bergerak sideways atau mengalami koreksi, karena itu menunjukkan investor tidak sekadar mengejar momentum kenaikan,” kata Yudho.

Bitcoin sebelumnya sempat menembus US$86.000 dan menyentuh level tertinggi dalam delapan bulan pada pekan lalu, bahkan setelah The Fed menaikkan suku bunga. Reli tersebut antara lain didukung arus dana ETF, short covering, serta membaiknya sentimen terhadap aset berisiko.

Oktober Punya Sejumlah Katalis Besar

Meski faktor teknikal dan institusional masih mendukung, arah Bitcoin pada Oktober tetap berpotensi ditentukan oleh kondisi makro AS.

The Fed pada 16 September telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%, dengan alasan inflasi masih berada pada level yang tinggi.

Selanjutnya, pasar kripto akan menghadapi laporan tenaga kerja AS untuk September pada 2 Oktober, disusul rilis risalah FOMC pada 7 Oktober dan data inflasi konsumen atau CPI pada 14 Oktober. The Fed kemudian kembali menggelar pertemuan kebijakan pada 27–28 Oktober.

Menurut Yudho, kombinasi data tersebut membuat Oktober berpotensi tetap menjadi bulan dengan volatilitas tinggi.

“Pasar saat ini sudah melewati satu kenaikan suku bunga, tetapi pertanyaan berikutnya adalah apakah The Fed masih perlu mempertahankan sikap agresif. Data tenaga kerja dan inflasi Oktober akan sangat menentukan ekspektasi tersebut. Jika tekanan inflasi mulai mereda tanpa pelemahan ekonomi yang tajam, kondisi itu dapat memberikan ruang lebih baik bagi aset berisiko termasuk Bitcoin,” terangnya.

Di sisi lain, inflasi yang kembali meningkat atau sinyal pengetatan lebih lanjut dari The Fed dapat mendorong yield obligasi AS naik dan membuat investor kembali lebih defensif.

Peluang Reli Masih Terbuka, tapi Waspadai Koreksi

FLOQ melihat prospek Bitcoin memasuki Oktober masih konstruktif selama harga mampu menjaga struktur support utama dan permintaan institusional tetap kuat.

Area US$83.000 menjadi level pertama yang perlu dipertahankan. Jika Bitcoin kembali mendapatkan momentum dan menembus resistance berikutnya, area US$88.600–US$92.200 dapat menjadi zona yang kembali diperhatikan pasar.

Namun, skenario koreksi tetap perlu diperhitungkan, terutama setelah kenaikan kuat sejak Agustus. Penembusan support secara berkelanjutan dapat membawa Bitcoin menuju US$81.600 hingga area US$78.700 sebelum pembeli kembali menguji kekuatan pasar.

“Outlook Oktober menurut kami bukan soal apakah Bitcoin harus terus naik tanpa koreksi. Yang lebih penting adalah apakah setiap koreksi masih direspons oleh permintaan spot dan institusional. Selama struktur tersebut terjaga, peluang melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka. Tetapi investor tetap perlu disiplin karena volatilitas berpotensi meningkat menjelang data inflasi dan pertemuan The Fed berikutnya,” tutup Yudho.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dukung Agenda Literasi OJK, Prudential Syariah Ajak Mahasiswa Rancang Strategi Perluas Akses Asuransi Syariah

28 September 2026 - 18:40 WITA

OSL Indonesia Resmikan Kantor Baru, Perkuat Komitmen Kepatuhan Berstandar Global di Indonesia

28 September 2026 - 18:12 WITA

Hisense Hadirkan Direct Service Center di Jakarta Barat untuk Layanan Purna Jual yang Lebih Dekat

28 September 2026 - 17:54 WITA

Diwali Bazaar 2026 Jadi Ruang Temu Budaya, UMKM, dan Gaya Hidup India di Jakarta

28 September 2026 - 17:52 WITA

Jawab Tantangan Dinamika Ekonomi Global, BINUS @Medan Luncurkan Joint Degree Digital Business Bersama Asia University Taiwan

28 September 2026 - 17:25 WITA

Intrusion Detection System Drone: Alarm Terpicu, Drone Terbang Otomatis untuk Verifikasi Ancaman

28 September 2026 - 17:15 WITA

Trending di Bisnis